<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rustikaherlambang's Weblog</title>
	<atom:link href="http://rustikaherlambang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com</link>
	<description>sebuah narasi tak tercatat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 15:51:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rustikaherlambang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rustikaherlambang's Weblog</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rustikaherlambang.wordpress.com/osd.xml" title="Rustikaherlambang&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rustikaherlambang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Waldjinah</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2012/01/04/waldjinah/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2012/01/04/waldjinah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 23:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta....]]></category>
		<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil wanita]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Avantie]]></category>
		<category><![CDATA[erwin gutawa]]></category>
		<category><![CDATA[Keroncong]]></category>
		<category><![CDATA[keroncong indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[langgam jawa]]></category>
		<category><![CDATA[legendaris]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[Waldjinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1272</guid>
		<description><![CDATA[Bahkan sebuah keberuntungan tidak instan. Ada perjalanan panjang yang telah menyertainya jauh-jauh hari ke belakang<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1272&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Gincu Merah Waldjinah</h2>
<blockquote><p>Bahkan sebuah keberuntungan tidak instan. Ada perjalanan panjang yang telah menyertainya jauh-jauh hari ke belakang</p>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2012/01/img_2572.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1274" title="waldjinah" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2012/01/img_2572.jpg?w=300&#038;h=225" alt="waldjinah" width="300" height="225" /></a></p></blockquote>
<p>Waldjinah tak pernah berubah. Ia masih terlihat kenes dalam balutan kebaya kutu baru dan sanggulnya. Polesan kosmetik masih saja menunjukkan pamornya yang demikian kuat. Hingga kini nama dan citranya masih tetap sama: Ratu Keroncong Indonesia. Sulit untuk memunculkan nama yang bisa menyamai popularitasnya dalam dunia keroncong dan langgam di Indonesia. Nama Waldjinah selalu disebut yang pertama. Selalu. Meski dekade demi dekade telah berlalu.</p>
<p>Dalam beberapa pertemuan, dan khususnya ketika ia mengisi sesi pergelaran Anne Avantie di Kraton Susuhunan Solo akhir Mei lalu, suara dan penampilannya masih tetap juara. Bila berubah hanyalah petanda usia. Ia tetap ramah dan rendah hati kendati bintangnya sudah terang sedemikian lama dan abadi. Saat ditemui di kediamannya di Solo, ia sudah berdandan seperti siap pentas, meski menggunakan daster kesayangan, seolah menegaskan bahwa gaya dandanan itulah ikon dirinya.<span id="more-1272"></span></p>
<p>Pengamat budaya, Remi Silado, menandaskan keberadaan Waldjinah. Banyak orang yang bisa menyanyi bagus, tapi untuk menjadi yang terpilih dan bertahan lama, bisa dihitung jari. Waldjinah salah satunya. “Selain karena faktor keberuntungan dan dicintai <em>Gusti Allah</em>, dia adalah orang yang setia pada keroncong dan langgam Jawa, dengan gaya dan pilihan <em>genre</em>-nya sendiri,”ujar Remi.</p>
<p>Faktor keberuntungan! Bahkan sebuah perdebatan mengenai fenomena Waldjinah yang ditulis dalam majalah Tempo edisi Juli 1972 pun mengetengahkan hal serupa. “<em>Untuk ketenarannya yang tak perlu diragukan, suaranya baik, meski bukan tak ada tandingannya, bahkan banyak yang menyamai…,” tutur Gesang…..Namun rupa-rupanya ciri khas si We – panggilan untuk Waldjinah – memegang peranan utama dalam soal ini. Kalau tidak demikian.. apa lagi?”</em> Hampir empat puluh tahun dari masa perbincangan itu, We masih pentas dengan Erwin Gutawa, Edo Kondologit, dan legendaris Chrisye.</p>
<p>Namun bila mendengar kisah yang senantiasa disampaikan dengan senyuman yang  membayangi wajah, apakah pendapat ini akan tetap bertahan?</p>
<p>Enam puluh delapan tahun lalu, seorang perempuan kuat yang bahkan anaknya pun tak ingat namanya <em>(belakangan baru diingat, namanya Kamini)</em>, melahirkan ia, bungsu dari 10 bersaudara. Perempuan yang disebut Ibu oleh We adalah pedagang sayur yang dengan jiwa besar menikahkan sang suami pada istri keduanya, pada saat beranak tujuh, dan setelah itu sendirian membiayai seluruh kehidupan anak-anaknya dengan berjualan sayur di perempatan jalan kampung. Ayah We adalah seorang buruh batik yang banyak digandrungi perempuan karena suara emasnya, hampir tak mengakui We sebagai anaknya. “Total saudara saya ada 18,” katanya, 8 di antaranya adalah saudara tiri.</p>
<p>Meski hidup dimadu, ujar We, ibunya tidak pernah terlarut dalam kesedihan dan kemiskinan. “Saya tahu hatinya remuk, tapi dia tetap menikmati kehidupan. Saya diajak nonton ketoprak di Balekambang. Sambil digendong, saya diajak <em>botohan</em> (taruhan). Kalau saya ikut, Ibu sering menang (taruhan),” ungkapnya gembira. Setiap menjelang tidur, ibunya selalu mengidungkan <em>dandanggula</em> (<em>tembang macapat yang bermakna sebagai sebuah pengharapan yang manis. Dandang gulo = tempat gula</em>). Di keluarga, We dianggap pembawa keberuntungan dan dilimpahi kasih sayang kakak-kakaknya. “Kalau kakak mau dagang di pasar, mereka harus selalu ketemu saya dan minta didoakan.”</p>
<p>Ia masuk dalam dunia keroncong dan langgam tanpa sengaja. Saat sedang menyanyi di kamar mandi, kakak kandungnya, Munadi terhenyak, mendengar cengkok langgamnya. Sejak peristiwa itu, sang kakak yang juga penyanyi keroncong mengajarinya dengan galak, tegas, dan disiplin. Karena latihan dilakukan pada malam hari, orang tuanya melarang We yang waktu itu masih berumur 9 tahun. “Akhirnya saya sembunyi-sembunyi kalau latihan. Melompat dari jendela dan digendong kakak,”ujarnya tertawa. Perjuangan itu mencapai puncaknya ketika ia memenangkan kompetisi keroncong bergengsi Ratu Kembang Kacang 1958. Dan kemenangan ini membawa perubahan besar dalam hidupnya: kesempatan rekaman, pentas ke berbagai daerah di Indonesia, hingga Suriname, Belanda, dan Jepang. Akibatnya, sekolahnya kandas hingga kelas 2 SMP.</p>
<p>Namun kepopuleran seperti sekeping mata uang. Di satu sisi menaikkan derajat perekonomian keluarga; bisa membiayai sekolah kakak-kakaknya dan meminta ibunya berhenti bekerja. Di sisi lain, ia dipandang sebelah mata sebagai penghibur dan ditonton banyak orang. Kondisi terakhir ini memengaruhi perjalanan cinta dengan seorang guru SMP, anak walikota Pekalongan, yang jelas dari kubu yang berbeda. Priyayi dan rakyat jelata. Pegawai tinggi dan penyanyi. “Suamiku nekat, kami menikah, walau dia dikeluarkan dari keluarganya,” tutur We yang menikah pada usia 15 tahun, lalu memiliki 5 anak. Namun ia segera berdamai dengan seluruh keluarga setelah melahirkan anak pertama.</p>
<p>Bersama suami, Sulis Budi, ia mendirikan kelompok musik keroncong bernama Bintang Surakarta, yang pamornya tak pernah surut kendati, seperti diungkapkan Remi, tahun 1969-1974 Indonesia dibanjiri dengan musik-musik <em>underground</em> (musik-musik baru seperti rock), sehingga keroncong mandeg. Ia banyak bekerja sama dengan para pencipta lagu seperti Gesang, Sapari, dan Andjar Any sehingga terpercik kabar bahwa lagu-lagu tersebut bagaikan dibuat spesial hanya untuk We! Sementara itu, untuk menjaga karier dan terutama nama baik We, sang suami berkorban tidak lagi bekerja kecuali menjadi manager untuk istrinya.</p>
<p>Ia menyadari bahwa dunia kesenian yang terus bergerak itu banyak menyimpan kekhawatiran. Seperti ia sampaikan pada anak-anaknya, hidup di dunia seni ibarat mengharapkan tetes embun. Kalau laku bagus, kalau tidak, pasti akan sangat menyakitkan. Untuk itulah ia diam-diam melakukan berbagai upaya yang tiada putus-putusnya agar kariernya selalu terang. “Saya jaga suara dan penampilan. Harus selalu cantik. Semua saya perhitungkan. <em>Madol</em> (menjual) itu harus mengikuti zaman,” ungkapnya.</p>
<p>Untuk menjaga suara, ia menghindari makanan yang digoreng dan semangka, rajin berpuasa, melakukan <em>melek bengi</em> (bangun dan terjaga pada malam hari, berjalan ke luar rumah tanpa alas kaki), dan pada pukul dua dini hari berdoa agar diberi kekuatan dan kesehatan. Dia juga selalu menjaga tubuh dan menyempurnakan penampilan panggungnya: kebaya kutubaru, sanggul modern, dan riasan kosmetik untuk panggung. “Saya tidak pernah mau dirias orang lain. Setiap mengusapkan bedak di wajah, saya selalu baca alfatihah,” ungkapnya. Di sisi lain, bersama Bintang Keroncong ia melakukan transformasi musik keroncong yang sebelumnya dikenal bergaya lambat menjadi lebih ritmis. Ia menyebutnya lebih kencring.</p>
<p>Sepanjang 1958-1995 ia sudah merekam lebih dari 1600 lagu. Ia memutuskan berhenti kala mengetahui ada yang janggal pada industri rekaman yang menduplikasi kaset-kaset dalam bentuk <em>compact</em> (CD) dan tak sepeserpun mendapat <em>royalty</em>. “Saya selalu bersyukur karena tanpa rekaman pun undangan menyanyi masih terus mengalir,” ucapnya.</p>
<p>Kariernya yang sepertinya terang terus ini sebenarnya banyak menyimpan kisah sedih. Cerita tentang orang yang tak menyukainya hingga dilempar sandal diterimanya sebagai hal yang biasa. “Saya tidak memperlihatkan bahwa saya pinter, ngetop. Semua dirangkul. Saya sholat kalau ada yang tidak suka sama saya. Tapi yang pasti dalam diri saya selalu tak ada perasaan kalau saya dibenci oleh orang lain,” katanya sembari menambahkan bahwa aura keikhlasan itu akan terpancar di wajah. Ia menyebutnya pamor. “Jadi kesuksesan saya bukan karena susuk. Tapi karena kosmetik. <em>Dandan</em>. Dari dalam.”</p>
<p>Baginya, peristiwa terberat dalam hidupnya terjadi ketika anak satu-satunya perempuan, yang menuruni suara emasnya, meninggal dunia. Kejadian yang amat mendadak ini sempat memukul perasaannya sehingga ia mengurung diri, tak mau menyanyi lagi. Kesedihan itu masih terpahat saat ia mengisahkan. Air mata yang menggenang langsung diusapnya dengan cepat. “Suaranya bagus banget. Mungkin hidupnya dia yang pendek untuk menyambung kehidupan saya…”</p>
<p>Kesadaran itu pulih saat keempat anak lainnya yang masih kecil-kecil merangkul. ”<em>Kalau Ibu nggak mau nyanyi lagi, siapa yang akan menghidupi kami?,</em>”ia menirukan pernyataan yang amat memukul jiwa. Selama ini, padanyalah seluruh keluarga besar sejumlah 32 orang menyandarkan hidup padanya. “Saya senang bisa menghidupi orang lain, baik dari urusan sekolah sampai ngunduh mantu, karena saya diberi keistimewaan luar biasa oleh Yang di Atas,” ujarnya.</p>
<p>Anak ketiga We, Erlangga Tri Putranto, mengisahkan berbagai masa sulit kehidupan sebagai seorang penyanyi yang dilewati We dengan penuh ketegaran. Pertama ketika kontrak di LCC Night Club, Surabaya, yang selama ini menjadi andalan tiba-tiba diputus di tahun 1975. “Akhirnya dengan upaya keras Ibu mampu kembali membuka jaringan baru hingga akhirnya bisa rekaman lagi,”ujar Erlangga. Delapan tahun kemudian, We mengalami masa surut nyanyi sehingga sang suami terpaksa bekerja sebagai supir travel. “Namun pengalaman yang paling menyentuh adalah ketika Ibu yang saat itu sedang sepi order rela menjual gelang-gelangnya untuk membiayai kuliah saya,” ungkap Erlangga, kini Direktur Utama PT Phapros Indonesia.</p>
<p>“Masa terberat lainnya adalah ketika saya memutuskan untuk menikah lagi, setelah suami meninggal karena sakit,” kata we yang pernah merasakan sulitnya seorang janda menjadi penyanyi, sementara masih banyak keluarga menyandarkan diri padanya. “Sepanjang hidup saya tidak memikirkan diri sendiri, itu benar. Bagi saya membuat orang lain bahagia merupakan kebahagiaan buat saya..” dan baginya menjadi penyanyi menjadi saluran ekspresi yang paling tepat. “Menjadi penyanyi, menjadi penghibur. Menghibur itu membuat saya hidup. Dengan menyanyi saya bisa mengisi jiwa. Jiwa saya akan ikut gembira, dan itulah kebahagiaan yang luar biasa. Mengisi hati, padahal hatiku sedih….” Istri Hadiyanto ini lalu tersenyum.</p>
<p>Walau perasaannya sakit, ia harus tetap bersikap profesional. “Setiap lagu harus diresapi,” ujar We yang punya penampilan panggung dan penghayatan yang baik terhadap setiap lagu yang dinyanyikan, sehingga kadang terasa kabur batasan antara ekspresi diri dengan sosok dalam lagu tersebut. Ia yang selalu menghibur orang lain ini rupanya sedang menghibur dirinya sendiri dengan berbagai lagu yang dinyanyikannya. Lalu ia bercerita tentang hati dan jiwanya yang remuk karena berbagai persoalan yang tak semestinya diungkap dalam artikel ini. Ia selalu tersenyum. “Jadi senyum palsu ya…,”ia tertawa.</p>
<p>”Aji pura-pura …seolah selalu bahagia.. padahal hati sedang remuk redam,” katanya. Dalam kehidupan panggung seperti yang dilaluinya ia bilang harus pura-pura selalu. Selalu pura-pura, hanya di permukaan saja. Ia tidak mau memperlihatkan ke publik tentang masalah yang mungkin terjadi pada dirinya. “Alhamdulilan dengan situasi ini saya tidak ada gossip. Karena saya meniti dari nol sampai terkenal, jangan sampai ada cacat.” Lalu bagaimana dengan aji jinak-jinak Merpati? We tersenyum. “Itu salah satu kunci kesuksesan saya. Harus begitu. Saya sangat hati-hati, disiplin, dan menjaga hubungan dengan penggemar.”</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, ia diminta oleh berbagai grup keroncong untuk menjadi Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri). Setelah diangkat, ia langsung mengadakan tur bersama ke-12 anggota tersebut bergantian, dan akhirnya mendapat slot di televisi lokal. “Yah begitulah, saya turun ke bawah, dan bersama-sama menghidupkan keroncong,”tuturnya. September lalu, Hamkri berhasil menyelenggarakan Solo International Keroncong Festival, dan mengundang penyanyi-penyanyi dari manca negara seperti Australia, Italia, Hongaria, dan Jepang.</p>
<p>Segala hal yang telah dilakukannya seolah mempertanyakan kembali sebuah pernyataan yang pernah dilontarkan oleh seniman Rendra dalam sebuah ceramah di ASKI akhir tahun 1960-an. &#8220;<em>Kesenian Waldjinah adalah kesenian gintju, tjuma kulit luar melulu</em>!&#8221;. Kesenian gincu itu ternyata berlanjut sedemikian panjang dalam sejarah. Hingga kini, Waldjinah masih tetap terdepan. Ia tidak egois, bahkan terus membina generasi baru di garasi rumahnya, tanpa pernah menanti bantuan dari pihak pemerintah. Namun ia sendiri tidak setuju anak kandungnya mengikuti jejak di bidang seni yang dalam pandangannya hanya sanggup dihadapi oleh orang-orang yang berjiwa kuat, bahkan sangat kuat.</p>
<p>“Muga-moga sepeninggal saya ada lagi orang yang bisa memberi nyawa pada keroncong. Saya mohon itu ada.” Rupanya, belum usai perjalanan. “Gincu merah” itu pun bukan hal mudah untuk diwujudkan. (Rustika Herlambang)</p>
<p>Fotografer: Suryo Tanggono. Lokasi: Keraton Susuhunan Surakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1272&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2012/01/04/waldjinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2012/01/img_2572.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">waldjinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tri Mumpuni</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/tri-mumpuni/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/tri-mumpuni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 13:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan Sejati Senyuman mereka itu bahkan lebih berharga dari sekadar angka trilyunan rupiah Tak pernah menyerah. Kalimat itu ditandaskan oleh Tri Mumpuni pada sebuah surel yang dikirim menjelang diri hari untuk menggambarkan dirinya sendiri. Rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan wawancara yang hanya sempat terjadi dalam perjalanan dari Hotel ShangriLa menuju rumahnya membuat ia rela menggunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1259&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kebahagiaan Sejati</h2>
<blockquote><p><em>Senyuman mereka itu bahkan lebih berharga dari sekadar angka trilyunan rupiah</em></p></blockquote>
<p>Tak pernah menyerah. Kalimat itu ditandaskan oleh Tri Mumpuni pada sebuah surel yang dikirim menjelang diri hari untuk menggambarkan dirinya sendiri. Rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan wawancara yang hanya sempat terjadi dalam perjalanan dari Hotel ShangriLa menuju rumahnya membuat ia rela menggunakan waktu malam untuk menjawab berbagai macam pertanyaan. Aktivitasnya belakangan ini kian padat. Puni, nama panggilan Tri Mumpuni, pengusaha sosial, penerima penghargaan Ramon Magsasay (2011), Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature, dan satu-satunya pengusaha yang dipuji Presiden Barack Obama ketika berkunjung ke Indonesia<strong>. </strong></p>
<p>Segala penghargaan diterima Puni dengan sikap yang selalu bersahaja. Meski banyak melakukan pertemuan-pertemuan dengan tokoh dunia seperti Madeline Albright (menteri luar negeri Amerika Serikat) dan pertemuan tingkat tinggi dunia lainnya di berbagai negara, tak ada yang berubah pada penampilan maupun gayahidupnya. Ia tetap saja rendah hati. Hangat. Akrab. Tapi soal keluarga, ia masih tetap menomorsatukannya. Itu sebabnya, pertemuan mendadak dipersingkat karena suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, bersamaan pulang dari Rwanda. “Saya sudah dua minggu tak bertemu Mas Is. Kami harus buka puasa di rumah,”ujarnya sembari meminta maaf.<span id="more-1259"></span></p>
