Feeds:
Posts
Comments

Sebuah Penghargaan

anugerah adiwarta

Haaa… dari Majalah Dewi??

” Perempuan itu menengok ke arah kawan lelakinya sambil mengerutkan dahinya. Peristiwa ini terjadi ketika Nominasi Anugerah Adiwarta 2009 kategori Liputan Kemanusiaan Seni dan Kebudayaan diumumkan di layar. Saya percaya bahwa perempuan itu tidak bermaksud untuk melecehkan. Mungkin sedikit heran. Bagaimana mungkin artikel seni budaya di sebuah majalah gaya hidup itu masuk dalam nominasi penghargaan jurnalistik yang serius seperti ini. Tapi itu hanya perkiraan saya saja. Hanya perempuan itu yang mengerti apa maksud ungkapan di atas yang diucapkan dengan setengah berteriak itu.

Apapun yang terjadi, saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan dan apresiasi terhadap karya saya kepada Sampoerna Foundation. Meski tidak menjadi pemenang utama, saya sudah sangat bersyukur atas segala apresiasi ini. Semoga saya bisa berkreasi lebih baik lagi.

“Kemenangan” ini terutama saya tujukan untuk anak perempuan saya, Laksmi Lilu Herlambang, yang senantiasa menjadi editor pertama seluruh tulisan saya. Dialah yang selalu mengkritik, khususnya untuk paragraf awal tulisan yang dikatakan harus menggigit dan membuat orang tertarik untuk membacanya. “Kemenangan” ini juga saya tujukan kepada Anda, para pembaca blog saya. Anda-lah yang membuat saya harus membuat karya lebih baik dan lebih baik lagi. Terima kasih untuk seluruh dukungan Anda selama ini. Semoga di masa yang akan datang, hubungan kita akan lebih erat lagi.

Salam,

www.anugerahadiwarta.org

Foto: dok. www.anugerahadiwarta.org

Dewa Budjana

Memberi Ruang pada Jiwa

dewabudjana

Musik adalah bagian dari spiritualitas yang sangat dipercaya olehnya.

Gerimis hanya datang kala I Dewa Gede Budjana memainkan lagu Ruang Dialisis. Seperti sebuah anugerah alam yang mengiringi lagu yang dipersembahkan untuk almarhum ayahanda tercinta, IDN Astawa. Suasana Candi Gedong Songo, tempat pengambilan gambar untuk acara ulang tahun stasiun televisi swasta tersebut, berubah dramatis. Budjana terhanyut dalam guyur rintik hujan yang menyatu dengan petikan dawai gitar. Rekaman suara sang nenek (yang tak bisa datang karena sakit) terasa mencekam. Keduanya melebur dalam simponi duka. Mungkin juga, lara.

Continue Reading »

Seni Rumah Seniman

Nasirun

 

 

 

 

 

 

 

 

Kali ini, ijinkan saya berkelana menuju rumah-rumah seniman di Yogyakarta.  Bila selama ini saya banyak berhubungan dengan sosok pemiliknya, maka kini saya mengupas “rumah” di mana mereka tinggal dan berkarya selama ini. Namun jangan pernah dibayangkan bahwa saya akan bicara mengenai arsitektural, sebagaimana ulasan rumah-rumah yang ada. Apa yang saya sampaikan adalah mengenai rumah dari sisi “dalam”, yakni tentang sisi kehidupan penghuninya terhadap rumah sebagai sesuatu yang hidup (living concept), yang nyata, yang terasakan, yang memberi inspirasi.

Berbeda dengan konsep penghuni biasa –yang rata-rata hanya menghabiskan beberapa lama di rumah karena kesibukan di luar rumah – konsep rumah bagi seniman adalah sesuatu yang istimewa. Mereka hidup, berkarya, berkeluarga, dan bersosialiasi di tempat yang sama. Itulah hal yang menurut saya sangat unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Empat seniman yang kita angkat dalam angle ini memiliki popularitas di papan atas, memiliki genre yang berbeda satu sama lain, dan ternyata memiliki konsep yang berbeda satu sama lain.  Mereka adalah Nasirun, Entang Wiharso, Jumaldi Aldi, dan Galam Zulkifli.

Silakan menikmati..

(rustika herlambang)

terima kasih untuk Heri Pemad dan Rikki Zoel

Nasirun

Swargaloka Nasirun

Nasirun

Ia merasa bahwa rumah ibarat “mal” untuk dirinya. Segala hal yang diinginkan dan dicintainya ada di dalamnya. Sementara ia merasa tak butuh ponsel untuk berkomunikasi secara intensif. Toh rumahnya sudah terbuka untuk semua orang yang datang padanya. Justru  “langgar” yang sangat penting untuknya.  Ibarat sebuah ponsel yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya.

 

 

 

 

 

 

Nasirun, ah Nasirun… Tak ada yang bisa mengubah penampilan kesehariannya kecuali dirinya sendiri.Bahkan waktu puluhan tahun menimang gelimang kesuksesan material yang diperoleh dari karya-karya lukisannya, tak juga mempengaruhi gaya kesenimanannya.  Pemenang Philip Morris Award 1997 lebih nyaman dengan penampilan khasnya:  kaus T, celana pendek belel, dan sandal jepit. Janggutnya dipelintir rambut tebal bergelombangnya dibiarkan terurai, atau sesekali dikuncir. Suara tawanya masih tetap menggelegar. Ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di mal dan bersikeras tak mau memiliki ponsel. Continue Reading »

Entang Wiharso

Memandang Kecantikan Loro Jonggrang

Entang Wiharso

“Mungkin tension yang terus menuntun saya, hingga menemukan tempat yang indah ini.”

 

 

 

 

 

Lokasi rumah adalah satu hal yang paling esensial bagi seniman Entang Wiharso. Tiada yang lebih menenteramkan daripada memandang kecantikan candi Loro Jonggrang dan jiwanya pun meleleh –untuk mengambil istilah dalam salah satu tema pameran tunggalnya. Itu sebabnya, ia menyepi ke arah Kalasan – sekitar 12 km dari Yogyakarta, dan mengambil lokasi yang berbeda dengan seniman kontemporer lainnya. Tepatnya di desa Carikan, RT3/RW2, Taman Martani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta – sekitar satu kilo dari Candi Loro Jonggrang. Continue Reading »

Galam Zulkifli

Mencari Tempat Menepi dan Untuk  Selalu Kembali

galam zulkifli

Hidup itu rumit, tapi seni menyederhanakan. Pikirannya rumit, rumah bergaya sedehana mengimbanginya.

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah rumah di tepi hamparan sawah, berpemandangan alam indah, menyepi, dan jauh dari keramaian tetangga sekitar. Itulah lokasi studio yang baru saja selesai dibangun Galam Zulkifli. “Kita bertemu di studio saja ya, karena studio itulah yang mewakili karakterku,” kata-katanya masih terngiang saat dewi menginjakkan kaki di desa Kasihan, Bantul, Yogyakarta beberapa saat lalu. Ia baru saja menerima kabar gembira. Pameran terakhir yang menampilkan pop art dengan kreasi ilusi di Avanthai Gallery, Swiss, Agustus lalu, terjual habis.  Continue Reading »

Jumaldi Alfi

Dua Sisi Jumaldi Alfi

Jumaldi Alfi

Ia percaya, rumah, sebagaimana lukisannya, adalah sebuah terapi personal. Karena itu ia butuh dua rumah tak terpisahkan untuk merepresentasikan keinginan bawah sadarnya.

Masuk dalam rumah Jumaldi Alfi, seperti masuk dalam karya yang dibuatnya. Ada selubung makna yang ia ingin sampaikan melalui rumah yang dibangunnya, seperti juga ia ingin memberikan cerita di dalam seluruh karya-karyanya.   “ Ada dua hal yang tak bisa terpisahkan saat bicara tentang rumahku. Rumah untuk keluargaku dan rumah untuk  studioku. Keduanya saling mendampingi. Tak terpisahkan satu sama lain.  Seperti otak kiri dan otak kanan,” ujar salah satu anggota kelompok Jendela yang kini karyanya laris manis di pasaran ini dengan mimik  serius.

Ia seperti ingin menghadirkan konklusi bahwa lukisan adalah terapi personal, begitu pula ketika ia menghadirkan dua rumah dalam hidupnya.  Meski saat ini, Alfi –sapaan akrabnya- juga tengah membangun pendopo dan museum seni di tanahnya yang lain. Continue Reading »

Jais Darga

Aji Rasa

jais darga


Percaya diri membuat perempuan tampak seksi! Percaya diri berarti berwawasan, berpengetahuan, berbahagia, dan menjaga kecantikan yang diberikan Tuhan.

Membuka halaman demi halaman kehidupan Jais Darga, kita seperti dibawa dalam sebuah petualangan yang seru juga menegangkan. “Bila aku sekarang meraih semua mimpi, setidaknya kamu mengerti bahwa jalan ini tidak pendek.  Penuh liku. Ada luka. Tapi aku selalu  memandang kehidupan dengan sisi optimis dan kerja yang sangat keras. Hanya kita sendiri yang mengerti makna bahagia, dan kitalah yang harus mewujudkannya,” katanya ketika ia akhirnya menyelesaikan wawancaranya dengan dewi. Jais, art dealer perempuan pertama di Indonesia, kini sudah berhasil “menaklukkan” kubu-kubu seni di Paris dan New York.

Sebuah meja dengan dua tempat duduk. Rokok. Segelas black coffee dan minuman capriosca adalah teman bercerita yang menyenangkan bersamanya. Suasana cozy dan nyaman di Grand Café, Grand Hyatt Jakarta kian mengalirkan hawa akrab malam itu. Sesekali ia menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Namun memang tak mudah untuk masuk dalam relung hati terdalamnya, terutama bila menyangkut kisah lara yang akhirnya berpengaruh dalam jalan hidupnya. Ia lebih suka bicara tentang hal-hal yang menggembirakan, termasuk keperkasaan saat menaklukkan tantangan. “Hidup sudah sulit jangan lagi dipersulit. Buatlah ringan seperti makan kerupuk,”katanya. Continue Reading »

Anas Urbaningrum

Melebur dalam Peran

Anas Urbaningrum

Kini ia percaya benar bahwa perjalanan hidupnya dipenuhi dengan “invisible hand”

Seandainya saja perilaku seseorang bisa dicerminkan melalui bahasa, barangkali Anas Urbaningrum akan dengan sangat mudah diinterpretasikan. Dia adalah orang yang berbahasa dengan sangat rapi, terstruktur, dan berisi. Setiap kalimat yang diucapkan, lengkap dengan tanda-tanda bacanya, ia katakan dengan sangat baik dalam bahasa lisan – sesuatu yang spontan begitu saja hadir dan mengalir. Tak ada bahasa puitis yang memeluntir sehingga memerlukan energi ekstra, karena setiap kata yang terucap sudah langsung menuju pada maknanya.

Kerapihannya dalam menyusun kalimat dan senantiasa meluncurkan kalimat yang sejuk-kendati untuk mengkritik lawan telah mencuri perhatian banyak pihak belakangan ini. Ia juga disebut-sebut sebagai seseorang di balik kesuksesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di mana ia duduk sebagai salah satu tim suksesnya. Dalam berpolitik, ia selalu terlihat santun, tidak pernah menyakiti pihak lain, pilihan menjawab “serangan” pun dilakukan secara taktis dan diplomatis.  Hal positif inilah yang membuat ia menjadi salah satu politisi muda yang paling menonjol di Indonesia. Continue Reading »

Dewi edisi Juni 2008

Sandiaga Uno

Bersemayam dalam Kesempurnaan

Kedisiplinan dan kesempurnaan dalam segala hal berbanding lurus dengan keliaran imajinasinya

Dialah Sandiaga Salahuddin Uno, salah satu pengusaha muda terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia. Melalui PT Saratoga Investama Sedaya yang membidangi investasi dan penyertaan modal langsung serta PT Recapital Advisor dalam hal sekuritas, ia ikut menggeliatkan situasi infrastruktur dan sumber daya alam Indonesia. Keberhasilan ini dilakukan atas usahanya sendiri, bukan kekayaan turunan alias bisnis keluarga, seperti banyak pengusaha besar di Indonesia.

Kendati demikian, Sandy—begitu ia akrab disapa– bukanlah tipe pengusaha sukses yang berjarak, melainkan hangat, ramah, dan sangat peduli. Barangkali karena ia dilahirkan di lingkungan pendidik. Ayahnya Razif Halik Uno, dikenal dengan Henk Uno, adalah seorang pekerja yang sangat loyal di sebuah perusahaan minyak. Sementara ibunya, Rachmini Rachman, alias Mien Uno memang dikenal sebagai ahli dan pelopor ilmu kepribadian di Indonesia. Continue Reading »

Dewi Edisi April 2008

Mencairkan Gunung Es

Dia tahu apa yang dia mau, dan tahu bagaimana strategi untuk menyalurkan semua keinginannya

Mencairkan Gunung Es

Mencairkan Gunung Es

Ketegangan usai rapat dari kantor, yang katanya cukup melelahkan, seolah menguap begitu saja, ketika Miranda Swaray Goeltom berada di depan kamera. Dia yang selalu terlihat serius di dalam layar televisi -terutama belakangan ini– tiba-tiba muncul dalam sosok yang menyenangkan, penuh canda, dan sedikit kekanak-kanakan. Manja. Lalu berpose, layaknya model profesional, tanpa sungkan atau grogi di depan puluhan orang yang berada di tempat itu. Sepertinya ia sangat menikmati segala proses yang terjadi. Yang pasti, dia tahu persis angle terbaik di mata kamera.