<p>Puni dikenal dunia karena aktivitas sosial yang dilakukan bersama sang suami, Iskandar. Ia membangun pembangkit tenaga listrik tenaga Mikro Hidro melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia dan satu lokasi di Filipina. Tujuan sebenarnya adalah membangun potensi desa sehingga rakyat berdaya secara ekonomi dengan kekuatan sendiri. Pembangkit dibuat dari tenaga air, sehingga agar terus berfungsi sepanjang tahun, daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 km2. Ini artinya, sepanjang daerah tersebut tidak boleh ada penebangan hutan. Di tengah isyu pemanasan global, apa yang dilakukan sangat signifikan. Apalagi ia menggunakan teknologi ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan dasar fosil.</p>
<p>Saat ini, ia juga membangun lembaga baru Menerangi Indonesia yang melibatkan perempuan mapan dan berkecukupan untuk berbagi pemikiran dan materi yang mempercepat Indonesia menuju arah yang lebih baik. Di sisi lain, ia melakukan kerjasama dengan program Cahaya 1000 Desa bekerjasama dengan Al Azhar peduli Ummat.</p>
<p>Terus terang, katanya, pertemuan dengan dunia pelistrikan terjadi begitu saja. Kejadiannya bermula di sekitar tahun 1990 saat ia mengikuti suami berjalan-jalan di sebuah daerah di Swiss. Puni, lulusan jurusan sosial ekonomi Institut Pertanian Bogor, yang ketika itu sudah bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam bidang kemanusiaan takjub pada para petani yang memiliki pembangkit listrik sendiri. “Pembangkit digunakan untuk menggiling gandum pada musim panas, sementara di musim dingin di jual ke kabupaten, ”ia mengutip kata-kata petani Swiss yang kemudian mengusik nuraninya. “Ini harus diterapkan di Indonesia,” tegas Puni yang akhirnya menyatukan diri dengan aktivitas sang suami, insinyur listrik Institut Teknologi Bandung, melalui Ibeka.</p>
<p>“Awalnya Ibeka tidak berkembang, sering <em>tombok</em>. Karena melihat Puni punya potensi, punya kemampuan lobi, suaminya mengajaknya bergabung. Mas Is menguasai teknologi dan sangat kental konsep pemberdayaannya, Puni memberikan visi dan sentuhan sosialnya,” Adik kandung Puni, Panca Saktiani, yang kini menjadi aktivis lapangan bersama Puni mengisahkan.</p>
<p>Meski punya visi amat mulia, tidak mudah untuk menerapkannya. Perjuangan berat dan panjang. Sebaik apapun konsepnya, tanpa dukungan pemerintah yang memiliki kebijakan tidak akan pernah bisa berkembang. Berkali-kali melakukan presentasi dan ditolak. “Mungkin orang sudah muak melihat wajah saya yang terus-terusan meminta agar diberikan ijin menjual listrik pembangkit milik rakyat. Direktur PLN (perusahaan listrik Negara) sudah tiga kali ganti, tak kejar terus,”ujarnya. Ijin baru diterima pada masa Koentoro Mangkusubroto (2000), dan dengan demikian rakyat bisa mendapat penghasilan tambahan dari pembangkit tersebut. ”Saat bicara di depan Obama saya katakan, <em>Saya sabar menunggu selama apa yang saya inginkan bisa saya dapatkan</em>,” Ia tertawa.</p>
<p>Wilayah eksperiman pertama jatuh pada kota Subang. Alasan ini terjadi lebih karena kepraktisan. Suaminya sedang bertugas di sana. “Pekerjaan”-nya pertama kali adalah mengajari rakyat setempat untuk membuat surat ijin membuat pembangkit untuk Bupati. Di sisi lain, ia membentuk komunitas setempat, melakukan training teknologi dengan cara sederhana, mengajak kerja bakti untuk mewujudkan pembangkit, dan melakukan penyadaran rakyat akan lingkungannya. Proyek dilakukan dan dikelola oleh kelompok rakyat tersebut, dan membentuk sebuah sistem perekonomian kerakyatan. Setelah proyek bisa berjalan lancar, Puni melakukan perjalanan ke daerah-daerah lain. ”Jadi kalau ditanya mengapa saya tertarik pada listrik adalah&#8230; karena saya ingin bersama mas Is selalu.. ha ha ha..”</p>
<p>Berbicara tentang pemberdayaan rakyat, ujarnya, perlu sebuah konsistensi. Seperti pengalamannya, diperlukan daya tahan yang luar biasa terhadap berbagai tekanan yang ada. “Konsistensi itu harus <em>istiqomah</em>. Yakin dengan pilihannya dan pilihannya yang benar,”ia mengungkapkan rahasia kekuatannya. Selama itu pula ia bergerak sendirian, menuju ke masyarakat, dan memberikan kesadaran bahwa kemiskinan bisa dientaskan dengan kebijakan yang berpihak pada mereka. Di sisi lain, ia harus berjuang untuk mengubah kebijakan negara. “Saya percaya, kemakmuran rakyat tergantung pada kebijakan negara, “ ucapnya Puni yang di lapangan penuh dengan cerita “drama” perjuangan, berhadapan dengan preman, aparat, masyarakat, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Selain listrik, masih banyak kegiatan yang dilakukan. Fokus kepeduliannya terletak pada pengembangan pedesaan. Hanya memang listrik menjadi salah satu kegiatan yang dianggapnya paling ”seksi”. ”Kalau gelap gulita, kesannya merana. Padahal kemiskinan bukan hanya sekadar kekurangan listrik, tapi juga asset,” ungkapnya. Program yang dimaksud adalah Global Oasis, yaitu memberi akses tanah pada penduduk miskin agar bisa menanam pohon produktif dan setelah 5-6 tahun, mereka bisa memanen pohon dengan pendapatan ratusan juta rupiah. Saat wawancara, ia tampak beberapa kali melakukan koordinasi lapangan untuk membebaskan rakyat di daerah Setu, Semarang, untuk tetap memiliki lahan menggarap sawah dari tekanan developer pembangunan.</p>
<p>“Program di sini adalah bagaimana petani tetap memiliki tanahnya sehingga rayuan gombal untuk beli motor yang kinclong bisa kita redam,” lanjutnya. Ia prihatin pada konsumerisme yang terus menjajah rakyat kebanyakan. Motor bisa rusak, tapi tanah yang subur bisa menghidupi sepanjang tahun. Untuk menghadapi persoalan itu, ia akhirnya membeli tanah seluruh petani tersebut dan menghibahkannya pada pemilik tanah untuk tetap bercocok tanam.</p>
<p>“Ternyata domain-ku pria banget ya.. waktu ada pendirian MKI, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia, saya satu-satunya perempuan,” ujar Puni, Vice Chair untuk program Presiden Obama untuk negara-negara muslim (Partners for the New Beginning). Saat ini ia menjabat sebagai Dewan Wali Amanah di Komite Keselamatan Ketenagalistrikan Nasional (Konsuil), anggota Dewan Nasional Sumber Daya Air, Komite Inovasi Nasional, MKI, dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI). Di luar itu ia juga menjadi pengajar di beberapa universitas di Amerika, Singapura, dan Malaysia. ”Di Indonesia, saya lebih kepada berbagi pengalaman kepada mahasiswa S2 di beberapa universitas.”</p>
<p>Sepanjang jalan menuju rumahnya, Puni bercerita aktivitasnya dengan nada yang penuh semangat, dan sedikit meledak-ledak apabila menyinggung persoalan kerakyatan. Ia lebih banyak menggunakan istilah rakyat ketimbang masyarakat atau komunitas pedesaan. Gaya bicaranya berubah total ketika ia berkisah tentang perjalanannya selama ini ketika berhadapan dengan banyak pihak di Indonesia. “Tapi kini saya sudah tahu rahasianya. Kalau akhirnya proyek kerakyatan ini berhasil, kita harus mencari pejabat yang bisa mengatakan “ya” ke kita.” Ia berkata dengan menggebu-gebu.</p>
<p>“Bicara rakyat, buatku sangat seksi,” katanya kemudian. “Kamu bisa membayangkan betapa bahagianya ekspresi mereka ketika mendapat listrik. Ini sebuah kekayaan yang tak bisa dirupiahkan dengan apapun,” ujarnya, lantas terdiam. Sesekali terpikir dalam benaknya, mengapa ia bisa begitu mencintai rakyat miskin, hingga ia akhirnya mendapat jawaban. “Saya ingat pesan almarhum ayah, “<em>Tuhan menciptakan rakyat miskin jumlahnya jauh lebih banyak dari orang kaya. Maka kalau bisa, bekerjalah dengan mereka. Doa mereka pada Tuhan tak bersekat. Kamu bisa membayangkan bila didoakan oleh mereka</em>”.”</p>
<p>Puni amat berbinar-binar ketika berbicara tentang orang tuanya. “Almarhum Bapak selalu mengatakan bahwa yang paling membahagiakan dalam hidup adalah apabila kita selalu bisa berbagi,”ia mengutip pesan ayahnya, dalam bahasa Jawa kental. Sejak kecil, anak ke tiga dari delapan bersaudara ini mengaku sering hidup bersama dengan orang-orang dari desa yang disekolahkan oleh ayahnya. Ia rela berdesakan di kamar adiknya karena kamarnya digunakan orang lain. Padahal mereka juga bukan saudara. “Apabila mereka sekolah dan lulus, kelak mereka akan mengatasi kemiskinan di keluarga dia,”ia mengutip kata-kata ayahnya.</p>
<p>Dari sang Ibu, ia diajarin untuk selalu memberi. Memberi itu tidak mudah. Tidak hanya soal materi, tapi juga waktu dan tenaga. Ia sering mengikuti aktivitas  ibunya saat mengajar orang-orang buta huruf, melayani Posyandu, dan berkeliling kampung memberikan pengobatan anak-anak yang memiliki koreng. “Saya ingat bagaimana ekspresi seorang pembantu rumah tangga ketika bisa membaca tabloid gossip untuk pertama kalinya,”ia terkekeh. Tapi ia enggan menceritakan bahwa ibunya sering memberi pinjaman modal untuk pemilik-pemilik warung dan ia bertugas untuk menagihnya. “Jangan nanti dianggap menyaingi Grameen Bank, katanya tertawa, menyebut aktivitas yang dilakukan oleh pemenang nobel asal Bangladesh, Muhamad Yunus.</p>
<p>“Makanya saya meniru kebiasaan itu. Ikut menyekolahkan, beberapa anak asuh sudah jadi sarjana. Menurutku itu salah satu cara bersyukur,” ucapnya. Keramaian itu terasakan ketika <em>dewi </em>berbuka puasa di sana. Duduk satu meja, anak angkatnya yang masih duduk di sekolah dasar, dan seorang perempuan asal Surabaya, Devi, yang tengah melakukan riset pengembangan coklat di Jakarta. Dua anak kandung Puni kuliah di Kanada dan Malaysia.</p>
<p>“Dalam hidup, ada tiga hal yang membuat saya bahagia. Ini karena saya mau membagi tiga hal,” katanya tiba-tiba. Pertama, berbagi senyum. Senyum yang gratis menebar aura positif, memberikan kebahagiaan untuk orang di sekelilingnya. Kedua, berbagi ilmu. “Saya dan Mas Is filosofinya sama, makanya kami menikah. Teknologi harus didekatkan kepada rakyat,” tegasnya. Ketiga, berbagi rejeki. “Semakin banyak berbagi rejeki, semakin kaya. Percaya deh!,” katanya senang. Lalu menitip harap, “Saya ingin rata-rata perempuan Indonesia juga menganut tiga hal tersebut. Saya yakin kemiskinan pasti bisa diatasi.”</p>
<p>Dari balik kaca mobil, ia memanggil tukang papaya di pasar Palmerah yang dilewati setiap hari, dan memberikan uang sepuluh ribu. “Satu papaya untuk buka puasa ya, Pak,”ia berkata. Dan ia kembali menerima sebuah papaya cantik yang kemudian ditunjukkannya dengan bangga. ”Inilah artinya kalau kita percaya.” Ia memberi keyakinan akan kebenaran tidak dengan kata-kata penuh busa, melainkan melalui tindakan nyata. (rustika herlambang)</p>
<p>Stylist: Raden Prisya. Make up Artist: Evelyn. Photografer: siapa?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1259&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/tri-mumpuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Heri Dono</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/heri-dono/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/heri-dono/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 12:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pria]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Heri Dono]]></category>
		<category><![CDATA[kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Rupa Kontemporer Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[seniman kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1261</guid>
		<description><![CDATA[Ia serahkan hidupnya hanya untuk satu kata: seni, yang telah membebaskannya dari segala malabencana<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1261&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Persembahan Kehidupan</h2>
<ul>
<li><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/12/img_8422.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1266" title="IMG_8422" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/12/img_8422.jpg?w=224&#038;h=300" alt="Heri Dono" width="224" height="300" /></a></li>
</ul>
<blockquote><p>Ia serahkan hidupnya hanya untuk satu kata: seni, yang telah membebaskannya dari segala malabencana</p></blockquote>
<p>Kenangan amat mengesankan menggenangi perasaan Heri Wardono. Kala itu ia melihat air danau kecoklatan perlahan-lahan berubah menjadi biru toska yang memberinya rasa damai dan sejuk. Ia bisa berenang, bahkan rasanya seperti terbang! Jauh di seberang, ia melihat kawan-kawannya menatap padanya. Dalam hati penuh kemenangan, ia bertekad menyeberangi lautan, membuktikan kekuatan. Setiap gerakan yang dilakukan seperti adegan <em>slow motion</em> film The Six Million Dollar Man. Pemandangan begitu indahnya. Begitu beningnya. Begitu heningnya. Pengalaman ini sungguh luar biasa.</p>
<p>“Mungkin pengalaman itu yang membuat saya menjadi seniman,” Heri Dono tersenyum, mengisahkan halusinasinya ketika tenggelam di danau Ancol, 40 tahun lalu, dan membuka percakapan mengenai dirinya sendiri pada suatu siang di Nadi Galleri, Jakarta. “Bapak hampir frustasi, sampai akhirnya menubruk tubuh saya yang sudah lemas,”katanya meneruskan. Waktu itu tipis sekali kemungkinan ia bisa bertahan dalam lumpur yang pekat. Tapi ia berhasil diselamatkan. Meski sesudahnya, ia harus banyak berurusan dengan obat-obatan dan…paranormal!<span id="more-1261"></span></p>
<p>Kini, Heri, 51 tahun, adalah seniman kontemporer Indonesia generasi 1980-an yang dikenal dalam kancah seni kontemporer dunia hingga saat ini. Sejarah mencatat namanya sebagai salah satu seniman <em>avant garde</em> dunia versi Artlink, majalah senirupa terbitan Australia. Sementara itu, dalam buku bertajuk Fresh Cream (2001) ia masuk dalam kategori 100 seniman tersibuk di dunia. Baru-baru ini ia diundang oleh label Louis Vuitton untuk berpartisipasi dalam pameran Trans-Figurations-Indonesian Mythologies di Paris. Saat pertemuan ini berlangsung, ia baru saja pulang dari Berlin, dan seorang pemilik galeri dari Belanda tengah menemuinya. Bulan depan, ia pameran tunggal di Amsterdam.</p>
<p>Dalam sejarah senirupa Indonesia , prestasi Heri terbilang langka. Bisa dihitung dengan jari, seniman yang sanggup mempertahankan eksistensi hingga puluhan tahun lamanya, tanpa tergeser sedikitpun. Ia beradaptasi terhadap kebutuhan suara zaman, dari generasi demi generasi, dan menampilkan karya-karya yang terus berubah. Banyak pengamat mengatakan bahwa kekuatan Heridono terletak pada keberaniannya untuk membebaskan dirinya dari apa yang disebut komersialisasi karya seni dan menempatkan karyanya sebagai ekspresi pribadi atas kegundahannya pada masalah lokal dunia ketiga, khususnya bidang politik. Patut dicatat pula, ia adalah seniman segala media: melukis, mematung, membuat wayang, instalasi dan seniman suara, meleburkan segala batas.</p>
<p>Ia tampak puas dengan pencapaiannya selama ini. “Memang sejak dulu saya bercita-cita menjadi seniman sejati,”katanya. Keinginan ini tumbuh saat ia sering berada di Taman Ismail Marzuki pada pertengahan tahun 1970-an dan melihat sosok seniman besar seperti Harry Roesli, WS Rendra, Nashar, dan Roesli. Di mata Heri, para seniman itu menemukan hal-hal baru setiap hari. Tidak ada rutinitas seperti halnya pegawai negeri atau tentara. Profesi seniman juga tidak pernah pensiun, tidak bisa dipecat oleh institusi apapun, dan selalu sederajat dengan siapapun. “Saya memang mau mencari pekerjaan yang independen. Dan ini artinya saya mencoba mencari kemerdekaan untuk diri saya. Menjadi seniman adalah jawabannya.”</p>
<p>Keinginan ini hampir tak ada resistensi dari keluarga besar Heri. Ada satu cerita yang kemudian disampaikan oleh ibunda Heri, Suwarni, berkaitan dengan anak ke lima dari tujuh bersaudara itu. “Dia itu nyowo balen,” tutur Suwarni. Nyowo balen artinya nyawa kedua atau kehidupan yang kembali. Waktu umur 2 tahun, Heri terkena kejang demam, sehingga hampir merengut nyawa. Setelah itu, ia harus banyak berurusan dengan obat-obatan karena tubuhnya amat rentan. Belum sepenuhnya sembuh, ia sudah tenggelam di danau seperti cerita di atas. Dua kali, ia  berada di ambang maut. Setiap kejang tangannya selalu bergerak-gerak seolah mau tenggelam dan seperti menjadi seseorang yang lain- itu sebabnya ia sering didatangkan “orang pintar”.<br />
Lucunya, kisah Suwarni, setiap kali sakit, Heri tidak pernah merengek seperti anak lainnya. Sebaliknya, ia selalu meminta gunting. Lalu semalaman ia menggunting-gunting gambar-gambar dari majalah Lufthansa, langganan ibunya, dan menempelkannya pada seluruh dinding kamar orangtuanya sepanjang malam hingga pagi hari. Hal ini hanya dilakukan hanya pada saat sakit! Bisa jadi kreativitas masa kecil inilah yang menjadi cikal bakal pengembangan bakatnya. Tapi apakah demikian ia punya bakat? Sulit diduga, karena nilai menggambar di ijazah dan di rapornya merah. Tapi ia tak pernah kapok dan terus menggambar mengikuti suara hatinya sendiri.</p>
<p>Ibu adalah nama yang terus disebut ketika mengisahkan masa lalunya. Dari ibunya pula ia dapat pengetahuan tentang dunia wayang dengan sangat fasih. “Ibu bisa bahasa dan huruf Jawa Kuno sehingga bisa membaca kitab karya sastra lama. Dan tiap hari, Ibu mencekoki saya dengan cerita-cerita wayang,”ia tertawa. Suatu saat kelak ia akan merasa bersyukur karena bekal inilah yang menginspirasi semangat dalam karya-karyanya. Sementara dari ayahnya, tentara dan ajudan Presiden Soekarno untuk Hartini, memberinya banyak pengalaman bersentuhan dengan karya-karya seni maetro yang ada di Istana Bogor di mana ayahnya bertugas.</p>