Rasa percaya diri itu memang sangat menguasai dirinya. Seperti ketika ia meluncurkan buku ketiganya, The Indonesian Experience -essays in Macro Economic Policy, di Jakarta, seminggu sebelum pemotretan berlangsung. “Saya puas dengan buku itu,” Miranda menuturkan buku setebal 600 halaman yang dipenuhi dengan data dan informasi detail, tertata rapi, dengan pengantar yang memudahkan orang awam sekalipun memahami pikirannya. “Saya setiap malam memompa semangat untuk membuatnya,” Deputi Senior Bank Indonesia (BI) mengenang kerja kerasnya. Continue Reading »

Sri Mulyani Indrawati

Reformasi Tidak Setengah Hati

Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani Indrawati

”Saya menganggap, saya diangkat bukan karena perempuan”

Di kalangan kabinet persatuan, boleh dibilang nama Sri Mulyani Indrawati cukup menonjol. Selain memegang jabatan cukup menantang sebagai Menteri Keuangan –di mana ia harus mengelola anggaran negara sebanyak Rp.750 trilyun, berhubungan dengan para wajib pajak, eksportir, importir, pelaku bursa saham hingga semua instansi pemerintah—ia juga sedang melakukan reformasi besar-besaran di lingkungan departemennya. Di tengah memburuknya reputasi departemen yang dipimpin, Anik—nama akrabnya– ingin mengembalikan fungsi birokrasi dalam arti yang sesungguhnya sebagai pelayan masyarakat.

Ekonom Moh. Chatib Basri mengomentari seniornya itu sebagai salah satu menteri yang memiliki performa dan kinerja terbaik. ”Saya kira berkaitan dengan karakter Anik yang tegas, perfeksionis, dia pasti akan tegas melakukannya. Dia itu tipe orang yang kalau punya obsesi dan target tidak gampang menyerah,” Chatib menampakkan optimismenya. Dan memang inilah yang diharapkan. Dalam dua tahun terakhir bisa dibilang kerja besar yang dilakukannya telah memberikan sinyal yang lebih baik, lepas itu belum sampai pada target yang diraih: ”menjadikan depkeu selalu setia menjada kepentingan negara Indonesia di tengah globalisasi, dipercaya dan dibanggakan rakyat Indonesia.” Continue Reading »

Cinta Merah

Christine Ay Tjoe

christine ay tjoe

christine ay tjoe

Merah itu luka. Merah itu darah. Tapi merah juga bisa berarti gairah. Kehidupan. Di atas kanvas, ia menyembuhkan seluruh luka dalam hidupnya

Dunia seni rupa Asia Tenggara mengenal benar karya-karya Christine Ay Tjoe (1973). Gaya estetiknya yang khas rupanya mencuri perhatian banyak galeri dan kolektor seni rupa kontemporer. Ia dikenal memiliki sensibilitas estetik yang diolah dari dari perasaan terdalamnya. Karena itu karyanya terasa sangat personal, orisinil, dan sama sekali tak dipengaruhi tren seni rupa terkini. Dia hanya percaya pada dirinya sendiri, sebab kanvas baginya adalah penyembuh luka-luka hidupnya.

Ay Tjoe lahir di Bandung, dari sebuah keluarga sederhana. Di sebuah pemukiman padat, ramai, dan cukup banyak konflik, ia tinggal bersama ketiga saudara kandung, orang tua, dan neneknya dalam sebuah hubungan yang tak hangat, bahkan cenderung dingin dan kaku. Kedua orang tuanya sangat sibuk di toko kelontong miliknya, sehingga Ay Tjoe kecil acapkali merasa tak mendapat perhatian secukupnya. “Kadang saya ingin dipeluk ibu seperti teman-teman lain..,”ia mengingat keinginan yang dipendamnya selama bertahun-tahun dan tak pernah disampaikannya itu.

Continue Reading »

In Memoriam
Mohamad Ali Chanafiah

Tiga tahun lalu, saya menemui mereka. Hari ini, saya sedih karena saya mendengar Pak Ali sudah meninggal.

Ali di antara para eksil di Swedia

Mantan Dubes tanpa Tanah Air
Terbuang akibat G-30-S (1)

MUHAMAD Ali Chanafiah kini berusia lebih dari 90 tahun. Dia tinggal di sebuah flat delapan lantai di Ragsved, 15 kilometer selatan Stockholm, Swedia.Di rumah yang asri itu Ali tinggal bersama anak laki-lakinya dan dua cucunya. Setiap pagi mantan duta besar Indonesia di Sri Lanka itu sendirian di rumah ditemani dua parkit kesayangannya, Tono dan Tina. Anak dan cucunya bekerja atau sekolah. Dua parkit itu menjerit-jerit dalam kandang yang mungil dan bersih jika ada tamu yang berkunjung.Meski sudah sepuh, Ali tetap bersemangat menceriterakan masa lalunya. Continue Reading »

Bakhtiar Abdullah

Petinggi GAM Swedia
Petinggi GAM Swedia

Dunia dalam Genggaman

Bakhtiar Abdullah

 Pengantar:

Tiga tahun lalu saya pernah menjumpai para petinggi GAM Swedia di Swedia. Pertemuan ini terjadi beberapa hari setelah perundingan Helzinky. Artikel ini saya munculkan kembali, setelah banyak teman yang menanyakan soal pertemuan saya dengan para petinggi GAM usai mereka membaca artikel mengenai Danau Laut Tawar yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma di majalah Intisari. Mungkin mereka merasa aneh, bagaimana saya yang kini bekerja di dewi, majalah life style, berurusan dengan GAM :)

 Stockholm, 18 September 2005

 Stockholm begitu cantik di pagi itu. Langit membiru seutuhnya. Beberapa gumpalan awan kecil terlihat menggerombol di satu sisi. Lainnya begitu bening, begitu bersih. Matahari menampakkan sinarnya dengan bahagia. Suasana terasa hangat, meski suhu sudah mulai menurun hingga 12 derajat celcius.

 

Kami berjanji bertemu di lobi hotel Sheraton Stockholm pukul 2 siang. Sebelum waktu menjelang, Bakhtiar Abdullah, juru bicara GAM sudah menampakkan tubuhnya di balik pintu putar Hotel Sheraton. Ia tersenyum dari kejauhan, memberikan kesan persahabatan. Seorang kameramen dari sebuah televise Swedia mengabadikan pertemuan kami. Ia mengulurkan tangannya dengan hangat, mengajak saya untuk menuju mobil Toyota yang diparkir tepat di depan hotel. Continue Reading »

Zaini Abdullah

Berjuang dari Negeri Orang

malik mahmud, rustika, zaini abdullah

malik mahmud, rustika, zaini abdullah

Tak kenal, maka tak sayang. Barangkali pepatah itu begitu merasuk di hati pria pendiam yang kini bermukim di Swedia, Dr Zaini Abdullah, Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saat ia bertemu dengan seseorang yang baru pertama dijumpainya. Bisa jadi sikapnya itu sebagai bagian dari perasaan untuk selalu waspada dalam berinteraksi.  Apalagi sebuah pertemuan dengan seorang wartawan Indonesia.

 

Situasi ini dialami Media saat menjumpainya di kediaman Syarif Usman, Minggu lalu (18/9). Seusai diperkenalkan, Zaini tak banyak bicara, atau melontarkan pertanyaan, seperti yang dilakukan oleh Teungku Malik Mahmud, Perdana Menteri GAM yang hadir dalam kesempatan itu. Meski demikian, dalam beberapa kesempatan, Zaini terlihat mencuri pandang. Matanya menatap tajam, mungkin ia tengah menafsirkan tetamu yang datang padanya di siang hari cerah itu. Ia tampak diam menunggu, dibandingkan dengan melontarkan satu pernyataan dari mulutnya. Continue Reading »

Malik Mahmud

Mengembalikan Kejayaan Budaya Aceh 

malik mahmud

malik mahmud

Mengenal Malik Mahmud, bukanlah hal yang mudah. Kesan pertama yang timbul saat bertemu Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, ia adalah orang yang tegas, agak kaku, dan penuh pertimbangan. Setiap kata-kata yang akan diluncurkan, dipikirkan dengan dalam. Beberapa hal yang sangat sensitive, seperti soal Aceh, ia terlihat sangat hati-hati dalam memberikan statement.

 

Beberapa kali dalam wawancara awal dengan Media, ia tampak sedikit tegang.

“Saya harus berhati-hati, karena masalah Aceh masih sangat sensitive. Sedikit perbedaan persepsi, akan menimbulkan dampak yang sangat besar,” jelasnya. Tangan kirinya  berkali-kali mengusap-usap dahinya yang sudah mulai mengerut , sementara tangan kanannya memain-mainkan digital recorder mini milik Media yang terletak di dekat tangan kirinya. Continue Reading »

suasana ruang penjara sukamiskin

suasana ruang penjara sukamiskin

di dalam ruang penjara

di dalam ruang penjara

 

Huzrin dan Tengku Lampo Awe, petinggi GAM

Huzrin dan Tengku Lampo Awe, petinggi GAM

huzrin di depan penjara sukamiskin

Catatan dari Sukamiskin

 

Hidup ini tak bisa ditebak. Berlapis kabut tipis yang seringkali menjebak. Ada yang lubang jebakannya dalam tak berdasar, ada pula yang hanya pendek tak berarti. Kadangkala hidup ini seakan hambar tak beragam, tanpa rasa, tanpa selera. Terkadang terasa susah, rumit bagai jalan berkelok-kelok dengan seribu rintangan. (Leo Tolstoy, Setelah Pesta Dansa).

 

Begitulah kehidupan, manusia harus selalu bisa mengambil hikmah dari setiap “realita” yang dialami. Seperti halnya Huzrin Hood.  Mantan orang nomor satu di Kabupaten Kepulauan Riau dan pejuang pembentukan provinsi Kepulauan Riau ini harus berhadapan dengan kenyataan baru. Dipenjara, atas tuduhan penyalahgunaan APBD. Continue Reading »

para eksil di swedia

para eksil di swedia

 Surat Pembaca

(surat yang akhirnya tak pernah terpublikasi di Media Indonesia. entah kenapa…..)

 

 Saya seorang Warganegara Indonesia yang sejak tahun 1974 telah bermukim di Stockholm, Swedia dan sekarang bekerja pada jenjang manajer di salah satu perusahaan teknologi informasi Swedia.

Saya memperhatikan dan membaca dengan seksama melalui Media Indonesia On-Line (via Internet) pada edisi 30 September, 1 Oktober dan 9 Oktober yang lalu mengenai reportase tentang orang-orang (asal) Indonesia yang terhalang pulang karena masalah perbedaan pandang politik di zaman Orde Baru dahulu . Continue Reading »

Cerita Rajah

Marcell Siahaan

marcell siahaan

marcell siahaan

Rajah di tubuhnya bukanlah sebuah tujuan, melainkan petualangan dan juga eksplorasi kehidupan

Separuh tubuh padat dan bertato tribal hanya pada bagian kiri itu ternyata milik Marcell Siahaan (33). Bayangan penyanyi urban pop yang melejit dengan lagu Semusim: penampilan kalem, berjas rapi, rambut ikalnya yang khas, tiba-tiba berkelebat. Marcell, rupanya sudah banyak berubah kini. Rambutnya dipotong cepak, tubuhnya lebih kurus dan macho dalam balutan kaos ketat dan celana gombrong. Penampilan ini barangkali disesuaikan dengan aktivitas barunya: sebagai penabuh drum, arranger, sekaligus produser di grup musik Kraken dan Super yang dibentuknya, serta olah raga Tai Chi dan Brazilian Jiu Jitsu.

“Minggu lalu, Dewi launching buku di sini,” Marcell membuka percakapan, sekaligus memberikan alasan mengapa memilih restoran baru di komplek Mega Kuningan ini sebagai tempat pemotretan. Dewi yang disebut barusan adalah nama mantan istrinya, Dewi Lestari, yang baru saja meluncurkan buku terbarunya Rectoverso. Pernyataan spontan ini sepertinya membuka kesadaran bahwa perpisahan itu tidak menyisakan pertikaian di antara keduanya. Continue Reading »

Obin

Obin,

Perempuan Anomali dari Jalan Kopi

 

Obin (Josephine Komara)

Obin (Josephine Komara)

Dia adalah perempuan dari masa lalu, di masa kini, untuk masa depan Indonesia

 

Josephine Werratie Komara alias Obin tak pernah mau bercerita tentang dirinya sendiri. Maka artikel ini merupakan hasil wawancara dari lebih dari 13 orang. Diantaranya August Parengkuan, Melly Budiman, John Suryaatmadja, Inet Leimena, Erlangga Komara, Ronny Siswadi, Karlina Supelli, Bondan Winarno, Maria, Wita, dan masih banyak lagi. Obin sesekali memberikan komentar atas berbagai pandangan mereka atas dirinya. “Masak gue yang harus cerita tentang diriku sendiri.. Biar mereka saja bicara tentang gue….,”katanya.