<p>Tahun 1978 ia mengumumkan kredo seniman, bahwa ia akan memutuskan hidupnya hanya untuk seni, dua tahun sebelum bergabung di STSRI  “ASRI” (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia, kini menjadi Institut Seni Indonesia ISI di Yogyakarta. Bisa ditebak, ia menikmati dirinya terlarut dalam tugas-tugas, membuat skets, melukis, berkarya, tak mau didikte, dan mencari kebaruan. Meski karyanya dinilai pas pas-an, dan ia tak peduli, karena punya pandangan tersendiri.</p>
<p>Lalu bagaimana kondisinya? Ia sehat sama sekali! “Saya pikir dulu saya sakit-sakitan karena keberatan nama,”katanya, setengah serius dan setengah bergurau. Heri Wardono, nama yang berasal dari perpaduan nama kedua orang tuanya, Sahirman dan Suwarni, itu dianggap Heri terlalu berat.  Ia menjelaskan, Her, adalah kata paling tua, seperti Hera di Yunani atau Her di Jerman. Wardan artinya kebaikan. War dalam bahasa Inggris artinya perang. “Setelah pakai nama seniman, Heri Dono, saya jarang sakit.” Ia tertawa. Seniman postmodern ini memandang persoalan dirinya pun dengan pendekatan postmodern.</p>
<p>Tahun 1984 ia frustasi ketika melihat tidak ada lagi eksplorasi di kampusnya, kecuali hanya mengulang-ulang teknik yang ada. Karena banyak berpikir, stress, ia sakit (lagi), dan kembali ke Jakarta. Selama setahun ia non aktif dari Asri dan mengambil pendidikan bahasa Inggris di Akademi Bahasa Asing Jakarta, hingga mendapat pencerahan. “Saya pikir persoalan teknik dalam seni lukis sudah selesai. Tapi seni sebagai media ekspresi tidak akan pernah selesai,” ia kembali ke kampusnya, dan beruntung, mendapatkan mata kuliah senirupa pertunjukan. Sesuai dengan kelahiran seni postmodernism di barat (<em>sic!</em>) ia memutuskan untuk meleburkan semua seni menjadi satu dan melakukan berbagai eksperimen. Pameran tunggalnya terjadi di tahun 1988 di Cemeti Gallery, Yogyakarta .</p>
<p>Awal berkariernya didasari oleh inspirasi yang berasal dari kartun, lalu berlanjut pada wayang – sesuatu yang amat dekat dengan dirinya. Ia mengekpsplorasi bentuk-bentuk wayang sehingga menjadi sebuah kisah tersendiri yang hanya ada dalam kanvas Heri Dono. Pada kesempatan yang lain ia meleburkan berbagai seni yang ada dalam wayang, yakni seni sastra, seni peran, seni musik, seni tutur, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang ke dalam karya-karya instalasinya, dan ini menjadi salah satu terobosan baru pada masanya. Ia percaya, kesenian adalah sesuatu yang kompleks, bukan hal yang dikotak-kotakkan. Ia tidak mencari inspirasi ke berbagai dunia antah berantah. Inspirasi itu berasal dari lokalitas yang diberinya spirit kebaruan dengan semangat kebebasan. Tradisi lokal tidak ditafsirkan sebagai sesuatu yang eksotik.</p>
<p>Selain bentuk, ia mengisinya dengan berbagai pesan. “Dulu ada kelompok Lekra yang membuat kesadaran hidup dalam politik melalui partai. Saya ingin bisa memberikan sesuatu yang bisa memberikan kesadaran politik melalui karya saya sehingga orang bisa memunyai sikap dan menciptakan suatu sikap, tapi di luar partai,” katanya. Keinginan ini, lagi-lagi, terinspirasi dari wayang, yang di dalamnya juga mengupas berbagai cerita kehidupan, mitologi filsafat hidup, kritik social, dan humor, dalam satu kemasan. Itulah yang terasa sangat Heri Dono dalam karya-karyanya. Ia lebih melihat perkembangan jiwanya sendiri ketimbang mengikuti arus besar yang terjadi. Pada titik inilah ia tidak terjerumus ke arah mode – yang sifatnya sementara.</p>
<p>Tentu bukan hal yang mudah untuk mewujudkan kesadaran tersebut pada masa Orde Baru. Ia pernah mengalami diinterogasi hingga berhari-hari ketika pameran di London. Ia juga pernah dilarang masuk ruang pamer dalam sebuah pameran yang diikutinya saat dibuka oleh Presiden Soeharto. Meski tak kapok, ia sangat terganggu karena bisa menimbukan paranoid. “Bagaimana kita bisa berkarya tapi dimata-matai, tak ada kebebasan berekspresi,”kata Heri yang memang dalam proses berkarya ia acap mengkritik pemerintahan Orde Baru tersebut.</p>
<p>Selain memperkuat kemampuan diri, ia juga membuka jejaring seni internasional. Maka bisa dipahami mengapa undangan berpameran ke berbagainegara tak pernah berhenti untuknya. Ketika residensi di luar negeri, ia selalu menyempatkan diri untuk menuju kediaman seniman-seniman dan mendatangi galeri-galeri: memperkenalkan diri, membawa CV, dan berdiskusi mengenai seni. Begitulah, ia selalu mengisi waktu dengan berbagai perjalanan seni yang seperti memberi nafas pada paru-parunya.</p>
<p>Hingga kini ia terus mengembara ke berbagai negara dengan karya-karya terbarunya. Berbeda dengan banyak seniman yang memilih berada di zona nyaman dengan mengikuti arus besar, sebaliknya dengan Heri. Ia memilih menjauh dari arus besar dan berusaha menciptakan kreasinya berbeda. Ini tentu sebuah tantangan untuknya, dan dia sangat menikmatinya, dan terasa tidak peduli dengan segala hal yang dibicarakan orang. Ia seperti tak peduli terhadap segala hal yang berbau komersial, bisa dijual. Berkarya bagi Heri adalah salah satu media untuk mengekspresikan eksplorasi estetika dari gejala-gejala kekinian dengan pesan kemanusiaan yang berusaha membangkitkan kesadaran baru bagi publik seni dan untuk mendapatkan sikap di dalam kehidupan, serta dapat memposisikan senirupa Indonesia dengan senirupa dunia.</p>
<p>Dengan segala hal yang diperolehnya, dengan karya seninya yang berbeda, ada satu hal yang sepertinya masih tak ada di dirinya. Cinta pada seorang perempuan. Ketika pertanyaan ini disampaikan padanya, ia agak tergagap. Meski kemudian, dengan tertawa dan menata kembali tempat duduknya, ia berdiplomasi. Perempuan yang istimewa baginya adalah seorang yang kreatif dan mandiri. Mengaku pernah pacaran, tapi belum memutuskan untuk menikah. “Kalau menikah itu saya harus bertanggung jawab, ada 80 persen waktu di rumah dan lain-lain, saya tak bisa,” ia belajar dari keluarganya.</p>
<p>Tapi begini, katanya tiba-tiba. “Seniman itu selalu menikahi Dewi Saraswati, dewi kesenian,” ia seperti mendapat jawaban. “Jadi katakan saja, Saya telah menikah dengan Dewi Saraswati,” Heri menjawab sambil mengangguk-angguk cepat, menyebut nama istri Dewa Brahma dalam kepercayaan lama. Mukanya memerah. Mungkin itu jawaban klise, namun bila merunut pada wayang yang menjadi arus utamanya dalam berkarya, ada hal lain yang tertujukan. Ma Hyang, asal kata wayang, punya arti mempersembahkan pada Yang Kuasa. Bisa jadi pilihan ini dilakukan untuk menebus kehidupan yang sempat hampir hilang dari dirinya.  (Rustika herlambang)</p>
<p>Pameran di London di INIVA (Institute of International Visual arts) &amp; di MOMA (Museum of Modern Art) di Oxford.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1261&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/12/11/heri-dono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/12/img_8422.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_8422</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Julian Aldrin Pasha</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/julian-aldrin-pasha/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/julian-aldrin-pasha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 14:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pria]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[Julian Aldrin Pasha]]></category>
		<category><![CDATA[Juru Bicara Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1256</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup ini adalah benar-benar pilihan saya. Dunia yang saya inginkan. Bukan karena tak ada pilihan. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1256&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="left">Istana Rahasia Julian Aldrin Pasha</h2>
<blockquote><p><em>Perjalanan hidup ini adalah benar-benar pilihan saya. Dunia yang saya inginkan. Bukan karena tak ada pilihan. </em></p>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110601-00053.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1270" title="julian aldrin pasha" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110601-00053.jpg?w=225&#038;h=300" alt="julian aldrin pasha" width="225" height="300" /></a></p></blockquote>
<p>Di tengah telepon yang sering berdering.</p>
<p>Senja menyapa pelataran istana Merdeka, ketika akhirnya Julian Adrin Pasha, Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menampakkan dirinya. Ia berjalan cepat dari kejauhan, seperti merasa sangat bersalah karena pertemuan yang dijanjikan pada pukul empat sore harus mundur hingga lebih dari satu jam kemudian. Sedikit keringat meleleh di keningnya yang bersih, dan ia mengusap dengan sapu tangan yang diambil dari saku celana. “Maaf, saya terlambat,” ujarnya.</p>
<p>Kondisi istana saat itu tengah sedikit terguncang akibat berbagai rumor pemberitaan  negatif mengenai Presiden SBY, mulai kisah SMS fitnah hingga kasus korupsi Nazaruddin, bendahara umum partai Demokrat yang didirikan atasan Julian tersebut. Dan ketika perbincangan ini terjadi, ia baru saja bertemu dengan Presiden SBY. Entah apa yang dibicarakan, namun kepenatan masih tergurat di wajahnya. “Presiden sedang banyak dibicarakan dalam hari-hari terakhir ini, posisi juru bicara yang melekat dengan presiden pun ikut pula merasakan berat,” ujarnya dengan nada ringan.<span id="more-1256"></span></p>
<p>Saat di depan kamera, ia sudah berhasil menguasai diri. Ia berjalan menyusuri lorong panjang di depan teras istana dan terbentuklah sebuah pemandangan  dramatis dalam pantulan matahari senja yang menerpa sebagian tubuhnya. Ia terlihat segar dalam balutan setelan jas hitam keabuan senada dasi yang dipadu dengan kemeja putih. Setiap pose yang ditampilkan terasa wajar dan tidak dibuat-buat. Perbincangan dilanjutkan di sebuah ruang meeting di Binagraha. Suasana lebih mencair sekarang.</p>
<p>Sikapnya santun. Setiap perkataan yang terlontar seolah dipikirkan dengan matang, kendati untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Dalam berbagai pemberitaan di media, Julian dikenal sebagai salah satu juru bicara presiden yang paling kalem, tak banyak bicara, ataupun mencari perhatian. Sebaliknya, ia amat tenang dan pandai berkelit apabila mendapatkan pertanyaan yang tak wenang dijawabnya.</p>
<p>“Saya tidak menemui kesulitan dalam berkomunikasi dengan wartawan. Pengalaman sebagai dosen membantu saya dalam tugas ini. Sampai hari ini, yang saya rasakan sebagai kesulitan dalam tugas sebagai Jubir Presiden adalah menahan diri untuk bicara, khususnya menanggapi hal-hal yang tidak relevan,” ujarnya. Ibarat sedang terjadi turbolensi dalam mesin komunikasi yang makin canggih dengan hadirnya social-media, maka isu yang dimunculkan pun makin kompleks, ia melanjutkan. “Saya sebut “turbolensi”, karena sumir arahnya dan tidak jelas juntrungannya. Kadang-kadang terusik untuk menanggapi, namun saya harus dalam posisi menahan diri”.</p>
<p>Dalam pekerjaan ini, ia tak bisa menyampaikan pendapat atas nama pribadi. Ini artinya harus menghilangkan “jati diri”. Rupanya hal ini dirasa cukup berat bagi ia yang sebelumnya adalah seorang pengajar, dosen, pengamat politik, Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Politik, dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Ia terbiasa menjadi tuan untuk dirinya sendiri. “Tapi di sini, saya hanya menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, itupun atas ijin Presiden,” ia berujar. Diplomatis. “Namun demikian, saya menyukai tantangan. Saya terbiasa memilih yang sulit, meski ada jalan lebih mudah.”</p>
<p>Ia terdiam. Bunyi telepon memecah lamunannya.</p>
<p>***</p>
<p>Sebuah perjalanan panjang mengiringi kisah kehidupan Julian. Ia tidak tiba-tiba hadir, serangkaian peristiwa saling terkait satu sama lain membetuk diri dan karakternya.</p>
<p>Empat puluh dua tahun lalu, ia dilahirkan sebagai anak kedua dari 3 bersaudara dalam sebuah keluarga yang harmonis di Teluk Betung, Bandar Lampung. Ayahnya sosok pendiam, adalah guru besar di bidang hukum, sementara ibunya dosen ilmu social yang suka bicara. Keduanya aktif mengajar di Universitas Lampung – dan bahkan hingga kini, meski sudah pensiun, mereka masih diminta mengajar.</p>
<p>Ia merasa bahwa sebagian sifat ayahnya menurun padanya. “Papi lebih suka membeli buku dengan uang sendiri ketimbang membeli setelan jas. Saya pernah melihat ada keributan kecil dengan Bunda karena cicilan buku belum selesai, sudah ada cicilan buku lainnya,” katanya. Dari ibunya, ia belajar tentang disiplin dan kebersihan. “Sebuah gelas bisa dicuci hingga empat kali demi memastikan bahwa gelas tersebut steril untuk anak-anaknya,” ia memberikan contoh betapa sang Bunda sangat memperhatikan kesehatan anak-anaknya. Segala sesuatunya dikontrol sang Bunda dari rumah, sehingga mengakibatkan ia suka memberontak. “Saya ingin jajan di luar juga seperti teman-teman.”</p>
<p>“Waktu kecil, saya begitu melelahkan bagi orang-orang sekeliling saya,” ucapnya. Suatu hari ketika usianya 11 tahun, Papi membawa pulang sebuah pesawat mainan dengan remote control dan memperagakan atraksi pesawat di depan anggota keluarga sehingga membuat semua bergembira. Pun ia. Saking antusiasnya, setelah atraksi selesai, ia mengambil pesawat tersebut, membuka sekrup-sekrupnya dengan menggunakan obeng, demi memuaskan hasrat ingin tahu bagaimana mesin pesawat ini bekerja. Sayangnya, ia tak bisa memasangnya kembali. Pesawat baru canggih itupun berakhir. Seluruh “keluarga” memarahinya.</p>
<p>“Rasa ingin tahu kadang membuat saya menderita,” katanya pelan. Sementara  kejadian semacam ini berulang berkali-kali. (Bertahun-tahun kemudian, ia lalu berkisah, peristiwa masa kecil inilah yang menjadi alasan mengapa ia pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya. “Tak cukup waktu kalau semua alasan ditulis di sini,” ia mengelak.)</p>
<p>Untunglah, ia masih punya surga yang lain: perpustakaan milik ayahnya yang cukup lengkap. Salah satu yang disukainya adalah Ensiklopedi Britannica dan Americana. “Saya menikmati ketika membaca dua seri buku tersebut karena di dalamnya ada tokoh para pemimpin dunia, gambaran tentang negara, serta pemerintahannya,” kata Julian yang sangat tertarik pada sosok-sosok kepala negara, dan bahkan hafal sisi persona masing-masing. Hingga suatu kali ia menyurati Ronald Reagan, Presiden Amerika Serikat. “Dia seorang aktor, lalu menjadi gubernur, dan akhirnya terpilih menjadi Presiden. Saya kagum dan tertarik dengan perjuangan dan strateginya mencapai puncak kekuasaan,” ia mengenang saat ia belajar “politik” untuk pertama kali dan menjadi terpikat karenanya.</p>
<p>Inisiatif itu muncul tatkala acara inagurasi presiden Amerika Serikat pada tahun 1981 ditayangkan di televisi. Lalu di atas post card murahan, ia menuliskan kata-katanya. “Saya memperkenalkan diri, mengungkapkan kekaguman, dan berharap mendapat informasi mengenai Amerika,” ia ungkapkan isi suratnya di atas sebuah post card murahan, tak berharap ada balasan. Ia juga mengirimkan surat senada dengan beberapa Presiden negara lainnya. Namun rupanya, (administrasi) Reagan-lah yang pertama kali membalas surat, mengirimkan buku-buku mengenai Amerika, lengkap dengan foto perjalanan karier dan tanda tangannya. Buku-buku itulah yang membuai hayalan masa remajanya. “Saya berpikir menjadi orang Amerika, akan sekolah dan hidup di sana.”</p>
<p>Hal yang tak pernah absen diikutinya sejak kecil adalah menikmati konser musik klasik di televisi/TVRI atas kesadaran sendiri. Dengan pengetahuan sejarah yang dibacanya tentang musik klasik, ia acap berhalusinasi begitu musik klasik terdengar. “Saya bisa dengan detail membayangkan ketika Don Giovanni dimainkan. Atau membayangkan abad pertengahan ketika karya itu diciptakan,” tuturnya, lagi-lagi dengan suara yang lirih. Waktu itu, ia sungguh terobsesi bisa berziarah ke makam Mozart. Dan mimpi itu baru terwujud dua puluh tahun kemudian, ketika ia mengunjungi Salzburg, Austria, tempat kelahiran Mozart.</p>
<p>Ia juga pembaca karya-karya klasik seperti Nikolai Gogol, Anton Chekhov, atau Edgar Allan Poe. “Tanpa saya sadari, pikiran dan selera saya agak berbeda dengan kebanyakan teman sebaya di SMA, ”tuturnya. Karena teman-temannya menyukai aliran musik hard rock “punk”, ia pun turut berpura-pura mengimbangi hal yang sama supaya tak teralienasi. “Padahal saya punya dunia lain” katanya. “Bukan untuk menghilangkan jati diri, atau bersandiwara, tapi hanya social appetizers. Tidak baik kalau selalu sendirian, nanti dianggap aneh.” Tapi sesungguhnya, ujarnya, ia punya pendirian tegas dan ia tahu apa yang harus dilakukan di masa depan – meski akhirnya di tengah jalan bisa berubah. Dari SMA, ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Ilmu Politik FISIP, Universitas Indonesia, meninggalkan kampung halamannya.</p>
<p>***</p>
<p>Seperti pernah dirancang di masa kecil, ia berencana untuk meneruskan pendidikan S2 dan S3-nya di Amerika. Namun tiba-tiba, ia merasakan betapa negara adikuasa yang dulu begitu dipujanya itu tak lagi menarik untuknya. Dalam pikirannya, saat itu sudah begitu banyak orang dari berbagai negara yang belajar di Amerika. Tantangannya relatif lebih mudah karena menggunakan bahasa pengantar Inggris yang bisa dengan mudah dipelajari oleh siapa saja. Ia terpikir melanjutkan pendidikannya di Jepang. Mungkin alasan masa kecil yang masih dirahasiakan itu yang menjadi penentunya.</p>