 

***

 

Gadis kecil itu terpaku di depan sebuah ember. Tubuhnya membungkuk, matanya tertumbuk pada gerakan air yang yang berputar di dalamnya. Dia mengamati dengan seksama bagaimana cairan putih pembersih lantai itu berputar, berputar, lantas meluruh bersama air bersih.  Ia lupa –tepatnya tidak peduli–  dengan segala hal yang ada di sekelilingnya saat itu. Lalu imajinasinya tumbuh, membayangkan dirinya sebagai cairan putih pembersih lantai yang meluruh bersama air.  Continue Reading »

Yohan Handoyo

Puisi dalam Segelas Wine

Yohan Handoyo

Yohan Handoyo

Bila wine adalah segelas puisi, maka ia telah menciptakan ribuan puisi dari tangannya.

Di balik meja bar, Yohan Handoyo menyiapkan  tiga gelas minuman. Warnanya coklat keemasan, cantik, dengan hiasan di pinggiran gelas. Hazelnut Martini, namanya. Rasanya manis, aromanya wangi, dan istimewanya, tetap meninggalkan rasa manis dan wangi itu di bibir. Dalam hitungan menit, suasana perjumpaan menjadi  lebih rileks. Perbincangan mengalir lancar. Pemandangan senja restoran Segara, Ancol, terasa lebih indah dibanding sebelumnya. Tak tahu apakah karena pantulan cahaya matahari keemasan yang jatuh di pantai, atau karena efek minuman yang Anda boleh merasakannya sendiri.

“Kamu tak bakal mendapatkan minuman itu dimanapun. Never. Never!,” tegasnya dalam aksen Jawa Timuran yang kental. Ia rupanya baru saja menemukan satu racikan minuman baru, hasil perpaduan Martini dengan minuman lain, yang memunculkan aroma dan rasa kacang di dalamnya. Hazelnut Martini adalah minuman ke-8, dari 10 macam yang dihidangkan pada kami sore itu, melengkapi Udang Tequila, Strawberry Baileys, Oyster Vodka, serta macam-macam jenis white dan red wine dengan aroma buah-buahan. Continue Reading »

Di Balik Senyum

Poppy Dharsono

Poppy Dharsono

Poppy Dharsono

Samudera yang tenang biasanya menyembunyikan palung-palung yang dalamnya tak terkirakan

Sepanjang tiga puluh satu tahun berkecimpung dalam dunia fashion Indonesia, tak banyak yang berubah dalam penampilan sosok Poppy Susanti Dharsono. Senyum, gaya berdandan, citranya, hampir konsisten selama itu. Hidupnya seperti konstan meskipun banyak berita mewarnainya. Ia begitu pandai menyimpan semua hal, menyakitkan dan membahagiakan, dalam dalam laci-laci yang rapi, dan terus menjalani kehidupan dalam balutan citra keanggunan dan senyuman yang selalu menyembul di balik kacamata kesayangannya.

Ia adalah seorang pelaku sejarah yang menggerakkan roda industri fashion di Indonesia. Bekal pendidikan dari sekolah model dan fashion di Paris dengan segera memberikan darah segar bagi perkembangan fashion yang masa tahun 70-an masih didominasi oleh para dress maker seperti Prayudi dan Peter Sie. Ia pula yang meletakkan landasan fashion sebagai industri dengan mengenalkan konsep ready to wear. Tiga puluh satu tahun sudah ia memulai usahanya, dan hingga kini nama dan usahanya terus melaju bersama waktu. Continue Reading »

Komunikator Mencari Cinta

Komentator politik lulusan Cornel yang mantan juara lawak ini memiliki pandangan-pandangan yang tajam, cerdas dan tentu lucu. Namun mengapa pelopor parodi politik di Indonesia ini tak segera melabuhkan hatinya?

Effendi Gazali adalah sosok pria dalam dua sisi yang berlawanan. Dalam banyak kesempatan, ia terlihat sangat terbuka. Tak pelit bicara. Mudah ditemui di mana saja. Mungkin karena ia seorang pakar komunikasi politik yang sudah jadi selebritas televisi.

Tapi bila diajak pertemuan untuk sebuah wawancara profil pribadinya, pria yang usianya awal 40′an itu tiba-tiba berubah bentuk menjadi belut. Licin dan susah ditangkap.

“Saya ini paling tidak suka diwawancara soal pribadi,” ungkap Effendi yang mengaku telah menolak puluhan media massa yang ingin mewawancarai kehidupan pribadinya. “Biar saja masyarakat menilai saya, Biar saja mereka dengan imajinasinya tentang saya. Itu lebih menyenangkan.” Continue Reading »

Andra Matin

Bergelut antara Proporsi dan Komposisi

Andra Matin

Andra Matin

Dimatanya, wanita dan bangunan harus memiliki keseimbangan dan “taste” yang tinggi

Boleh jadi Andra Matin sudah menjadi selebritas kini. Namanya begitu ramai dibincangkan. Tak hanya dalam dunia arsitektur Indonesia yang telah membesarkan namanya, tapi juga di kalangan sosialita yang telah memakai jasanya.

Akhir tahun lalu, arsitek lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini berhasil menyabet 3 piala dari 7 penghargaan yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). Satu penghargaan diantaranya merupakan kerjasamanya dengan arsitek Anthoni Liu. Prestasi ini jelas merupakan barang langka dalam sejarah arsitek Indonesia, dimana seorang arsitek, muda pula, bisa meraih lebih dari satu penghargaan dari satu-satunya organisasi profesi di Indonesia. Continue Reading »

Dewi Lestari

Menapak Jalan Tanpa Peta

dewi lestari

dewi lestari

Mengungkap kejatidirian adalah hal terpenting dalam kehidupannya kini

Dewi Lestari masih saja disibukkan oleh diskusi buku terakhirnya, Rectoverso, ketika akhirnya ia menyanggupi untuk bisa diwawancara oleh dewi. Tentu saja dalam waktu yang sangat singkat, karena jadwal acaranya sangat padat menjelang akhir tahun 2008 lalu. Sementara itu, salah satu lagu ciptaannya yang berjudul Malaikat Juga Tahu, diambil dari album yang sama dengan buku barunya itu, juga sedang diputar dimana-mana. Ini juga membuat jadwal manggungnya ketat. Bisa dibilang, ia menuai sukses besar dengan percobaan yang dilakukannya kali ini: menggabungkan antara kumpulan cerita pendek dan lagu.

“Terus terang, aku nyaman dengan format ini. Tapi aku tak mau memastikan apakah mau melanjutkan atau tidak. Akan jadi beban bila harus memastikan,”katanya terbuka. Ia rupanya tak mau diganggu dengan berbagai hal yang kiranya akan mengganggu konsentrasinya tahun ini: melanjutkan Supernova, novel yang melambungkan namanya hingga kini, setelah empat tahun tertunda. “Itu adalah pertanyaan yang paling membuat aku stress. Sebenarnya jawabannya simpel, belum waktunya. Karena satu karya lahir butuh proses pematangan. Seperti bayi, bila belum saatnya ia akan menjadi prematur. Dan kurasa, sekarang ini saat memikirkannya,” kisah Dewi yang biasa dipanggil dengan nama kesayangannya: Dee. Continue Reading »

Ugo Untoro

Petualang Kehidupan

ugo untoro

ugo untoro

Bagi Ugo, seni tidak hanya diukir di atas kanvas atau obyek, tapi juga di hati, perasaan dan kehidupannya

Satu halaman buku saja tidak akan pernah cukup untuk menuliskan Ugo Untoro. Seniman eksentrik yang kini bermukim di Yogyakarta ini memang menarik dikupas dari berbagai sisi. Dari penampilan hingga karya seni yang dilahirkan seolah menunculkan petanda-petanda yang bebas diinterpretasikan oleh siapapun. Itu sebabnya penulis, sastrawan yang juga sahabat Ugo, Omi Intan Naomi sanggup menghabiskan 483 halaman untuk membukukan kisahnya: The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter (17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006). Buku yang dibuat dalam waktu sepuluh hari itu diluncurkan Desember lalu di Jakarta.

Seorang seniman kontemporer Indonesia yang namanya terus menanjak -sayang dia enggan disebut namanya-mengakui bahwa Ugo adalah sosok legenda dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia yang sangat total dalam berkarya. Ugo-lah yang membawa gaya corat-coret di atas kanvas sejak 15 tahun lalu, yang kini baru disadari, seperti dikatakan kurator Hendro Wiyanto, bahwa apa yang dilakukan itu dimaksudkan untuk “menghancurkan” gaya (seni lukis) di akademi seni rupa Yogyakarta yang sarat berpegang pada mutu keastistikan sapuan kuas dan garis. Tiga penghargaan bergengsi dalam dunia seni, Philip Morris Award sempat direbutnya pada tahun 1994, 1998, dan kemudian memenangkan 5 Best Asia Philip Morris Award di Hanoi, Vietnam. Ia juga ditasbihkan menjadi Tokoh Seni Rupa Tahun 2007 versi Majalah Tempo. Continue Reading »

Eko Supriyanto

Tarian Kehidupan

eko supriyanto

eko supriyanto

Waktu kecil dianggap sebagai kerikil.  Kini dia telah tumbuh dan bermetamorfosa menjadi intan yang siap diasah…

Eko Supriyanto mulai menari ketika kabut mulai turun di Candi Sukuh. Tubuhnya terhanyut dalam gerakan yang ia rasakan ketika bersentuhan dengan alam, udara dingin, pepohonan, serta relief candi yang bertutur tentang kejadian manusia. Musiknya: desir angin dan jepretan kamera. Bangunan candi yang berupa kerucut terpotong, pohon-pohon dan langit berkabut menjadi latarnya. Ia bergerak seolah merayap seperti kura-kura lalu bergerak terbang ke udara seperti burung garuda. Kata-kata Eko sebelum menginjak bangunan candi bahwa ia menemukan kesadaran kepenariannya di sini kembali terngiang. Mungkin hal itu yang membuatnya trance ketika menari.

“Candi ini bercerita tentang pertemuan antara Ibu Bumi, yang disimbolkan oleh kura-kura, dan Bapak Angkasa yang disimbolkan oleh garuda. Tapi buatku, ini berarti bahwa kita harus meraih cakrawala, tapi harus tetap kembali ke bumi,”tuturnya tentang tarian yang baru saja diperagakan. Pernyataan ini sepertinya sangat cocok dengan dirinya yang kini tercatat sebagai penari, koreografer serta pemilik studio tari “Solo Dance Studio” yang disegani di dunia tari internasional. Meski memiliki latar belakang tradisi asal Jawa, namun ia begitu terbuka dalam menyerap berbagai khasanah dalam lingkungan global sehingga kehadirannya diperhitungkan dalam panggung kolaborasi internasional. Continue Reading »

Djenar Maesa Ayu

Kepompong Kenyamanan

djenar maesa ayu

djenar maesa ayu

Kendati karyanya penuh pendobrakan, dalam keseharian ia ádalah orang yang enggan dengan perubahan

Djenar Maesa Ayu (36)  dalam keseharian adalah seorang ibu muda, beranak dua, berdaster batik ria saat di rumah, memasak, membersihkan rumah berlantai tiga dan mengurus anak-anaknya. Sendirian. Tidak ada pembantu, meski tinggal di rumah gedongan pinggiran Jakarta Barat. “Saat seperti inilah saya merasa “kaya”. Tanpa pembantu, saya bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu,” kata Djenar sambil menatap mesra wajah anak bungsunya, Bidari Maharani (8) yang terlelap di atas pangkuannya. Sulungnya, Banyu Bening (17), baru saja pamit untuk nonton basket dengan pacarnya, berbekal nasi dengan ayam goreng yang disiapkan Djenar sebelumnya. Inilah gambar suasana di rumah Djenar ketika dewi bertandang ke rumahnya sehari itu.

Di luar sana, eforia belum saja usai. Film perdananya “Mereka Bilang, Saya Monyet!” meraih prestasi sebagai film terbaik versi Majalah Tempo, juga mengukuhkannya sebagai tokoh seni 2008. Film yang diangkat dari judul buku kumpulan cerpen pertamanya ini sekaligus membuka kiprahnya di berbagai festival film internasional seperti Berlin Asian Hot Shots Film Festival  dan Singapore Film Festival. Keberhasilan ini seolah melanjutkan berbagai prestasi yang diperoleh dari kumpulan cerpen dan novelnya yang lain, seperti “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), “Nayla”, “Cerita Pendek tentang Cerita Pendek”, yang berhasil meraih penghargaan dari Khatulistiwa Literary Award. Karya-karyanya banyak dibicarakan karena keberaniannya dalam menyuarakan problem seksualitas dalam diri manusia.