<p>Ia lalu memberikan argumentasi. ”Saya belajar sejarah Jepang. Mereka pernah menjadi pecundang saat kalah Perang Dunia Kedua, namun dengan cepat mereka bangkit. Saya ingin tahu rahasia dan strategi mereka (yang tersimpan dalam buku-buku dan budaya berbahasa Jepang),” katanya. Meski untuk itu ia harus bekerja keras dengan keringat dan air mata (katanya), selama dua tahun untuk memelajari bahasa. Kerja kerasnya terbayarkan kemudian. Ia meraih predikat Summa Cum Laude dari Hosei University, Tokyo, di bidang politik – bidang yang amat dicintainya.</p>
<p>Jepang memberikan pengalaman menarik padanya. Ketika pertama kali tiba di sana, ia merasa jatuh cinta dan tak pernah berpikir untuk kembali ke Indonesia. Sembilan tahun kemudian (1996-2005), ketika sudah hidup dalam kemapanan, tiba-tiba saja ia merasa “cukup” di negeri Sakura itu. Kehidupan dirasa mulai hambar, dan sang Bunda memintanya kembali ke Indonesia. Mungkin karena ia masih sendiri (lajang). Hampir semua teman di Jepang tak menyetujui rencana kepulangannya. Ia teringat pada seorang Profesor Jepang yang pernah mengatakan padanya: “Julian, kalau saya Anda, saya kembali ke Indonesia.  Bila di sini, Anda akan menjadi professor, tapi Anda tak akan pernah menjadi menteri, perdana menteri, atau anggota parlemen Jepang.”</p>
<p>Namun demikian, bukan karena pandangan sang teman itu yang membuat ia kembali. “Saya percaya, insting ibu saya benar. Dan saya memutuskan pulang ke Indonesia, setengah tahun sebelum kontrak sebagai Dosen Tamu di Jepang berakhir, “ ia  menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, dan kemudian menduduki jabatan stuktural sebagai Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Politik FISIP UI, dan kemudian Wakil Dekan FISIP UI. “Jiwa saya adalah pengajar,” ucapnya seolah mengingatkan pada profesi kedua orang tuanya.</p>
<p>Dan ketika kembali ke Indonesia, ia pun mulai melabuhkan cintanya pada seorang perempuan. Dengan pikirannya yang rumit itu, seperti apakah perempuan yang mampu mengusik hatinya? “Fisik tentu sangat berpengaruh, kendati persepsi perempuan cantik dalam benak saya mungkin sedikit berbeda. Bagi saya, yang paling penting adalah kecerdasan;  yang terpancar dari bagaimana sikap kritis seseorang menghadapi situasi dan sekelilingnya” katanya malu-malu. Ia juga memberi ilustrasi dan “jatuh cinta pertama” pada perempuan seperti Oriana Fallaci ketika mewawancarai Ayatollah Khomeini (1979) yang dibacanya sepuluh tahun setelah wawancara itu dilakukan.</p>
<p>“Kecerdasan membuat saya jatuh cinta.” Seperti pula ia mencintai istrinya, Mega Kharismawati, ibu dari putrinya, Khansa Amira Pasha, dan Kaysan Kamil Pasha. Raut muka Julian tampak bersinar-sinar saat membicarakannya. Sikapnya malu-malu tatkala mengungkap kisah dirinya sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Masuknya ia di dalam istana, hingga hari ini masih merupakan rahasia besar, katanya. Ketika di suatu hari dipanggil sebagai juru bicara Presiden, ia amat terkejut. Apalagi ia merasa tak pernah melamar posisi yang sama sekali tak pernah ada dalam bayangannya itu. Dan apabila akhirnya ia menerima tugas istimewa tersebut adalah faktor Susilo Bambang Yudhoyono – yang ketika ia di Jepang sudah memprediksikan bahwa SBY pantas menjadi Presiden. Meski sebelumnya, ia mengaku tak pernah mengenal SBY secara langsung.</p>
<p>“Tak ada yang berubah pada diri saya, saya jaga pengabdian ini murni dalam kapasitas sebagai seorang professional,” ujarnya. Dan menjadi profesional pun bukan hal mudah. Buktinya, doktor bidang politik ini pernah ditegur oleh Presiden. “Ya tentu pernah, dan itu senantiasa merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi saya,” jawabnya sembari disertai dengan helaan nafas berat. Ia merasa harus bertanggung jawab atas setiap kata yang disampaikan, tidak saja terhadap Presiden SBY, namun juga pada Lembaga Kepresidenan.</p>
<p>Ia lantas terdiam, berpikir. “Memang dari kecil saya merasa ingin mengetahui dari dekat pusat kekuasaan. Inilah jalur hidup saya. Saya bersyukur dibukakan pintu terus sampai hari ini,” ia tersenyum, lega, mengenang “perkenalannya” pertama kali dengan Presiden Reagan, lalu menjadi seorang doctor politik, dan kini menjadi Juru Bicara Presiden – segala hal yang sangat lekat dengan hal pusat kekuasaan. Kilat bahagia kembali mengusap wajahnya yang bersih.</p>
<p>“Memang apa yang saya lakukan selama ini tak jauh dari pusaran kekuasaan dalam arti luas. Orang bilang saya beruntung  memiliki banyak kesempatan belajar ilmu politik karena berada di ring satu Presiden. Saya berterima kasih, meski sampai pada posisi ini sepenuhnya tidak dalam kendali pikiran saya,” ucap Julian yang  saat kecil ternyata hanya dua cita-cita dalam dirinya: terjun di bidang politik atau menjadi serdadu. “Ha ha ha, rasanya gagah serdadu membawa senjata,” dan kini ia bekerja kepada Seorang Panglima Tertinggi.</p>
<p>“Saya menyukai politik dari kecil karena ada daya tarik di bidang itu,” ucapnya mengenang. Dulu, ia mengartikan politik ialah kekuasaan. Namun saat ini, ia menganggap bahwa politik adalah kehidupan yang menarik dan dinamis, serta dituntut tanggung jawab besar. “Kini saya menyadari bahwa politik tak semata-mata tergantung sistem, tapi juga personal,” kata Julian yang sudah mempersiapkan dua buku tentang politik tapi belum dipublikasikan. “Saya beruntung tidak hanya melihat dari perspektif teori. Dengan pengetahuan teori ilmu politik, dengan melihat secara langsung&#8211;dari dekat,  maka korelasi antara teori dan realitas politik dapat diuji dan diverifikasi, setidaknya dalam konteks politik di Indonesia.” Dan Presiden SBY adalah gurunya.</p>
<p>Ketika pembicaraan ini hampir berakhir, ia seperti menemukan kepingan-kepingan kehidupan masa lalu yang dulu amat menyulitkan dirinya sendiri kini menyatu dan membentuk  sebuah gambaran. Ia mengerti bahwa perjuangannya dulu, termasuk mengambil jalan yang lebih sulit meski ada jalan lebih mudah, adalah sebuah misteri yang hampir terpecahkan. Apakah itu sebagai The Secret ataukah yang dikatakan Paulo Coelho dalam The Alchemist: And, when you want something, the universe conspires in helping you to achieve it, ia kini bisa memahami jalan hidupnya.</p>
<p>Lalu kembali menegaskan sebuah rahasia yang selama ini tersimpan dalan dirinya. “Pada dasarnya, saya seorang pemalu. A private man dengan kehidupan sendiri” katanya kemudian. Di manakah ia menyimpan kehidupan itu?  Bukan di istana. Bukan. Tapi di sebuah ruang di mana ia bisa sendiri, menikmati musik klasik, dan melenggangkan hayalan. Menjadi tuan atas dirinya sendiri. Itulah istana yang hanya dimilikinya, tempat rahasia di mana ia berteduh dari hiruk pikuk politik di Indonesia, dan terus menenangkan perasaannya.</p>
<p>Kriiingg…… Telepon kembali berdering.  <strong>(Rustika Herlambang)</strong></p>
<p>Stylist: Dany David. Fotografer: Randy Pradana. Lokasi: Istana Negara</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1256&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/julian-aldrin-pasha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110601-00053.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">julian aldrin pasha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yudi Latif</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/yudi-latif/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/yudi-latif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pria]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual islam]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Reform Institute]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Nurcholish Madjid]]></category>
		<category><![CDATA[Yudi Latif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1254</guid>
		<description><![CDATA[Ia menemukan diri dengan cara menziarahi akar genetik dan sosial budaya yang telah menjadikannya<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1254&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menuju Ke Akar Yudi Latif</h2>
<blockquote><p><em>Ia menemukan diri dengan cara menziarahi akar genetik dan sosial budaya yang telah menjadikannya</em></p></blockquote>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/cilandak-20110602-000621.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1281" title="yudi latif" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/cilandak-20110602-000621-e1325719780148.jpg?w=300&#038;h=223" alt="yudi latif" width="300" height="223" /></a></p>
<p>“Dalam kebimbangan arah hidup, jalan terbaik pulang ke akar.” Sebuah ungkapan Yudi Latif di laman twitter seperti memberi jalan untuk mengenalnya dengan lebih baik. Berbagai peristiwa dan sekaligus sejarah dirinya dalam memberi warna dalam percaturan intelektual di Indonesia pun tak lepas dari pernyataan ini. Aktivitas terakhirnya ialah ketika ia meluncurkan buku terbarunya: Negara Pancasila (NP). Di tengah situasi sosial politik Indonesia saat ini, kelahiran buku yang mengupas tuntas mengenai Pancasila menjadi jawabannya: mengembalikan Indonesia pada tempatnya, akarnya, jiwanya. <span id="more-1254"></span></p>
<p>Selama ini Yudi dikenal sebagai intelektual Islam yang dikenal kritis dan cerdas. Ia adalah pendiri awal Universitas Paramadina, pendiri Yayasan Nurcholish Madjid, dan Reform Institute – pusat studi independent yang banyak melakukan penelitian di bidang politik. Salah satu karya desertasi yang kemudian dibukukan dengan judul “Intelegensia Muslim Indonesia dan Kuasa” dianggap oleh banyak pengamat sebagai salah satu buku fundamental yang mampu memotret kehidupan intelektual Islam Indonesia.</p>
<p>Di sebuah kafe di Jakarta Selatan, Yudi lebih banyak bercerita dengan antusias tentang Pancasila dibanding tentang dirinya sendiri. Nada suaranya spontan. Rasa percaya diri sangat terasa dalam setiap kata-katanya. Riuh suara di sekelilingnya tak sedikitpun menyurutkan hasrat untuk menularkan pengetahuannya. Sesekali diseling lengking tawa. Sampai pada sebuah kesimpulan, ia berkata serius: NP tidak saja sekadar menyajikan pemikiran tentang Pancasila, namun juga menyadarkannya bahwa inilah buku pertamanya yang mengupas tuntas tentang masalah kebangsaan.</p>
<p>“Belakangan saya sadar, muncul pandangan nasionalis dari diri saya,“ ucapnya. Ia mengambil buku NP dari tasnya, lalu tangannya menunjuk kata-kata dalam halaman persembahan. Tertulis:  Tanda Terima Kasih, Kepada Ibu Pertiwi. “Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.”</p>
<p>NP adalah buku “bumi”-nya.</p>
<p>Pernyataan dalam laman twitter di atas juga membuka tabir lebih dalam tentang akar kesejarahan dalam diri Yudi. Hingga tiba pada sebuah pemahaman bahwa berbagai jejak sejarah yang pernah dibuatnya bukanlah sebuah kebetulan, kesengajaan, melainkan sebuah garis tangan yang tak bisa dipisahkan – mengambil istilah Yudi. Ia dihadirkan dalam sebuah masa ketika sebuah sejarah melintas, baik untuk dirinya, keluarga, dan juga bangsanya.</p>
<p>Yudi yang lahir 47 tahun lalu, berasal dari keluarga heterogen dari segi afiliasi politik dan status sosial. Ibunya seorang penari dan penyanyi yang datang dari keluarga menak Sunda. Kakeknya adalah Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan, lulusan sekolah Belanda yang sangat berorientasi politik ke Soekarno dan masuk PNI. Sementara sang ayah adalah seorang guru dari kalangan ulama yang memiliki pondok pesantren di Sukabumi, aktif dalam organisasi Islam, dan masuk dalam NU. Perbedaan ideologi semakin memuncak dipicu oleh ketegangan situasi politik di masa itu, sehingga kedua orang tuanya memutuskan berpisah.</p>
<p>Ibunya memilih mengikuti orang tuanya, pindah ke Banten. Yudi yang kala itu berusia 3 tahun dengan seorang adik lelakinya yang masih kecil tinggal bersama ayahnya di Sukabumi. Meski kemudian ayahnya menikah lagi dan ia memiliki saudara tiri hampir sebaya, tak sekalipun sang ayah membedakan kasih sayang di antara mereka. Satu hal yang tetap dilakukan ayahnya adalah terus aktif dalam organisasi, menjadi Ketua Koperasi Desa, dan ikut berkampanye untuk NU di tahun 1971. Dalam konteks masa itu, apa yang dilakukan ayahnya yang pegawai negeri itu amat berisiko. Tak jarang ia melihat ayahnya dijemput oleh petugas berseragam di rumahnya dan meninggalkannya selama berhari-hari.</p>
<p>Yudi kecil juga hidup berpindah-pindah dari satu tempat terpencil ke tempat terpencil lainnya mengikuti tugas sang ayah. Meski demikian, ia mengaku tak ada masalah dalam berhubungan dengan teman sebaya. “Rumah Bapak terbuka bagi siapa saja. Nyaris tiada hari tanpa obrolan dewasa, soal politik, sehingga saya terlalu cepat dewasa dari waktu yang sewajarnya,” ujar Yudi yang mengaku mengalami semacam <em>psychological barrier</em> untuk melewati masa kanak dengan natural. Dari Bapak pula ia ditanamkan tradisi baca dan menulis, pidato, puisi, dan mengikutkannya pada lomba-lomba. “Tradisi panggung saya sudah sejak kelas 1 SD.”</p>
<p>Yudi bertemu dengan ibu kandungnya ketika usianya 9 tahun, saat kakeknya pensiun dan kembali ke Sukabumi. Di akhir hayat, kakeknya menjadi sangat taat beragama, dan memintanya untuk terus mengaji. “Setiap saya kunjungi, selalu dia ceritakan bukan Al Quran, melainkan buku Di Bawah Bendera Revolusi. Lalu kami berdiskusi,” ia mengenang peristiwa yang paling berkesan tentang kakeknya, sebelum kemudian melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Gontor, dan perihal diskusi ini dengan cepat terlupakan.</p>
<p>Ketika kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, wawasan Yudi kian terasah, dan ia menikmati hidupnya sebagai seorang aktivis mahasiswa. Ia kerap memberi orasi dalam beberapa demonstrasi, dan sempat diinterogasi karena aktivitasnya mementaskan puisi WS Rendra di tahun 1985. Hal lain yang sering dilakukannya adalah berkunjung ke rumah tokoh-tokoh seperti Gus Dur atau Nurcholish Madjid untuk berdiskusi dan belajar, tanpa sekalipun berharap jabatan. “Selain cerdas, kedekatan dengan banyak tokoh tersebut karena ia punya latar belakang santri, NU, dia Islam tradisional dengan pemikiran kritis, sehingga ada cita-cita yang sama yang menyatukannya,” sahabat Yudi, Idi Subandy Ibrahim, menjelaskan.</p>
<p>“Ia hampir mendapatkan hal-hal yang diinginkan,” ucap Idi sembari menjelaskan sebuah perbincangan di atas angkot ketika Yudi mengagumi pemikiran Nurcholish Madjid. Beberapa tahun berikutnya Yudi menjadi orang terdekat Nurcholish dan dialah yang merumuskan Universitas Paramadina. Meski tak jadi memimpin universitas yang pernah dirumuskannya itu karena faktor internal yang tak dijelaskannya secara detail, kesibukannya juga tak berkurang. Ia menjadi dosen di beberapa universitas, menulis buku dan artikel secara produktif, dan asyik dengan Reform Institute dan yayasan Nurcholish Madjid.</p>
<p>“Sekarang saya mendapat manfaatnya, andai jadi rektor saya akan disibukkan dengan kegiatan administratif sehingga buku Negara Pancasila tidak akan terjadi,” katanya sambil tersenyum, lega. “Sudah selesai pertanggung jawaban saya sebagai orang Islam, dan sekarang sebagai orang Indonesia. Buku ini saya dedikasikan untuk Ibu Pertiwi. Bapak (Islam) itu ibarat langit bagi saya, dan Ibu adalah bumi,”ujarnya, sesuatu yang membawanya pada kisah masa lalunya.</p>
<p>“Tapi terus terang. Buku ini benar-benar tidak sengaja. Semuanya bawah sadar. Saya menulis pakai insting. Ternyata bawah sadar itu mempengaruhi banyak pilihan kita,” ujarnya. Diskusi masa kecilnya dengan sang kakek dan bayangan-bayangan itu berkelebat menjadi jembatan yang memberinya jalan untuk pulang sekadar mengenang sebuah nostalgia. Berbicara tentang negara. Tentang Di Bawah Bendera Revolusi. Seperti tertulis dalam blackberry massanger-nya, <em>Join the past to build a new</em>!.</p>
<p>“Ini memberi energi spiritual. Sesuatu yang mengendap di bawah sadar itu seperti energi yang memberi dasar intuisi,” dan ia percaya pada Albert Einstein bahwa intuisi lebih kuat dari pada pengetahuan karena dibangun melalui pengalaman. Apa yang ia lakukan seperti mengisi kisi-kisi lompatan-lompatan masa lalu, bagian dari akar darah dagingnya yang ternyata tak pernah menghilang dan justru menjadikannya digdaya, memberinya kekuatan. “Buku itu tak akan selesai kalau mengandalkan kekuatan pengetahuan karena terlalu banyak mengandalkan data tentang Indonesia.”</p>
<p>Ia lalu bicara tentang sejarah Indonesia dengan presiden Soekarno, mantan Presiden Indonesia yang juga pencetus Pancasila itu. “Saya ini ada kesamaan dengan Soekarno,” ia tertawa. “Orang yang banyak menggunakan daya pikir dalam hidupnya, sebenarnya juga infantil, kekanak-kanakan. Bila di panggung dia sangat ekstrovert, sebenarnya ada sesuatu yang ditutupi. Dia memerlukan segi romantik, segi percintaan yang luar biasa, ha ha ha,” ujarnya sembari menyamakan masa lalunya dengan Soekarno yang juga mengalami kurangnya pengasuhan dari ibu.</p>
<p>Dulu ia amat menyukai perempuan aktivis: seseorang yang bisa diajak berdiskusi dalam segala hal. Tapi  pengalaman menyadarkannya bahwa dalam batas tertentu hal itu menyenangkan, namun ketika aroma meja makan diisi oleh banyak perdebatan, akan menjadi sangat melelahkan karena aktivitasnya di luar rumah pun berkisar tentang diskusi dan keilmuan. “Saya rindu perempuan rumahan,” ucap Yudi yang pernah gagal dalam perkawinannya.</p>
<p>Cinta romantis rupanya menjadi salah satu persoalan dalam dirinya. <em>Role model</em> yang didapat ayahnya, cinta adalah memberi makan pada orang miskin, dan bukan dalam bentuk belaian ataupun pelukan. Padahal hal itu, menurut Yudi, sangat signifikan. Dan untuk melengkapi kehidupannya, ia menginginkan perempuan yang bisa mengisi kekurangannya. Perempuan itu adalah Linda Natalia Rahma. “Ia mantan Ratu Kebaya Jawa Barat loh,” tutur Yudi, bapak empat anak dengan bangga, sesuatu yang mengaitkannya pada hal-hal yang dicintainya: keindahan dan seni.</p>
<p>“Saya sebenarnya adalah mahkluk paradoks,” katanya tiba-tiba. Lalu menjelaskan kalimatnya. Meski terlihat banyak punya teman, hal itu adalah bagian dari pertemanan tingkat publik. “Dari segi personal yang intim, saya sangat menggunakan bahasa hati,” katanya. Pun dengan buku-buku yang ditulis. Semua berasal dari suara hatinya, suara jiwanya. Pertanyaan kemudian bermunculan. Bila akhirnya ia menuliskan “bumi” di sini, benar sedang rindukah ia pada “ibu”-nya, ataukah sebuah tali kasih yang akhirnya mempertemukan “langit” pada “bumi”-nya?</p>
<p>Suasana siang kian panas. Ia terdiam di tempat duduknya yang berada tepat di bawah Poster Soekarno dengan bendera merah putih dengan posisi memunggunginya. Kepala Soekarno terlihat menengok ke samping kiri, seolah tak sabar ingin segera mendengar jawaban Yudi. (<strong>Rustika Herlambang)</strong></p>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110602-000641.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1282" title="yudi latif" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110602-000641.jpg?w=225&#038;h=300" alt="yudi latif" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Lokasi: TRF Dinner, Citos. Foto: Anton Jhonson. Stylist: Raden Prisya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1254&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/yudi-latif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/cilandak-20110602-000621-e1325719780148.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">yudi latif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/10/img-20110602-000641.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">yudi latif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Davy Linggar</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/davy-linggar/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/davy-linggar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 03:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[cinta....]]></category>
		<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pria]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Davy Linggar]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[photographer]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Rupa Kontemporer Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1244</guid>
		<description><![CDATA[Ia tahu bagaimana menghadirkan keindahan dan cinta dari sudut pandang yang tidak biasa<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1244&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Keindahan yang Bersahaja</h2>
<blockquote><p><em>Ia tahu bagaimana menghadirkan keindahan dan cinta dari sudut pandang yang tidak biasa</em></p></blockquote>
<p>Davy Linggar (37) memesan segelas es coklat untuk memulai perbincangan pada suatu pagi menjelng siang di sebuah kafe di Plaza Senayan. Lepas dari kesukaannya, mungkin ia perlu zat-zat serotonin dalam coklat untuk memberi rasa nyaman dan rileks. “Saya nggak bisa ngomong, jadi ngomongnya lewat motret, lewat visual,” ujarnya pendek, sedikit terpatah. Duduk satu meja dengannya, Jane Hufron, managernya, dan Seno, asistennya. Jiahara, anak lelakinya, tertidur pulas dalam kereta dorong.</p>
<p>Menemuinya bukan perkara gampang. Selain sibuk, seniman dan fotografer <em>fashion</em> terkemuka diIndonesia ini terbilang enggan dipublikasikan, terutama menyangkut dirinya sendiri. Alasannya, seperti tersebut di atas, merasa tak bisa bicara. Dan dalam perbincangan berikutnya, ia bukanlah tipe pria yang mengumbar cerita tentang pribadinya. Namun demikian, ia terlihat “cerewet” tatkala perasaannya nyaman karena berada pada waktu, suasana, tempat, dan “frekuensi” yang sama dengan lawan bicaranya. Setiap kalimat yang diucapkan pendek-pendek itu terangkum kecerdasan dalam memandang setiap hal, seperti karya lukis dan foto-foto yang diabadikannya.<span id="more-1244"></span></p>
<p>Saat ini, ia sedang mempersiapkan pameran karya lukisan terbarunya. Seperti karyanya yang lain, ia masih akan mengangkat kehidupan keseharian di atas kanvasnya, sesuatu yang menjadikannya unik. Dalam pameran tunggalnya beberapa waktu lalu, ia membuat lukisan berupa betis yang ditekuk menempel paha, dua lengkung pegangan tas, tanaman pot di satu sisi jendela apartemen. Ia merekam objek dengan komposisi yang bagus. Karya fotonya juga tak jauh beda. Mencerminkan kebebasan untuk setia pada objeknya sekaligus membingkainya dan memberi penikmatnya sebuah keindahan yang tak pasaran.</p>
<p>Cara pandang dalam melihat realitas di sekelilingnya menunjukkan daya pikir, imajinasi, dan sensitivitas yang tidak banal. Bakat seni itu sudah tercium oleh sang ayah, Richard Linggar, sejak Davy belajar berjalan dengan mencoret seluruh dinding rumah. Oleh ayahnya, ia disediakan kertas putih satu rim untuk menjadi media, dan mengajaknya keliling rumah sambil memperlihatkan keindahan yang sering luput: daun yang kering yang jatuh di atas kolam, kayu keropos, kodok, bunga kecil, dan sebagainya. ”Saya tidak mengajarinya teknik, melainkan mengasah kepekaan yang ada di sekeliling,” ucap Richard.</p>
<p>Keterampilan teknis itu didapatnya dari sanggar lukis yang dimasukinya. NAmun ketika terjadi penyeragaman pola jenis lukisan pada sanggar, Richard kembali menegaskan padanya, “Jadilah dirimu sendiri, jangan ikutigayasanggar.” Setiap minggu Davy ikut dalam berbagai kompetisi melukis dan hampir selalu meraih kemenangan. Waktu duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, Richard memberikan kado ulang tahun berupa kameraFuji. Sejak itu keduanya, selain melukis, juga berburu objek foto di berbagai tempat keseharian: tukang sampah di depan rumah, pasar, pasar sapi, jalan raya, dan apapun yang ada di sekitarnya</p>
<p>Suasana seperti itulah yang membesarkannya. Ayah yang awalnya bekerja sebagai kontraktor memilih membantu sang ibu mengurus perusahaan konveksi baju anak-anak di rumah. Waktu kecil, Davy menjadi model untuk perusahaan ibunya, difoto oleh ayahnya, meski untuk keperluan baju perempuan. Tak jelas apakah kedekatan dengan konveksi itu kelak memengaruhi kesukaannya dalam dunia <em>fashion</em>. Dua adik Davy lahirlima tahun sesudahnya, sehingga seperti dikatakan sang ayah, hubungan ayah-anak cukup intens.</p>
<p>Memotret dan melukis menjadi oase bagi karakter Davy yang introvert yang diturunkan dari keluarganya. Ia dapat keuntungan finansial. Tabungan hasil dari kemenangannya di berbagai lomba lukis ia belikan kamera. Dengan kamera itu, ia menjadi “tukang foto” keliling untuk teman-temannya, dan mendapat sejumlah uang terima kasih yang bisa memenuhi tabungannya. Pada saat itu, ia sering memenangkan lomba fotografi dan menjadi kontributor untuk sebuah majalah fotografi. Kesibukan ini tidak berhenti bahkan ketika ia melanjutkan pendidikan di jurusan senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB) sesuai rencananya.</p>
<p>“Tapi saya keluar,”kata Davy. Awalnya karena kecewa pada matakuliah anatomi yang menghadirkan model perempuan yang mengenakan baju senam dan celana. Baginya, hal ini sangat tidak masuk akal. Rasa frustasi itu berujung pada sebuah pameran tunggal fotografi Nico Dharmajungen di Galeri Antara sekitar tahun 1995. Pada detik itu juga, ia memutuskan untuk keluar dari jurusan senirupa dan pindah ke jurusan fotografi di Universitaet GesamthochshuleEssen, Jerman.</p>
<p>Spontanitas yang sering terjadi pada diri Davy kadang mengejutkan sang ayah. Termasuk ketika memutuskan pula berhenti dari kampusnya di Jerman meski baru menjalani dua semester disana. Alasan terbesarnya, ia tak ingin memberatkan ayahnya. Di sisi lain, ia beranggapan bahwa perkembangan pelajaran yang diberikan di kampusnya sangat lambat dibanding dengan rasa ingin tahunya yang teramat cepat. Itu sebabnya, ia mengaku sering membolos, membeli perlengkapan fotografi, dan melakukan eksplorasi sendirian. “Saya tersiksa kalau ujian, malas mengerjakan tugas. Segala hal yang urusan dengan birokrat, formal, saya tak suka,”ujarnya dengan nada datar.</p>
<p>Pencarian itu belum selesai. Ia kembali mengagetkan dengan menerima tawaran kerja di sebuah majalah fotografi diJakartaketika sedang liburan diJakarta, dan meninggalkan seluruh perlengkapan fotografinya di Jerman begitu saja. “Waktu itu benar-benar sedang liburan keJakarta, jadi hanya membawa bekal satu ransel,”Richard berkisah.</p>
<p>Sejak itulah hidupnya mengalir. Ia keluar dari pekerjaannya dan memilih berjalan sendiri sebagai fotografer dan menggunakan namanya sendiri, Davy Linggar Photography. Meski bersikap profesional, untuk urusan pekerjaan ia masih sangat idealis. Seperti ditegaskan Richard dan diakui oleh Davy, ia tak mau didikte. “Saya cinta banget dengan fotografi, ketika mendapat pekerjaan foto yang konsepnya saya tak suka atau tak cocok, saya pasti menolak, meski nilainya besar, ”ujar Davy yang dalam berkarya lebih banyak lahir dari mata hatinya. “Efeknya, kalau hasilnya jelek, dan orang akan bilang kerjaan Davy jelek. Saya tak mau.”</p>
<p>Ia lantas memberikan contoh foto pre-wedding yang belakangan ini konsepnya sangat lihai, dan aduhai. “Saya tak bisa memotret seperti itu. Saya mau apa adanya pasangan mereka, bukan mereka mau jadi siapa,” katanya menjelaskan. Karakter menjadi hal yang terpenting dalam karya-karya Davy. “Saya tak suka sesuatu yang dibuat-buat. Saya mau apa adanya,” dan dengan prinsipnya ini kliennya lebih terseleksi. Jangan harapkan ada sesuatu yang bombastis dari setiap karya fotografinya. Davy mengungkap keseharian dalam sudut pandang yang tak biasa, menjadikan setiap foto sangat personal. Sudut pandang yang dipelajarinya sejak kecil dalam melihat kenyataan.</p>
<p>Apa yang sebenarnya ia lakukan adalah seperti  sebuah pemberontakan dalam diam. Pemberontakan terhadap apa yang dianggap sebagai dogma “keindahan” baik dalam dunia fotografi seperti dalam kasus pre-wedding, pemotretan fashion yang harus selalu sempurna, termasuk dalam hal yang disebut sebagai “ketimuran”</p>
<p>“Davy adalah salah satu fotografer terbaikIndonesiasaat ini. Ia melihat kenyataan jauh lebih indah daripada polesan. Dan setiap karyanya ada sensualitas yang ditampilkan dengan sangat baik,” budayawan Taufik Rahzen yang pernah bekerjasama dengan Davy dalam pembuatan buku untuk Edward Hutabarat menegaskan. Sensualitas itu dihadirkan dengan caranya sendiri, bukan dengan memoles, tetapi membiarkan objek itu ada di tempatnya dengan segala realitas yang senyatanya. “Ia seperti menempatkan teks pada konteksnya,”puji Taufik.</p>
<p>“Buat saya kejujuran itu penting,”kata Davy, yang ternyata tak suka difoto sama sekali. (<em>Pada saat artikel ini terjadi, sulit sekali menemukan foto dirinya yang bernuansa terang. Semuanya kabur, seolah meninggalkan misteri pada orang yang ingin mengenalnya</em>.)</p>
<p>Jane dan Seno, salah satu asistennya, bercerita. Kalau sedang bekerja bersama mereka menggunakan “telepati” karena hampir pasti Davy tak pernah mengarahkan atau mengungkapkan keinginannya secara langsung dan terus terang. “Akhirnya, kita harus sensitive terhadap dia. Dan selama ini ia sudah dikenal kalau sedang motret dia diam saja, tapi bekerja,” Jane menambahkan. Yang dimaksud di sini adalah diam-diam Davy mengamati dan menangkap karakter objek yang difotonya. “Saya ingin segala sesuatunya natural, tidak dibuat-buat. Jadi saya ikuti saja alurnya, bukan memaksakan seperti yang saya mau,”ujarnya.</p>
<p>“Segala hal yang tak suka atau yang mau saya bicarakan tapi gak bisa keluar lewat kata, saya keluarkan lewat lukisan,”ujarnya sembari menunjukkan karya-karya lukisannya yang ada di dalam iphone-nya. Lukisan itu berupa meja makan kayu dengan piranti makan yang disajikan dengan Birkin Bag, anjing, babi, dan perempuan telanjang. “Ini kejadiannya di Loewy (sebuah restoran papan atas yang menjadi tempat berkumpul sosialita). Banyak gossip, dan menarik, dan saya lukiskan di sini melalui simbol-simbol.”</p>
<p>Meski sebagai penyaluran ekspresi terpendam, Davy melakukannya dengan sungguh-sungguh. Ia pernah berpameran tunggal atas karya lukis dan fotografinya. “Yang menarik dari karya-karyanya adalah sense of spontaineity-nya, seperti apa adanya, rileks, dan ekspresif, ” Mia Maria, curator dari Linggar Seni menjelaskan. Ia selalu menampilkan momen keseharian dengan bekal teknik yang baik yang disempurnakan dengan mentalitas perfeksionis. Finishing dan cara mengemasnya sangat detail. “<em>Very meditatif in a way</em>”.</p>
<p>“Sebenarnya saya melukis karena suka dan untuk kesenangan bukan untuk dipamerkan,”ia tersenyum kecil. Ia menyukai proses ketika sebuah lukisan dihasilkan mulai dari memesan spanram, memotong kanvas, memasang di spanram, melukis, sampai membuat kemasannya. “itu seperti terapi buat saya, gimana sih gak sabar memasang kanvas, bagaimana saya mau melukis?” davy pernah menghebohkan dunia senirupa ketika bersama seniman Agus Suwage menampilkan karyaPinkswingParkdi CP Bienale yang lantas dilaporkan oleh ormas Islam karena dianggap karya pornografi. Pengalaman ini tidak lantas membuatnya kapok atau trauma, setrauma ia mendapati perempuan berbaju senam di ruang kelas pelajaran anatomi.</p>
<p>Davy selalu menemukan keindahan yang ada di setiap detail objek keseharian yang mungkin luput dari pandangan mata biasa. Keseharian itu pula yang membuat hidupnya lengkap. Termasuk mempertemukannya pada Jane Hufron, perempuan yang menjadi managernya sejak 2002, menjadi istrinya. Bagi Davy, cinta adalah sesuatu yang nyata, yang hadir, dan selalu ada di dalam keseharian, bukan hanya dalam kata-kata, apalagi polesan-polesannya. Ia adalah bapak satu anak bernama Jiahara – sebuah nama yang ia gunakan sebagai akun twitternya.</p>
<p>Seseorang yang mengerti tentang dia, katanya, mungkin hanya Jane. Yang memotong rambutnya hanya Irwan, dari Irwan Team. Dan rumah benar-benar menjadi spot istimewa buat Davy untuk terus melakukan aktivitas kesukaannya: mengasah kepekaan fashion, melukis, membereskan rumah (ia menyebutnya: seperti tukang), bermain bersama Jiahara, dan melakukan manicure-pedicure dengan tukang langganannya. Dan itulah Davy. Keseharian adalah singgasananya.</p>
<p>Di kafe itu, ia menunjuk sebuah kaca buram, di antara gelas dan piring-piring, lelampuan, interior yang berkilauan, menghadap ruang makan restoran yang menjadi saksi pergulatan yang terjadi di dalam kafe dari hari ke hari. Yang mengerti, mana yang jujur dan tak jujur, yang murni dan polesan, di antara pengunjung-pengunjung setianya. Davy ingin segera membingkainya. Memberikan sebuah realita di gemerlap ibukota, dalam bahasa yang amat bersahaja. (<strong>Rustika Herlambang)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1244&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/10/02/davy-linggar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melati Suryodarmo</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/31/melati-suryodarmo/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/31/melati-suryodarmo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 04:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Marina Abramovic]]></category>
		<category><![CDATA[Melati Suryodarmo]]></category>
		<category><![CDATA[Padepokan Lemah Putih]]></category>
		<category><![CDATA[Performance Art]]></category>
		<category><![CDATA[Performance Art Laboratory (PALA)]]></category>
		<category><![CDATA[profil wanita]]></category>