Dua belas tahun lalu, sebelum ia memiliki hasrat untuk menulis, ia tak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. Continue Reading »

Dna Kehidupan

Herawati Sudoyo

Ia percaya kebahagiaan bisa diraih bila diperjuangkan dengan ketangguhan

herawati sudoyo

herawati sudoyo

Dr. Herawati Sudoyo, Ph.D. adalah penganalisa dna forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta, Indonesia. Lahir tanggal 2 November 1951. Teman-temannya mengenal ia sebagai ilmuwan yang amat cermat dan teliti, kendati selalu berusaha tampil modis. Meski dibesarkan dalam keluarga tentara, hubungannya dengan Kepolisian Republik Indonesia berjalan amat mesra. Ia pernah mendapatkan Wing Kehormatan Kedokteran Kepolisian (2007), penghargaan Habibi Award untuk kemajuan ilmu kedokteran dan bioteknologi dan Australia Alumni Award for Scientific and Research Innovation (2008). Ketika bom meledak di Bali dan kemudian di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dalam waktu 13 hari, ia berhasil mengenali pelaku melalaui metode analisis forensik dari DNA mitokondria.

Kisah di atas bukanlah sebuah pengenalan nama tokoh seperti yang ada dalam film dan serial televisi CBS, Amerika, Crime Scene Investigation (CSI) yang memenangkan Penghargaan Emmy. Herawati, adalah sebuah nama nyata di Indonesia, yang dalam pekerjaannya melakukan aktivitas serupa kelompok tim forensik Las Vegas dalam menguak sebuah misteri, kematian tak wajar, dan kejahatan lainnya. Termasuk bom bunuh diri. “Berbeda dengan kasus pengeboman di Amerika dimana para pengebom mengaku bertanggung jawab, di Indonesia tidak pernah ada. Akhirnya kami bisa temukan pelakunya dari metode DNA forensik. Ini seperti pekerjaan yang sangat menantang. Seperti CSI,”katanya gembira. Continue Reading »

Ridwan Kamil

Negosiasi Kehidupan

Ridwan Kamil

Ridwan Kamil

Nilai-nilai hidupnya banyak lahir dari tekanan. Dan akhirnya, nilai itulah yang ia jadikan cara bernegosiasi dengan kehidupan.

Mochamad Ridwan Kamil menuliskan dirinya sebagai seorang pemimpi dan pecinta kota. Arsitek, urban designer, penulis dan dosen ini adalah pendiri Urbane, sebuah jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain terkemuka di Indonesia dan manca negara. Meski berpusat di Bandung, karya-karya Urbane bertebaran di Singapura, Bangkok, Bahrain, Beijing, Vietnam dan tentu saja Indonesia. Umumnya proyek ini berupa pengembangan kawasan perkotaan seluas 10-1000 ha, atau disebut sebagai mega proyek.

Salah satu proyek yang dikerjakannya kini adalah Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum di Kuningan Jakarta. Ia menggarap 12 hektar dari total kawasan 50 hektar, termasuk diantaranya Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, ritel, dan waterfront. Di luar itu, ia adalah Ketua Bandung Creative City Forum (BFCC), sebuah komunitas kreatif yang ingin menjadikan Bandung sebagai kota terindah nomor lima di dunia dalam lima tahun mendatang. Continue Reading »

Gadis Arivia

Kata Hati

Gadis Arivia

gadis arivia

gadis arivia

Strategi bermain cantik -seperti penampilannya- itulah cara dia memerjuangkan persoalan perempuan di Indonesia

“Selebriti” itu bernama Gadis Arivia Effendi. Dia baru saja datang dari Amerika, untuk mampir sebentar di Indonesia, meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya: Yang Sakral dan Yang Sekuler. Ditemui di Yayasan Jurnal Perempuan, lembaga swadaya masyarakat bentukannya, ia tampak sibuk menemui dengan rombongan kawan-kawannya sesama aktivis yang datang silih berganti hingga malam hari. Mereka berdiskusi, melepas kerinduan untuk bercerita, lalu diakhiri dengan foto bersama. Suasana begitu cair dan akrab. Gadis sendiri tampak menikmati suasana itu. Continue Reading »

Rinny Noor

Di Balik Panggung

rinny noor

rinny noor

Di balik gemerlap panggung musik, ada kesederhanaan ia dalam membuat semua mimpi artis menjadi nyata

“Dia menunjukkan padaku sebuah peta dunia dan membukanya di atas meja. Lalu ia bertanya, ‘Nah, Rinny, sekarang tunjukkan padaku, di mana letak Indonesia.’”

Rinny Noor tersenyum. Sebuah kenangan indah bersama Bill Graham kembali mengusik pikirannya. Alunan musik terompet dan hawa dingin yang merasuki ruang privat Restoran Seribu Rasa, Jakarta, kian menghanyutkannya. Ia menikmati suasana itu, bersamaan dengan kepulan asap rokoknya yang terus menerus dihisapnya, mengenang sebuah kisah sangat berkesan ketika menginjakkan kakinya di kantor Bill di San Fransisco, 22 tahun lalu. Bill adalah legenda promotor tur musik rock dunia yang pernah membawa Santana dan Rolling Stone dari Eropa menuju Amerika. Pertemuan bersejarah itu tak hanya membuat mimpi bertemu sang idola menjadi nyata, namun juga mengarahkan biduk kehidupannya di kemudian hari menjadi seorang promotor musik yang sukses. Continue Reading »

Zahir Ali

Menembus Batas

zahir ali

Ia membutuhkan kelembutan seorang ibu untuk meneduhkan sisi-sisi liar yang lahir dari bakat seorang pembalap.

Dunia balap seolah mendapat energi baru dari Zahir Ali. Kemunculannya yang tiba-tiba seolah seperti mata air yang memberi kesegaran. Berbeda dengan banyak pembalap selebritas yang glamornya lebih terasa dibanding prestasinya, ia banyak memberi harapan. Setelah menorehkan prestasi nama Indonesia di Formula BMW Asia 2007 lalu, ia terus menjajal berbagai tantangan baru. Banyak catatan kemenangan dan poin positif diperolehnya dalam dua tahun terakhir secara fantastis. Continue Reading »

Takashi Murakami, Passion for Creation

Takashi Murakami, Passion for Creation

Tuhan kadang memiliki rahasianya sendiri pada diri manusia. Kejadian yang kualami adalah merupakan dari kisah itu. Entah bagaimana muasalnya, aku merasa, sekali lagi aku merasa, pernah mendapatkan sebuah surat undangan yang berisi bahwa aku akan menuju ke Hong Kong untuk datang di sebuah acara di mana aku ada kesempatan untuk mewawancarai Takashi Murakami dan Frank Gehry. Sepulang dari Perth, tak ada pikiran lain kecuali melakukan riset habis-habisan untuk bisa bertemu dengan dua seniman besar dunia itu. Continue Reading »

Hikmah di Balik Musibah

Di mana bayi-bayi Haris selama dua puluh tahun lamanya? Rupanya masih tertinggal di dalam pikirannya.