		<category><![CDATA[seniman kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Senirupa Pertunjukan]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[Suprapto Suryodarmo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Menengok kembali hal-hal yang ia tutupi dalam diri selama ini adalah bagian dari rahasia kesuksesannya <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1239&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mendekat Tanpa Jarak</h2>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00141.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1240" title="Melati Suryodarmo by rustika herlambang" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00141.jpg?w=223&#038;h=300" alt="Melati Suryodarmo by Rustika Herlambang" width="223" height="300" /></a>    <a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00149.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1241" title="Gondangrejo-20110613-00149" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00149.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Menengok kembali hal-hal yang ia tutupi dalam diri selama ini adalah bagian dari rahasia kesuksesannya kini</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sebuah kursi panjang dari kayu, Melati Suryodarmo (42) bercerita tentang tentang dirinya. Seniman senirupa pertunjukan (<em>Performance Art</em>) perempuan asal Solo, Indonesia, yang kini bermukim di Jerman itu sudah mengambil posisi duduk yang nyaman: bertimpuh pada satu kaki, dan membiarkan kaki lainnya bebas bergerak. Di sekelilingnya terlihat aneka benda kuno yang pernah dipakainya dalam berkarya, koleksi sang ayah, Suprapto Suryodarmo, seorang penari dan seniman gerak (<em>free movement</em>) yang juga pemilik dan pendiri Padepokan Lemah Putih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Performance Art</em> atau senirupa pertunjukan (SP) merupakan pengembangan dari bidang senirupa yang menggunakan tubuh sebagai media seni,” ia mengawali perbincangan. Mungkin paham bahwa bidang seni yang dilakoni itu bukan termasuk jenis yang melayani selera kebanyakan. SP mewakili perjalanan sebuah pemikiran, konsep, dan pengkristalan suatu fenomena terpilih. SP tidak menyampaikan pesan secara verbal, melainkan berkomunikasi melalui bahasa tindakan. Penampilan disajikan kepada penonton secara interdisipliner, kadang mengunakan skenario, kadang spontan, dan  bukan sekadar soal improvisasi seperti halnya dalam teater. “SP, dalam sejarahnya, membongkar dan mendobrak aturan konvensional senipertunjukan dan senirupa,”katanya.  <span id="more-1239"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam senirupa pertunjukan dunia, nama Melati dikenal sebagai salah satu penampil besar. Kekuatannya terletak pada penggalian atas kedalaman persepsi yang sangat personal di mana sebuah tema dilakukan dengan suatu kekuatan fisik yang luar biasa. Dalam Exergie -Butter Dance, misalnya, ia menari-nari dengan busana hitam ketat dan high heel merah di atas 24 blok mentega, sehingga berkali-kali jatuh dan terjungkal. Meninggalkan rasa sakit atau lebam-lebam di sekujur tubuhnya. Dalam karya yang pernah dipentaskan dalam Venice Biennale Dance Festival 2007, ia berekspresi dengan pasangan mainnya dengan tubuh digantung selama lima jam. Karya yang lain, ia duduk selama 8 jam dengan membawa bola di atas kursi yang terletak di atas dinding.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya bukan ingin mengalami kesakitan dengan sengaja, namun ide itu muncul dari pengalaman personal sesungguhnya, seperti terjemahan dari sebuah situasi,” katanya. Tidak hanya pendalaman secara psikologis melainkan juga membuka fenomena apa yang terefleksikan dalam suasana tersebut. Lalu ia menjelaskan, “Saya tidak memaksa atau mendidik publik dengan apa yang saya tampilkan. Saya justru memberi jarak, sebagai upaya untuk proses pembelajaran untuk memahami manusia lain, sehingga publik tidak terlibat dan bisa berpikir lebih bebas.” Nada suaranya datar.</p>
<p>Dalam kisahnya yang muncul berturutan, banyak pengalaman hidup yang tidak mudah dilalui Melati. Sebuah senyum kecil melintas. Beberapa kenangan “pergulatan” emosional bertukar tangkap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ayahku seorang idealis,” ia menegaskan, satu kalimat yang seolah menjadi senjata pamungkas untuk memahami kehidupan masa kecilnya. Ibunya seorang penari. Ayahnya pernah diskors dari Universitas Indonesia karena dianggap pro-Bung Karno, dan tidak pernah mau minta maaf atas perbuatannya itu. Meski demikian, sang ayah tidak pernah menyerah. “Ia mengambil pendidikan di Filsafat UGM dan terus memperdalam ilmu meditasi dan gerak,”ujar Melati yang pernah merasakan ketika ayahnya menjadi tukang parkir dan tukang kelapa, sementara sang ibu berjualan rokok, demi berjuang hidup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati menikmati masa kecil dengan penuh kesibukan di kampung Kemlayan, Solo, dalam lingkungan pengrawit gamelan dan penari. Ia belajar menari pada Pak Ngaliman, maestro tari asal Solo yang dianggap terlibat Lekra. Beranjak remaja, ia belajar teater dan menulis puisi pada Wiji Thukul. Belajar melukis dengan Sri Warso Wahono. Ia juga mengikuti olahraga taichi, meditasi, dan aerobic &#8211; segala hal yang berkaitan dengan olah tubuh dan jiwa. Tapi kenangan yang paling berkesan justru ketika diajak ayahnya “menginap” di Candi Plaosan atau Mendut pada setiap bulan purnama, dan melihat ayahnya mengasah kemampuan dan eksplorasi gerak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayahnya mengajarinya untuk berpikir kritis dan menanamkan sikap untuk menjadi Jawa pra-kolonial. Di rumahnya, perdebatan-perdebatan intelektual terjadi, melewati hubungan konvensional ayah anak. Dan hal itu menjadi lebih ditegaskan lagi tatkala suatu masa mulai banyak orang asing yang menjadi murid ayahnya dan berada di lingkungan terdekatnya. “Ayah selalu mendobrak pandangan kolonial bahwa kulit putih lebih unggul. Bahwa antara saya dan murid-murid ayah adalah sejajar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbarengan dengan meningkatnya kesibukan sang ayah, diundang ke berbagai negara, Melati yang menjadi sulung dari tiga bersaudara ini harus menjaga keluarga. Terutama harus mendampingi ibunya yang terkena kanker selama empat tahun, sebuah masa yang benar-benar mengisi masa remajanya. Ia ingat waktu itu sang ayah memperhatikannya dengan memintanya bergabung di Meditasi Sumarah, dan menitipkan ia pada gurunya. “Pengalaman itu memang sangat mengguncangkan, dan membuat saya sempat berhenti bicara selama berminggu-minggu,” ia mengungkapkan salah satu trauma masa lalunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya digelisahkan ayah, dengan mengetahui bagaimana antar negara berhubungan secara kultural,” ia mengutarakan alasan memilih jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung. Karena merasa tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut, ia berniat pindah ke jurusan senirupa. Keinginannya ini jelas-jelas ditolak sang ayah yang beranggapan bahwa seni bisa dipelajari dengan otodidak. Ia kembali menyimpan harapannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah merampungkan kuliah, ia menikah, dan tinggal di Jerman mengikuti suaminya. “Saya berencana mengambil pendidikan manajemen seni di sana,” tandas Melati yang pernah belajar manajemen seni dari Sari Madjid waktu mengurus ayahnya berpentas di Jepang. Namun jurusan yang ia inginkan tak ada di kota tempat tinggalnya, pernikahan kandas setahun kemudian – dan meninggalkan ,lagi-lagi, berbagai cerita traumatik lainnya. “Kalau saya sedang sedih, saya selalu menuju ke danau dekat rumah, dan berdiri berjam-jam di sana,”ia ungkapkan proses meditasi yang dijalaninya hingga kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertemuannya dengan dunia SP sendiri berlangsung sangat unik. Hanya sebuah pertemuan yang tak diduga di sebuah taman antara dirinya yang sendirian dengan seorang perempuan tua. Hanya ketika si perempuan mengatakan bahwa dia asal Jepang, Melati dengan sangat antusias berkata bahwa ia pernah ke Jepang dalam rangka belajar menjadi asisten ayahnya ketika bekerjasama dengan penari Butoh. Ternyata, perempuan itu adalah Prof. Anzu Furukawa, master Butoh, yang lantas menawarkan untuk hadir di kelasnya. Sebuah kebetulan yang terjadi di sekitar tahun 1994 ini kelak benar-benar mengubah arah hidupnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Itulah saya katakan, saya tak berani punya cita-cita. Hidup saya mengalir. Saya bekerja keras dan menjalaninya dengan baik,” ia mengutip petuah ayahnya. Setelah setahun duduk sebagai mahasiswa tamu, ia mendaftarkan diri pada jurusan SP di Hochschule fuer Bildende Kuenste, Braunschweig, Jerman, dan (beruntung) berada dalam bimbingan nama besar dalam dunia seni kontemporer seperti Prof. Anzu Furukawa, Mara Mattuschka, dan Prof. Marina Abramovic. Sejak itulah perjalanan kariernya sebagai seniman dimulai. Ia menikah lagi dan melanjutkan pendidikannya hingga tingkat <em>meisterschule</em> (setingkat S2).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saya tidak mau berhenti sekolah. Tidak punya pilihan, kecuali membawa bayi saya ke tempat kuliah, dan menitipkannya pada Marina ketika saya sedang ada pekerjaan,”ia tertawa kecil, mengenang romantisisme dengan putri tunggalnya, Selina, di awal kariernya. Ia belajar keras ketika bekerja sebagai asisten Prof. Marina selama 4 tahun. Di sisi lain, ia membuka dan menjalin jejaring dengan seniman-seniman internasional SP, baik yang ada di dalam maupun di luar mainstream. Saat ini sudah ada ratusan karya sejak tahun 1996 berupa fotografi, film, instalasi, dan senirupa pertunjukan dihasilkan dan ditampilkan di banyak negara di Amerika, Eropa, dan Asia. Ia juga kerap diminta memberikan workshop dan menjadi dosen terbang di berbagai jurusan seni di beberapa negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di Indonesia, ia mendirikan PALA (Performance Art Laboratory) yang merupakan sebuah “laboratorium” kelompok diskusi seniman senirupa pertunjukan dari berbagai negara di tahun 1997 dan rutin menggelar acara tahunan di Bali. Acara ini dilanjutkan dengan Undisclosed Territory, yakni pementasan oleh seniman-seniman senirupa pertunjukan internasional yang berlangsung di Padepokan Lemah Putih – di mana ia menjabat sebagai Direktur Program Seni dan Budaya. Seorang pengamat seni, Halim HD, memberikan apresiasi atas acara tersebut, “Acara itu luar biasa karena bisa menghadirkan para maestro dari berbagai negara.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati tampak menikmati segala proses berkeseniannya. “SP sangat menyenangkan karena berbicara tentang diri saya sendiri, dan saya tidak memerankan orang lain,” ia menemukan “terapi” kehidupan yang telah menyelamatkan jiwanya yang terguncang. Berbagai trauma yang pernah menghinggapinya di masa lalu ternyata justru menjadi mata air ide-idenya selama ini. “The Dusk diangkat dari trauma ketika saya memutuskan berhenti bicara. Butter Dance diangkat dari pengalaman personal sebagai warga asing yang tinggal di Jerman yang kadang diperlakukan tidak sebagaimana manusia pada umumnya,” ia memberikan contoh. “Menengok kembali berbagai peristiwa masa lalu yang kita tutup-tutupi itu penting dan tubuh kita adalah kontainer dari memori-memori itu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beruntunglah ia memiliki daya tahan tubuh luar biasa karena dibesarkan dalam lingkungan di mana pemahaman mengenai sejarah tubuh dan tubuh sebagai cultural body dipelajari. Ketika tampil, sama sekali tak ada manipulasi atau trik-trik, semuanya terjadi secara natural. “Modalku kan tubuh, saya harus menjaga stamina dan mental,” kata Melati yang hingga kini masih melakukan meditasi, yoga, fitness, dan retret dengan cara tidak bicara selama berhari-hari. Tubuhnya sintal dan padat. “Saya menerima tubuh saya apa adanya. Ini bukan soal feminis atau tidak feminis. Tapi saya ingat ada seorang professor mengatakan, <em>Melati is not feminist artist, she exposes femininity</em>.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan akhirnya seluruh pengalaman tubuh dan jiwanya menyatu dan memberi makna signikan dalam kedalaman karya-karyanya. Pemikiran kritisnya. Pengalaman masa lalunya. Idealismenya. Kekuatan tubuhnya. Segala hal yang pernah dieksplorasinya. Seni itu kini juga menemukannya kembali pada sang ayah, dalam cita, dalam cinta. “Kini saya hidup dengan senirupa pertunjukan. Senirupa pertunjukan menghidupi saya,”ungkapnya dengan perasaan bahagia. Perempuan pejuang yang memberdayakan diri itu kini telah menemukan jalan hidupnya. <strong>(Rustika Herlambang)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rias wajah: Dody Salon, Solo. Lokasi: Padepokan Lemah Putih. Fotografer: Ferdy Adrian Yulianto</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1239&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/31/melati-suryodarmo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00141.jpg?w=223" medium="image">
			<media:title type="html">Melati Suryodarmo by rustika herlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/gondangrejo-20110613-00149.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Gondangrejo-20110613-00149</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ninuk Widyantoro</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/ninuk-widyantoro/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/ninuk-widyantoro/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 01:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Ninuk Widyantoro]]></category>
		<category><![CDATA[profil wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Kesehatan Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[Kalau punya cita-cita yang jelas, pasti hidup kita akan lebih sederhana. Tidak pernah rumit. Percayalah. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1221&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menuju Satu Bintang</h2>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/img-20110606-00089.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1222" title="Ninuk Widyantoro" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/img-20110606-00089.jpg?w=300&#038;h=222" alt="Ninuk Widyantoro" width="300" height="222" /></a></p>
<blockquote><p><em>Kalau punya cita-cita yang jelas, pasti hidup kita akan lebih sederhana. Tidak pernah rumit. Percayalah. </em></p></blockquote>
<p>Perjalanan kehidupan adalah sebuah misteri yang terselubung dalam setiap peristiwa. Tak setiap manusia bisa memaknainya, hingga tiba dalam suatu masa ketika ia disadarkan akan setiap hal dalam catatan kehidupannya. Pun demikian halnya dengan Ninuk Widyantoro, psikolog dan seorang aktivis kesehatan reproduksi perempuan. Aktivitas dalam bidang kesehatan itu akhirnya bisa memadukan keinginan batinnya menjadi seorang guru tk seperti yang dicita-citakannya dan menjadi “dokter” seperti yang diinginkan oleh ayahnya.</p>
<p>Saat ini, ia adalah Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), yang memperjuangkan perlindungan hukum terutama bagi<em> </em>kesehatan kaum  perempuan. Ia termasuk psikolog pertama di Indonesia yang menyusun panduan konseling Keluarga Berencana, saat itu untuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebuah LSM tertua yang memelopori gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Modul konseling training yang dibuatnya juga dipakai di berbagai negara, seperti Vietnam, Iran, Turki, Azerbaijan, Kazakhtan,  Bangladesh dan sebagainya.<span id="more-1221"></span></p>
<p>Sebelumnya, ia adalah psikolog dan salah satu pendiri biro konsultasi psikologi Fenomena pada tahun 1978 dengan aktifitas utama untuk membantu perusahaan menyeleksi calon karyawan – yang masih eksis hingga kini . Pertemuan dengan dunia Kesehatan Perempuan terjadi di tahun 1980. Tatkala PKBI membuka kembali klinik-kliniknya dengan meningkatkan kualitas pelayanan KB komprehensif; seorang pengurus mempertemukannya dengan DR. Sudraji Sumapraja, ginekolog dan pengurus PKBI. Sebelum memutuskan, ia melakukan observasi dan survey sederhana dan mendapatkan fakta banyak perlakuan tidak santun terhadap pasien gagal kontrasepsi, bahkan petugas medis seakan menjadi polisi moral. Kegagalan dalam KB ternyata sangat membebani perempuan.</p>
<p>Sementara itu, katanya, ia melihat DR. Sudraji begitu komunikatif dengan pasien-pasiennya, tidak tergesa-gesa, melayani dengan sepenuh hati, terkadang bahkan meminjamkan buku. Sikap ini mengingatkan pada adik kakeknya, Prof. Yudono, ginekolog yang pernah menjabat direktur RS. Pantirapih Yogyakarta, yang ramah dan tidak memandang status dalam berpraktek. Dua sosok lelaki, kebetulan aktif sebagai pendiri dan pengurus PKBI, membuat ia yakin atas pilihannya bergabung dengan PKBI sebagai konselor KB.</p>
<p>Pengalaman dengan dua ginekolog tersebut membuat ia mudah menyusun dasar konseling KB. Yang disebut konseling adalah sebuah upaya dan proses memberdayakan klien untuk mampu mengambil keputusan tentang cara atau metode kontrasepsi apa yang akan digunakan dalam ber-KB. Dengan demikian, ketika klien bertemu dengan dokter, mereka sudah punya keputusan/pilihan. Dasar konseling tersebut adalah: pertama, informasi yang diberikan harus terbuka, jujur-tidak bohong atau hanya menjelaskan yang menyenang-nyenangkan tanpa menyebut efek samping. Kedua, bersikap ramah dan sabar dalam melayani. Dan tak kalah pentingnya, ia mempersiapkan ruangannya dengan interior – yang dibawa dari rumah- supaya terasa homey.</p>
<p>Apa yang dia lakukan memang sebuah kerja keras. Untuk memberikan informasi dengan jelas, Ninuk yang lulusan psikologi pun harus membaca buku-buku medis mengenai kesehatan perempuan – dibantu oleh DR. Sudraji. “Ketika bertemu pasien, saya sudah bisa menerjemahkan keterangan medis dengan  menggunakan bahasa orang awam,”katanya senang. Pendekatan dan metode konseling ini dianggap berhasil, sehingga ia diminta untuk melakukannya di klinik PKBI lainnya.</p>
<p>Tigabelas tahun lamanya ia bergabung bersama PKBI, dan mulai merasakan akan kebutuhan pemberdayaan pada masyarakat umum. “Lebih baik mencegah, ini artinya kita tidak hanya berdiri di klinik menanti pasien, melainkan menuju lapangan dan bertemu langsung dengan masyarakat,” ungkapnya. Ide ini menjadi kenyataan saat ada lembaga donor yang mendukung niatnya. Tujuan pertamanya adalah Lombok, daerah dengan kematian Ibu dan bayi paling tinggi di Indonesia. Ia mendidik Pendidik Sebaya (Peer Educator) untuk memberdayakan kaum perempuan dan laki-laki untuk ber-KB dengan benar, di tengah tantangan pendidikan masyarakat yang rendah. “Guru saya adalah klien saya, ini seperti proses pembelajaran yang terus menerus.”</p>
<p>Aktifitasnya dalam dunia kesehatan membuat badan dunia seperti Persatuan Bangsa-Bangsa  (United Nation) dan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) memintanya untuk melakukan pelatihan konseling di berbagai negara. “Padahal awalnya saya sempat ragu karena harus berbahasa Inggris, tapi saya coba,” katanya membuka rahasia. Ia menegaskan bahwa penugasannya ke berbagai negara tersebut terjadi karena orang yang bergerak dalam bidang konseling KB masih belum banyak di masa itu. “Kadang juga karena negara pengundang sentimen dengan negara barat sehingga mereka memilih saya yang dari Asia,”katanya. Berbagai modul training yang sudah pernah dibuatnya lalu diterjemahkan dalam berbagai bahasa.</p>
<p>Maka pergilah ia ke berbagai negara seperti Vietnam, Iran, Bangladesh, Myanmar, dan beberapa negara lainnya. Ketika bekerja di negara-negara tersebut, ia juga harus belajar tentang kebudayaan negara setempat. “Untunglah saya suka pelajaran sejarah,” ia tertawa, lalu memberikan  contoh. Ketika di Kazakhstan atau Vietnam, aborsi diperbolehkan, bahkan agak membabi buta. Maka dalam program konseling, ia menyisipkan pengetahuan tentang efek samping, sehingga masyarakat jangan menggampangkan aborsi. Lebih baik menggunakan metode kontrasepsi sesuai pilihan. Situasi ini tentu berbeda dengan negara Iran di mana aborsi dilakukan dengan sangat hati-hati. Beragam budaya harus dipelajarinya dengan benar sehingga ia bisa masuk dengan pendekatan seperti layaknya sahabat atau teman.</p>
<p>Tahun 1992, selama dua tahun, ia bersama aktivis perempuan yang peduli akan kesehatan perempuan dari berbagai negara memperjuangkan agar Konferensi Kependudukan tingkat internasional (International Conference on Population and Development, ICPD) yang berlangsung pada tahun 1994 di Kairo tidak saja bicara tentang angka-angka dan statistik, tapi juga memperhatikan kondisi dan situasi  kesehatan perempuan. Apa yang diperjuangkan mendapatkan hasil menggembirakan. Paradigma jadi berubah, dari Family Planning Program menjadi Sexual, Reproductive Health and Rights Program, di mana disertakan pula hak-hak reproduksi perempuan.</p>
<p>Setelah pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan internasional Kairo, ia memikirkan implementasi dalam program nyata dan ada perlindungan hukum berupa Undang Undang Kesehatan, di mana ada bab mengenai kesehatan reproduksi. Untuk mewujudkan ini, ia bersama beberapa pemerhati kesehatan perempuan termasuk Prof. DR. Sudraji, mendirikan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) pada tahun 2001. Misinya: pertama, supaya ada UU yang melindungi, sehingga ada pendidikan dan penyebaran informasi tentang kesehatan perempuan. Kedua, untuk memperjuangkan kesetaraan,  bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki upaya dan tanggung jawab yang sama. Upaya lainnya ialah membuat draft Undang-Undang Kesehatan yang dibawa  ke Dewan Perwakilan Rakyat. “Ini bukan pekerjaan gampang. Rasanya seperti gila. Karena kami harus meyakinkan anggota dewan,”kata Ninuk sembari mengemukakan fakta bahwa soal aborsi masih tetap menjadi kendala terberat.</p>
<p>Aktivitas Ninuk masih terus ke berbagai negara dengan isyu-isyu terdepan tentang kesehatan reproduksi perempuan. Bahkan di negara seperti Iran, ia berhasil mempengaruhi peserta pelatihan yang terdiri dari para dokter, untuk membuat peraturan mengenai kesehatan perempuan dan pasangannya sebelum menikah. Mereka sudah harus “lulus” dari kursus kesehatan reproduksi yang modulnya dibuat oleh Ninuk. “Mestinya saya juga melakukan pemberdayaan di negara sendiri,” katanya. Oleh karena itu, ia secara suka rela melakukan pelatihan-pelatihan dengan mengajak berbagai pihak, terutama LSM.</p>
<p>Aktivitasnya lancar? Tidak. Kendala terbesar justru datang dari negerinya sendiri. “Menghadapi budaya, agama, dan orang yang sempit pikirannya,” ujar Ninuk yang pernah beberapa kali diteror dan diancam karena  aktivitasnya yang dianggap memperbolehkan aborsi. “Bahkan ada yang terang-terangan yang mengatakan kami setan,” katanya tenang. Ia dan teman-temannya di YKP juga sering dianggap mengajarkan seks bebas. Tapi buat Ninuk, semua diterima dengan hati lapang. Niatnya adalah untuk kemanusiaan. “Karena saya punya cita-cita, semua perempuan harus menjadi berdaya,  mengurus kesehatannya sendiri.” ia tersenyum, sembari memberikan contoh bahwa selama ini untuk berbagai urusan tubuh perempuan itu sendiri, perempuan harus dulu bertanya sama suaminya. Pendapat ada di tangan suami.</p>
<p>Aktivitasnya ini rupanya membuat anggota keluarganya khawatir akan keamanan diri dan keluarganya. Mula-mula memang ibunya ragu, tetapi ia selalu memberikan argumentasi yang tepat. Pun untuk suaminya, Widyantoro, bahwa yang ia lakukan bukanlah tak bermakna. “Saya selalu meyakinkan bahwa hidup harus bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga sesama. Menyumbang, bukan hanya uang, tapi juga informasi yang baik, edukasi, dan memberdayakan,” ibu dari dua anak dan satu cucu ini tersenyum.</p>
<p>“Dulu Bapak ingin saya menjadi dokter,”katanya tiba-tiba, mengenang almarhum ayahnya yang pernah bekerja sebagai kru pertama perusahaan penerbangan Garuda Indonesia. Tapi kemampuannya pada bidang eksak tak begitu baik, sehingga ia memutuskan memilih jurusan Psikologi, Universitas Indonesia. Dan ia baru tahu, bahwa ayahnya pun sempat kecewa hingga jatuh sakit karena pilihan sulung dari enam bersaudara itu. Ia belajar keras untuk bisa meraih nilai terbaik. Sesekali ia meminta ayahnya untuk membelikan buku yang dibeli di luar negeri. Ketika buku itu tiba, sang ayah membaca, dan mulai tertarik pada bidang ilmu baru itu. “Bahkan ketika saya ujian, ayah saya banyak membantu saya memahami persoalan kuliah saya,”katanya senang. “Ia begitu bangga ketika saya menjadi konsultan untuk WHO.”</p>
<p>“Orang tua saya pernah bercerita, bahwa ketika usia saya 3 tahun, saya sakit berat, dan kemungkinan hidup amat tipis. Tapi ternyata saya sembuh,”ia membuka kisah masa lalunya. “Dengan segala kemudahan yang saya terima, saya seperti mendapat tanda bahwa saya harus berbuat sesuatu untuk mengembalikan semua rejeki ini.” Dan tidak lupa, ia menyertakan pernyataan mendasar: bahwa keberhasilannya ini terjadi karena ia banyak berhutang budi pada suami dan anak-anaknya.</p>
<p>Kini, perjuangannya hanya tinggal selangkah lagi. Ia sudah mendidik 14 perempuan untuk meneruskan aktivitasnya dalam kesehatan reproduksi perempuan. PP diharapkan akan segera dilaksanakan. “Saya sudah tak sabaar lagi untuk Ninuk Go for Man!,”ia tertawa, menceritakan program berikutnya: pemberdayaan lelaki. Dia menyadari bahwa kesetaraan dalam kesehatan perempuan untuk lelaki selama ini masih sebatas wacana, lelaki tak pernah diikutsertakan, itu sebabnya kadang program KB masih mengalami kendala. “Saya sudah cobakan pada tukang-tukang ojek, dan mereka senang sekali, ternyata selama ini mereka tak tahu tentang pendidikan kesehatan reproduksi.”</p>
<p>Bulan ini, ia tepat mendapat Kartu Tanda Penduduk untuk seumur hidup. Tapi bukan membuat ia berhenti melakukan aktivitas, sebaliknya semakin banyak hal yang ingin ia kerjakan: menulis buku, mengajar, mengajak jurnalis muda untuk berkumpul dan memberinya bekal tentang isyu kesehatan perempuan. “Semua ini saya lakukan agar perjuangan tak lagi dilakukan sendirian. Saya ingin ditemani anak-anak muda,” ucapnya. Dengan demikian, ia bisa melanjutkan kebahagiaannya yang lain: menikmati rumah, berkebun, dan bermain-main dengan cucunya. Indahnya kehidupan bila semua aktivitas bisa dirangkum dalam sebuah wadah: kehangatan dan kebersamaan. (<strong>Rustika Herlambang)</strong></p>
<p>Stylist: Raden Prisya. Foto: Suryo Tanggono. Lokasi: yayasan Kesehatan Perempuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1221&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/ninuk-widyantoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/img-20110606-00089.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ninuk Widyantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jaleswari Pramodhawardhani</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/jaleswari-pramodhawardhani/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/jaleswari-pramodhawardhani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 00:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[Jaleswari Pramodhawardhan]]></category>
		<category><![CDATA[LIPI]]></category>
		<category><![CDATA[peneliti]]></category>
		<category><![CDATA[peneliti militer]]></category>
		<category><![CDATA[pertahanan]]></category>
		<category><![CDATA[profil wanita]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1212</guid>
		<description><![CDATA[Meski suka berada di zona nyaman, ternyata ia terus mempertanyakan kemapanan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1212&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h2>Memecah Sunyi</h2>
<p><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1218" title="Jaleswari by Hakim Satriyo" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo-1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Jaleswarii by Hakim Satriyo" width="300" height="224" /></a></p>
<p><em>Meski suka berada di zona nyaman, ternyata ia terus mempertanyakan kemapanan</em></p></blockquote>
<p>Senyuman ramah yang dipancarkan Jaleswari Pramodhawardani langsung memupus sepi yang sejak tadi terasakan saat menginjak gedung Widya Graha, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Jakarta, pukul sepuluh pagi. Di tempat Dhanny– nama akrabnya – bekerja sebagai peneliti itu tak terlihat sedikitpun tetamu. Tak ada penjaga yang memeriksa tas pengunjung seperti dilakukan gedung-gedung tinggi. “Sunyi?,” ia tertawa. Dan tawa renyah itulah yang memberi tanda bahwa ada “kehidupan” disana.</p>
<p>Belakangan ini sulit mencari Dhanny. Ia sedang banyak kesibukan di Kementrian Pertahanan dan Markas Besar TNI. “Saya sedang diminta bicara mengenai deradikalisasi, NII, Pancasila, dan ketahanan bangsa,”perempuan berkarakter feminin yang dikenal sebagai peneliti militer di Indonesiaitu menjelaskan. Di sisi lain, ia tengah mengkoordinir penelitian mengenai hak atas kepemilikan &#8211; sebuah serial lanjutan dari perempuan dan hak atas seksualitasnya.<span id="more-1212"></span></p>
<p>Dunia pertahanan dan dunia perempuan adalah dua hal yang menjadi kajiannya selama ini. “Bila diekstrimkan, meneliti perempuan kita kerap diingatkan tentang kepedulian terhadap korban, meski tidak selamanya demikian. Sedang TNI, kita diingatkan akan aktor yang diberi wewenang untuk melakukan kekerasan secara sah oleh negara ini,”katanya. Sebagai peneliti, ia perlu mencurigai diri sendiri sebagai alat untuk berhubungan dengan narasumber. “Saya butuh otokritik. Dengan berada tidak pada satu titik tertentu, melainkan bolak balik di antara keduanya, setidaknya hal ini bisa menyeimbangkan,”ujarnya.</p>
<p>Selain sebagai peneliti dan Kepala Bidang Penelitian Hukum PMB LIPI, ia juga anggota Dewan Penasehat The Indonesian Institute -Lembaga Riset Kebijakan Publik, Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Sektor Keamanan, serta Dewan Penasehat Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN). Ia aktif sebagai dewan redaksi majalah Prisma dan dosen tamu Program Pasca Sarjana Pusat Kajian Wanita UniversitasIndonesia. Kajian yang diteliti secara intens adalah pengambilalihan bisnis TNI dan ratifikasi perlindungan buruh migran.</p>
<p>Hingga kini, ia masih tinggal bersama ibunya di kompleks Dephan-Mabes TNI Cibubur,Jakarta. Ini artinya, ia mengkritisi dunia pertahanan justru dari “rumahnya” sendiri, bukan orang luar yang tiba-tiba hadir menjadi selebritis. Dunia pertahanan adalah dunia yang selalu ada dalam lingkaran hidupnya, bahkan sejak ia dilahirkan diSurabaya, 45 tahun lalu, sebagai sulung dari 5 bersaudara. Ayahnya, Letnan Kolonel Laut Asmadhi Bramasthagiri. “Keluargaku kebanyakan ABRI.”</p>
<p>Seseorang yang dipanggilnya “Bapak” adalah lelaki asalKediriyang selalu berbicara kromo inggil (Jawa Halus) kepada ibunya, RR. Soediarti. “Bapak dulu guru nari Jawa, orangnya halus, suka membaca buku, suka sejarah, musik, film, dan bercita rasa tinggi. Saya diminta les menari supaya pintar mengolah rasa dan belajar wayang,” ungkap Dhanny dengan mata bercahaya. Ia mengenal ayahnya sebagai sosok yang tenang dan pekerja keras. “Dia tak pernah galak.”</p>
<p>Ibunya -ia memanggilnya Mama- seorang guru dan kepala sekolah SMP yang memilih menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Dhanny memuji ibunya yang amat pandai mengatur kehidupan rumah tangga, tak pernah sekalipun meminta lebih pada ayahnya, kendati harus membiayai lima anak dengan mengandalkan gaji tentara. “Mama <em>open management</em>. Setiap bulan ia membagi gaji Bapak dalam 30 amplop. Pendidikan harus diprioritaskan,”katanya. Kondisi itu membuat ia lebih disiplin dan bertanggung jawab.</p>
<p>Ketika usia 11 tahun keluarganya pindah keJakartadan menempati satu rumah yang terletak di kampung Condet. Bayangan rumah dinas seluas 500 meter di Surabayaberganti dengan pemandangan perkampungan, tanpa listrik, dan masyakat asli yang masih banyak yang buta huruf. Di sini ia melihat kegigihan sang ibu: mendirikan “sekolah” di teras rumah, mengajar baca tulis, dan membentuk koperasi kampung Dewi Sri yang hingga kini masih berdiri.</p>
<p>Titik balik dalam kehidupannya terjadi ketika di-<em>drop out</em> dari Institut Pertanian Bogor – mengikuti pilihan teman-teman terdekatnya. Ia lupa bahwa ia tak suka pelajaran eksakta, dan tak suka jauh dari pelukan keluarga. Ia sangat terpukul karena merasa tidak bertanggungjawab. Untung ibunya bertindak cepat. Ia mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Tujuh Belas AgustusJakarta, satu-satunya universitas yang masih buka pendaftaran waktu itu.</p>
<p>“Saya seperti sedang menjalani hukuman atas tindakan saya,” tuturnya. Komunitas dan sistem pendidikan berbeda. Lokasi kampus amat jauh. Kata-kata ibunya, kamu benar mau kuliah?, menjadi cambuk. “Ketidakbertanggungjawaban saya di IPB harus dibuktikan dengan prestasi,”kata Dhanny yang kemudian  menjadi Mahasiswa Teladan sehingga ditunjuk mewakili kampus dalam Temu Karya Ilmiah Remaja Nasional yang diselenggarakan LIPI. Saat itu, ia meneliti mengenai remaja penjual koran di lampu merah – sebuah realitas kehidupan yang ditemuinya setiap hari dalam perjalanan biskotadari rumah ke kampus yang berjarak sekitar 28 km. “Betapa bahaya anak-anak ini. Mereka bicara tentang ekonomi keluarga. Mana orang tuanya? Pada saat inilah muncul kesadaran saya tentang peran negara. Di mana negara?”,</p>
<p>“Yang saya rekam waktu itu adalah cerita kesedihan di mana mereka dipaksa bekerja, tapi melakukannya dengan gembira,” ujarnya. “Itu sebabnya, setiap kali ingin meratap, saya selalu teringat mereka,” kata Dhanny yang akhirnya memilih menjadi peneliti di LIPI, satu-satunya pekerjaan yang dilamarnya. Ia mengabdikan diri pada “negara”- sebagai pegawai negeri- “sosok” yang dipertanyakan dalam penelitiannya itu.</p>
<p>“Penelitian adalah perjalanan kemanusiaan yang ingin kita ungkapkan atau singkapkan. Juga sebuah ruang tempat belajar tentang manusia dan kemanusiaan,” ia bercerita tentang pekerjaan yang banyak mempertemukannya pada berbagai komunitas, etnis, persoalan, konflik, perang, dan lain-lain. Dengan berada di lapangan, ia bisa merasakan secara langsung denyut nadi persoalan yang yang ada. “Saya jadi disadarkan betapa berbeda situasi di Aceh dan Jawa, betapa ironis hidup buruh migran, dan betapa sulit membangun pertahanan yang tangguh, ”ia memberi contoh. Karena bekerja dengan menggunakan empati dan simpati – meski menjaga objektivitas, kadang tak terhindarkan melakukan kerja aktivis karena nuraninya.</p>
<p>Menulis, adalah sarana menuangkan kegelisahan dan merebut “ruang” yang didominasi pemikiran maskulin. Diam-diam, ia juga sering frustasi mendapati situasi negara yang problematik. “Kadang terpikir, sebenarnya ada gunanya nggak penelitian yang pernah kita lakukan? Kalau sudah begini, saya biasanya mencari teman seperjuangan dalam tanda kutip untuk saling menguatkan,” ujarnya. Menurutnya, haram hukumnya untuk lelah di negeri yang sedang menanggung beban sepertiIndonesia.</p>
<p>Ia fokus dalam dunia pertahanan tahun 1999. Ia tersentak ketika mendapatkan fakta di lapangan (melalui media) dunia ABRI yang selama ini begitu akrab dan hangat dengannya dituding banyak melakukan pelanggaran semasa Orde Baru. Bersama teman-teman, ia membuat workshop di 5kotadengan tema hegemoni militerisme terhadap kesadaran sipil. Di sini ia juga disadarkan bahwa militer tidak bisa merujuk pada satu entitas yang homogen.Adajuga kelompok lain yang masih menjunjung nilai kejuangan, seperti dicontohkan ayahnya. “Saya rindu saat pertahanan Indonesiamenjadi macan Asia seperti tahun 1960-an. Saya rindu tentara yang professional dan dicintai rakyatnya.”</p>
<p>Di dunia pertahanan, ia dikenal sebagai peneliti yang sungguh menekuni profesinya, sehingga tidak jarang berada di daerah konflik. “Walau serius dan memperlihatkan keyakinan atas pendiriannya, ia tidak segan bertanya. Saking banyaknya bertanya pada saya, ia telah berhasil men-download data base tentang TNI yang ada dalam benak saya,” Letjen (Purn) Agus Widjojo, mantan Kepala Staf Teritorial TNI yang juga Ketua <em>National Institute for Democratic Governance</em> (NIDG) memberi pendapat.</p>
<p>Apakah ia tak pernah khawatir dengan penelitian yang berhubungan dengan tentara? Ia menggeleng. “Saya tidak takut ketika yang saya tulis dan katakana berbasis data dan informasi akurat.” Tapi kemudian terdiam. “Beberapa waktu lalu Mama berkata. Mama tak masalah dan siap keluar dari kompleks ini seandainya gara-gara tulisanmu Mama diusir,” ia menirukan kata-kata ibunya. “Hal ini memicu saya lebih bertanggung jawab pada pekerjaan saya. ”</p>
<p>Kesadaran pula yang membuat ia memilih jadi ibu tunggal untuk kedua anaknya: Widy dan Gendis. “Saya nyaman dengan pilihan ini. Walau kadang terpikir juga, jangan-jangan saya akan menguntungkan banyak orang kalau sendiri. Ha ha ha.” Lalu berkata serius,”Wilayah kajian saya perempuan. Buat saya pribadi memiliki konsekuensi logis. Saya menagih diri saya sendiri jaraknya terlalu jauh antara apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan?”. Tak jarang, ia menggunakan dirinya sendiri sebagai bahan kajian penelitian perempuan.</p>
<p>Penjiwaan itu pula terasakan dalam penelitiannya dalam fungsi pertahanan dan TNI. Seperti dikemukakan Agus, “Penjiwaan itu terjadi karena ia berasal dari keluarga TNI. Walau seringkali ia menyangkal pendapat itu, namun disadari atau tidak ia sering terbersit akan kebanggaannya menjadi keluarga TNI serta pada almarhum ayahnya.”</p>
<p>“Saya ingin bicara tentang sunyi. Suara perempuan adalah suara sunyi, suara yang tidak pernah terdengar. Ketika bicara soal politik – suatu hal yang bisa mengubah arah hidupnya – yang terdengar tetap suara laki-laki,” katanya. Sementara itu, dalam dunia militer hanya ada satu suara. Tentara professional tidak boleh berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan mengikuti kebijakan politik negara. Ini artinya ada “hak” bicara yang tak pernah terdengar dalam dunia militer (otoriter). “Dunia militer juga sangat maskulin dan perlu perspektif perempuan,” katanya.</p>
<p>Dalam sisi inilah ia berusaha memecah sunyi, membuka suara, dan memberi daya, dengan berbagai penelitian yang ia lakukan. Dua sunyi tersebut seperti menempatkan ia pada radarnya. Bahwa sebenarnya ia sedang berjuang untuk diri dan lingkungannya selama ini. Meski mungkin, ia tak pernah menyadari. (Rustika Herlambang)</p>
<p>Stylist: Raden Prisya. Make up: Christine Tannuwidjaja – OPPO. Fotografer: Hakim Satriyo. Lokasi: LIPI</p>
<p>“Saya memang selalu gelisah. Peneliti itu haram hukumnya tenang, karena realitas selalu bergejolak. Segala hal yang mapan harus dipertanyakan,”ia tersenyum, menebar virus kesadaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1212&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/jaleswari-pramodhawardhani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Jaleswari by Hakim Satriyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fajar Satriadi</title>
		<link>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/fajar-satriadi/</link>
		<comments>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/fajar-satriadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 00:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustika herlambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[mewangikan nama indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar Satriadi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Matah Ati]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pria]]></category>
		<category><![CDATA[success story]]></category>
		<category><![CDATA[tari klasik Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustikaherlambang.wordpress.com/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Ia seperti pendekar dalam mencari sumber pengetahuan demi sebuah darma kehidupan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1208&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Mencari Ruh Tari</span></h2>
<h2 class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1216" title="Fajar Satriadi by Randy Pradhana" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo.jpg?w=224&#038;h=300" alt="Fajar Satriadi by Randy Pradhana" width="224" height="300" /></a><br />
</span></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ia seperti pendekar dalam mencari sumber pengetahuan demi sebuah darma kehidupan</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ingatan Fajar Satriadi masih begitu tajam. Standing Ovation itu kembali bergemuruh sepanjang akhir pertunjukan Matah Ati dua hari berturut-turut di Esplanade Singapura, Oktober lalu. Ia sangat bahagia bisa memberikan seluruh energi dan kemampuan sehingga bisa memberi “nyawa” dalam pertunjukan garapan Atilah Soeryadjaya itu. “Saya merasa bahasa tarian itu membius penonton lintas budaya. Pada saat itulah, saya bangga menjadi orang Indonesia. Ada kesadaran nasionalisme yang terungkap kembali,” ujar Fajar yang berperan menjadi Raden Mas Said dalam pergelaran akbar yang juga dipentaskan di Indonesia Mei lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Sebentar lagi, Matah Ati akan melakukan tur keliling ke Asia dan Eropa. </span><span style="font-family:Arial;">Pertunjukan ini kian menambah panjang pengalamannya bekerjasama dengan para maestro tari Indonesia sejak tahun 1990. </span><span style="font-family:Arial;">Di antaranya Sardono W. Kusumo, Miroto, Retno Maruti, Elly D. Luthan, dan Atilah Soeryadjaja. Tak hanya untuk kapasitas lokal, tapi juga berbagai event tari internasional, seperti di Jerman, Brazil, Jepang, Amerika, dan Inggris. </span><span style="font-family:Arial;">Sementara sepanjang 2009 lalu, ia berkeliling beberapa kota di Inggris untuk mementaskan karya sendiri, </span><span style="font-family:'Arial Italic';">Suara-Suara</span><span style="font-family:Arial;"> dan </span><span style="font-family:'Arial Italic';">Tiga Karakter Topeng. </span><span style="font-family:Arial;">Ia juga memberikan workshop tari di dalam negeri dan di Iuar negeri.<span id="more-1208"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ditemui dalam dua pertemuan terpisah di kediaman Atilah di Jakarta, ia antusias bercerita tentang aktivitas terakhirnya. Setiap hal yang dikatakannya tentang tari dituturkannya dalam bahasa yang ringan dan menyenangkan. “Setiap gerak tari Jawa adalah sebuah perlambang berbagai hal yang ada di alam,” ia memulai pembicaraan sembari berdiri tegak, memberi contoh gerakan pohon cemara berderai ditiup angin, lompatan burung prenjak, dan gerakan belalai gajah. Tapi ketika akan memeragakan sebuah potongan Matah Ati, ia menunduk sebentar, diam, dan khusuk. Lalu tiba-tiba bergerak sembari menembang  dengan suara berat yang berasal dari perutnya. Ada </span><em><span style="font-family:'Arial Italic';">greget </span></em><span style="font-family:Arial;"> (ruh/spirit) dan dimensi energi yang langsung terasakan di sekelilingnya. Begitu nyata. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Padahal Fajar tidak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi kuat seperti halnya banyak maestro tari lain. Sebaliknya, ia lahir sebagai anak kota dan tinggal di lingkungan Angkatan Udara di Halim, Jakarta, 16 Oktober 1968. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, kesemuanya lelaki. Sang Ibu adalah perempuan Jawa berasal dari Bogor, tak bisa menari. “Menari adalah keinginan Bapak,”kisahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ayah Fajar, Tunggal Tarunadi, dibesarkan dalam suasana gending-gending Jawa, di mana kakeknya memiliki seperangkat gamelan Jawa – yang hilang segala kekayaan karena berjudi. Walhasil, ayahnya sempat hidup susah, dan terpaksa masuk militer demi bisa bertahan hidup. Karena prestasi bagus, ayahnya dikirim sekolah ke India dan Autralia. Meski demikian, ayahnya mendidik anak-anak dengan bekal kecintaan pada tradisi adiluhung bangsa yang didapat dari ajaran Soekarno. Salah satunya dengan memanggil guru tari senior, Moch Jubad dan Wisnu Priyadi, yang waktu itu merupakan mahasiswa ASKI, untuk mengajar tari Jawa klasik untuk Fajar yang ketika itu berusia 10 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Pada awalnya sempat terjadi resistensi pada dirinya, sampai kemudian ia menikmati proses belajar tari. “Waktu kecil, sembari memegang sampur, saya berkata akan berkeliling dunia dengan ini,”Ia tertawa mengenang harapan masa kecil yang kini telah terwujud. Selain tari, ayahnya juga memperkenalkan pada karawitan, dunia sastra dan sufistik Jawa melalui komik-komik, serta berbagai buku yang mengajarkan nasionalisme. Setiap liburan panjang, ia dikirim ke Solo. Ia juga sudah mulai berpentas dengan teman-teman gurunya, yang tak lain para mahasiswa ASKI. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Sebagai anak muda Jakarta, ia sering dilihat dengan sebelah mata karena aktivitasnya sebagai penari. “Secara empiris, saya sering dikecilkan dan dimarginalkan karena menari. Pada saat itulah saya belajar musik dengan band anak muda yang bersentuhan dengan modernisasi supaya seimbang dengan seni tari,” kata Fajar yang lantas membentuk sekelompok band anak muda. “Narinya, boleh nari Jawa Klasik. Tapi musiknya Deep purple,” katanya tertawa. Hal itu terbukti ampuh untuk mengibas segala persepsi negatif masyarakat. (</span><span style="font-family:'Arial Italic';">Ketika kuliah nanti, ia membuat grup band Sansekerta, sebuah grup musik teaterikal, pernah menerbitkan beberapa album. Ia memegang gitar dan menjadi vokalis.)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Tinggal di kompleks angkatan udara membuat ia sempat tergiur masuk Akademi Militer di Magelang. Tapi hanya 1,5 bulan, pikirannya kembali terbayang pada dunia tari, satu-satunya cita-cita yang pernah diinginkan. Dalam kegamangan, sang ayah memberinya semangat: “Kamu tidak usah takut menjadi penari, saya akan tetap mendukungmu.<em>” (Sayang, sang ayah meninggal dan tidak sempat melihat kejayaan anaknya). “</em>Saya pernah melihat ayah menangis ketika saya menari,” ujarnya lirih. Ia lalu mengambil pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI, yang dulunya bernama ASKI).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ia memperkuat latihan kepenariannya dengan bela diri Perisai Diri, olah diri di bawah pembimbing Prapto Suryodharmo (Padepokan Lemah Putih), meditasi pada Romo Pudjo Darmo, dan pernafasan dengan Tri Makna di Bedugul Bali. Ia merasa bersyukur dalam sejarah pencarian hidupnya berlangsung aman, lancar, dan dikelilingi guru-guru besar. Sardono W. Kusumo mengenalkannya pada ruang profesionalitas. Dari Agung, ia belajar tentang mistisisme (“</span><span style="font-family:'Arial Italic';">Katanya, hayatilah tubuhmu karena kamu adalah seorang penari.”).</span><span style="font-family:Arial;"> Ada Mimi Rasinah yang keindahan tarinya mengajarkan semangat di jiwa dalam menari. Ada Ketut Ceni yang mengajarkan tentang kearifan tradisi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Pertemuan dengan banyak maestro ini semakin meyakinkan dia bahwa seorang penari harus memiliki koneksi yang kuat antara pikiran dan tubuhnya, atau yang sering ia sebut sebagai dimensi kesadaran. “Guru-guru saya bilang, kamu tak akan dapat roh-nya kalau tidak </span><span style="font-family:'Arial Italic';">nglakoni</span><span style="font-family:Arial;"> (melakukan) seperti halnya empu-empu tari zaman dulu melakukannya,” ujar Fajar yang sejak bertemu Sardono di tahun 1990-an mulai mengalami kegilaan eksplorasi pada ketubuhan (</span><span style="font-family:'Arial Italic';">nglaku</span><span style="font-family:Arial;">).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Hal itu hanya bisa dicapai dengan cara menyiksa tubuhnya dalam konteks pencarian. “Istilahnya, tidak mencengengkan tubuh. Tanpa melewati itu, kita tidak akan mencapai sebuah pemahaman, yakni darma, untuk sampai ke kebahagiaan,” kata Fajar yang harus belajar meng-alami lima elemen kehidupan: air, api, tanah, cahaya, dan angin. Misalnya, ia menari di puncak gunung Lawu dengan membuka baju, berendam di mata air sungai Pengging, bersemedi di atas ratusan kalajengking warna merah di gunung Wilis, menutupi tubuh dengan kain hitam sepanjang jam 10-12 siang agar cakra-nya terbuka, dan masih banyak lagi. Banyak sekali pelajaran kehidupan ia dapatkan dari pengalaman ini.“Saya tak lari untuk kesaktian, tapi saya lari dalam dimensi gerak dan ketubuhan.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ia mencari kesadaran tubuh, dan menyatukan apa yang disebut sebagai jagad besar dan jagad kecil. Tak jarang orang bertanya pada aktivitasnya yang satu ini. Lalu dijawabnya,” Saya menemukan </span><em><span style="font-family:'Arial Italic';">kiblat papat limo pancer</span></em><span style="font-family:Arial;">.” Yang dimaksud adalah ia menemukan keseimbangan. Ia percaya, menjadi penari memang harus punya intesitas, kesungguhan, kesadaran, dan mendalami hingga sumber asalnya. Pada saat itulah ia merasakan sesuatu yang sangat indah. “Menari adalah saat kita berdoa kepada Tuhan. Merasa dekat dengan Tuhan. Ketika menari, konsentrasi sangat tinggi disertai dengan kepasrahan,” ia berucap. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Perasaan itulah yang akhirnya menguasai dirinya ketika sedang menari. Apakah menari di atas pentas, di depan samudera luas, di atas tebing, atau di puncak gunung. Irama itu tidak hanya terpaku pada gending, tapi juga deburan air, gemericik aliran sungai, hembusan angin, juga desah dedaunan. “Panggung tidak hanya formal, tapi alam. Ketika memahami hal itu, saya tidak lagi membuat perbedaan antara tari dan kehidupan. Dimensi saya tetap orang modern, tapi saya terus melakukan pencarian, kungkum dan lain-lain, agar selalu berada di dalamnya. Ini adalah piranti yang dalam tari akan bisa memberikan kehadiran. Penonton pasti akan menangkap kesungguhan proses kita ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Perjuangan itu juga dialami ketika akhirnya terpilih menjadi sosok RM Said. Atilah tak sedikitpun melirik karena tubuhnya besar. Namun karena semua koreografer merekomendasikan ia, Atilah tak punya pilihan selain menantang untuk menurunkan berat badannya sebanyak 15 kilo. Ia tunjukkan hasilnya dengan kerja keras selama 3 bulan. “Namun, yang saya sukai suaranya. Power-nya menunjang, kuat sekali,” tutur Atilah. Sebagaimana diketahui Matah Ati adalah sebuah pementasan langendriyan yang memadukan lagu dan tari. Dan rupanya, kekuatan suara adalah poin penting lain pada dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Lalu ia bercerita tentang pengalamannya ketika berpentas ke berbagai belahan dunia dan bertemu dengan berbagai maestro tari. Pernah pada suatu saat setelah ia memberi workshop, pertunjukan, dan dialog (inter-art) di Jepang, seorang pendeta berusia 92 tahun, waktu itu tahun 2008, mendatangi dan menepuk-nepuk perutnya. Pendeta itu mengatakan bahwa teknik pernafasan perut itu sangat popular di Jepang ketika ia masih muda, tetapi sekarang tidak lagi bisa ditemui. “Saya katakan, Indonesia pun punya tradisi suara besar yang berasal dari tokoh-tokoh raksasa seperti Rahwana,” ia tersenyum. Pengalaman ini semakin membanggakannya. “Menurut saya, menolehlah pada diri sendiri. Tradisi Indonesia itu punya pengetahuan (</span><span style="font-family:'Arial Italic';">knowledge</span><span style="font-family:Arial;">) yang luar biasa,” ujar Fajar yang hingga kini masih terus diliputi rasa ke</span><span style="font-family:Arial;">ingintahuan akan segala hal yang menyangkut sumber tradisi untuk digali, dieksplorasi, dan diekspresikan dalam nafas kekinian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Dan ia memilih menjadi </span><span style="font-family:Arial;">seorang penari independen – sebuah sikap hidup yang amat berani. Sebagai penari independen, ia harus selalu menjadi yang terbaik di setiap “pekerjaan” yang dilalui. “Panggung ibarat medan perang. Kalah dan menang menjadi sangat penting untuk kelanjutan hidup saya,”katanya serius, sembari bercerita mengenai lemahnya penghargaan finansial terhadap tari di Indonesia yang berbeda dengan negara seperti Eropa. Dan mengapa ia memilih sendiri? “Bagi saya, kebebasan itu merupakan kejernihan dalam melihat kehidupan,” lanjut Fajar yang melanjutkan pendidikan S2-nya di STSI demi menggali keilmuan atas dunia tari. Ia menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Indonesia dan di Inggris. “Sebagai dosen tamu, saya bicara tentang pengetahuan, bukan rutinitas. “</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Dengan segala aktivitasnya, perempuan seperti apa yang disukainya? Fajar tergelak. Pipinya memerah. “Dia harus kreatif, tahu apa yang mau dikerjakan. Cerdas, smart, kreatif, dan tidak lelah bekerja,”katanya cepat. Ia mengisahkan kisah cintanya pada istri yang telah memberinya dua anak lelaki. “Anak sulungku suka karawitan. Anak bungsuku suka menari,” katanya senang. Hidupnya lengkap. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ia tiba-tiba terdiam, mengingat esensi tari yang pernah diajarkan oleh ayahnya. Belajar menari untuk menghaluskan perilaku dan budi pekerti – sesuatu yang kian langka belakangan ini. Lalu ia membayangkan seandainya seluruh konflik perpecahan yang ada di negeri ini bisa didamaikan melalui kearifan budaya yang ada, betapa berdayanya! Fajar tampak berharap banyak. Dan dunia tari tradisi pun akan terus bergerak. (Rustika Herlambang)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Stylist: Dhani David.Foto: Randy Pradhana  Busana: Koleksi Atilah Soeryadjaya. Lokasi: kediaman Atilah. Fotografer: Randy Pradhana</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustikaherlambang.wordpress.com/1208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustikaherlambang.wordpress.com&amp;blog=3877584&amp;post=1208&amp;subd=rustikaherlambang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustikaherlambang.wordpress.com/2011/07/22/fajar-satriadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe0ba0ae8b308c19a5799d38f452b381?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rustikaherlambang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2011/07/photo.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">Fajar Satriadi by Randy Pradhana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