Haris Purnomo

Haris Purnomo

Lukisan Haris Purnomo hilang! Itulah kabar yang beredar di saat pembukaan pameran seni akbar Miami Biennalle beberapa waktu lalu. Booth miliknya terlihat sunyi dibandingkan dengan kemeriahan pameran karya seniman-seniman pilihan yang datang dari seluruh penjuru dunia. Hanya ada tiga buah karya tiga dimensi berupa bayi yang dibedong dan diletakkan di sudut dinding putih bersih memberi kehidupan di sana, selain sebuah tulisan yang dibuat dari kapur berwarna. Bunyinya:

Where is my baby,

DHL Lost My Paintings? Continue Reading »

“Rumah Idaman”

anies baswedan

anies baswedan

Keberhasilannya selama ini barangkali datang dari sudut pandang yang penuh optimisme terhadap segala hal tentang kehidupan

Di antara 100 intelektual dunia versi jurnal Foreign Policy (Amerika Serikat) 2008, terdapat nama Anies Baswedan. Pria 40 tahun yang dikenal sebagai peneliti dan kini menjadi Rektor di Universitas Paramadina, Jakarta, tercatat bersama nama-nama besar intelektual penting dunia seperti Samuel Huntington, Francis Fukuyama, dan Thomas Friedman. Prestasi ini tak berhenti sampai di situ. Awal tahun, ia dikukuhkan sebagai Young Global Leaders 2009 oleh World Economic Forum yang berpusat di Jenewa.

Kebesaran namanya tidak lantas membuatnya arogan. Hal itu sangat terasakan saat menemui Anies dalam beberapa kesempatan di tengah padatnya agenda. Sebaliknya, ia sangat rendah hati dan santun. Wawasannya yang luas ditambah ilmu retoriknya yang luar biasa membuat suasana wawancara terasa seperti bapak yang bercerita untuk anaknya. Senyum dan tawa renyahnya banyak mewarnai. Saat ditemui di kampus, ia mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan celana panjang hitam, yang rupanya seragam dengan beberapa stafnya, ia tampak begitu bersahaja. Continue Reading »

Aktivis LSM Bersepatu Boot

yuyun ismawati

yuyun ismawati

Ia ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan. Kendati untuk itu ia harus berbenturan dengan segala persoalan yang sepertinya tak bisa diselesaikan

Apa lagi kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Yuyun Ismawati kecuali sifat pemberontaknya yang sangat menonjol? Ibu tunggal dengan dua anak perempuan ini  memang benar-benar memberontak dengan segala sistim yang ada dan mencoba menciptakan tatanan tersendiri yang menyangkut sampah dan sanitasi –sesuatu yang pasti tak berbau wangi dan selalu dijauhi. Sebaliknya, ia memikirkan, menggalang, dan melata bersama komunitas masyarakat pengguna sampah sehingga sampah menjadi benda yang berharga sebelum akhirnya dibuang. Atas dasar itulah ia mendapatkan penghargaan Goldman Prize Award 2009, atau yang sering disebut nobel dalam bidang lingkungan. Continue Reading »

Bulan di balik Awan Hitam

Gede Mahendra Yasa

Gede Mahendra Yasa

Ia berdayakan seluruh kelemahan dan penderitaan selama bertahun-tahun menjadi sebuah kekuatan dalam menata hidup dan masa depan.

Di akhir senja,  Gede Mahendra Yasa bisa bercerita tentang dirinya. Formalitas yang tampak di jam-jam pertama pertemuan tak lagi ada. Seniman Bali yang baru saja meraih penghargaan Award of Mapping Asia di CIGE 2009 ini rupanya memerlukan waktu yang khusus untuk memanggil mood-nya. Di atas balkon SigiArt, menghadap keramaian kota, dan matahari jatuh di kejauhan, ia  “membawa” dewi menuju rumah-rumah masa lalunya nun jauh di sana, di Singaraja.

“Singaraja adalah Bali Utara,” Hendra, nama akrabnya, membuka pertemuan dengan perbincangan serius. Wilayah ini memiliki tradisi sedikit berbeda dibandingkan dengan Bali Selatan yang masih ketat memegang adat – tempat banyak seniman asal Bali yang namanya kini menanjak dalam percaturan seni rupa Asia Tenggara. Karena terletak di pesisiran, pernah menjadi ibu kota propinsi di masa pendudukan Belanda, kehidupan masyarakatnya jauh lebih dinamis. Apalagi ia dilahirkan dari keluarga berkecukupan dan tinggal di wilayah perkotaan. Ayahnya seorang dokter. Hubungan dengan tradisi Bali pun relatif longgar karenanya. “Boleh dibilang Bali abangan. Perkenalanku dengan wayang justru dari RA Kosasih.” Continue Reading »

Sandiaga Uno (2)

3 Pria Pilihan

sandiaga uno

sandiaga uno

Kualitas seorang pria sebaiknya dilihat dari apa yang dia berikan dan bukan apa yang ia mampu berikan. Pernyataan Albert Einstein ini seolah memberikan jawaban mengapa kami memilih 5 pria terbaik pilihan dewi. Mereka adalah para pria yang sukses di jalurnya, berbahagia, mencintai profesinya sebanding dengan kehidupannya. Kami percaya, pria yang baik adalah sahabat dalam kehidupan. Continue Reading »

Fauzi Ichsan (39)

Meraih Makna Cinta

fauzi ichsan

fauzi ichsan

Takdir telah membawanya menjadi VP Senior Head of Government Relations and Economist Standart Chartered Bank pada usianya yang relatif muda. Jika tidak, seperti yang dikatakannya, mungkin ia akan menjadi seniman, seperti yang pernah dicita-citakan. Maka ketika dewasa, putra tunggal Poppy Darsono dan Firman Ichsan ini merasa bahwa perpisahan keduanya pada usia yang masih belia – yang membuat ia dengan suka cita dikirim ke sekolah asrama di Inggris dari usia 12 tahun- telah membentangkan jalan hidupnya kini. “Walaupun dulu rasanya sedih sekali, tapi kini saya merasa bahwa selalu alasan di balik sebuah peristiwa.” Continue Reading »

Kado Cinta untuk Bapak

yenny wahid

yenny wahid

Kali ini, biarkan dia bercerita tentang diri dan kesehariannya di luar sorot kamera

“Ah.. Kau pasti hanya tahu hidupku bergelimang nikmat. Padahal jauh dari itu, hidupku adalah sebuah perjuangan panjang yang teramat berat.” Perempuan berambut sebahu itu lalu tertawa.  Wajahnya tampak senang, meski ia baru saja mengucapkan sesuatu yang terasa getir. Tapi itulah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, sosok perempuan berdaya yang selalu disapa dengan nama Yenny Wahid. Siang itu, ia mengenakan terusan putih tanpa lengan yang dipadu dengan kardigan warna hitam, senada dengan boot panjangnya. Rambutnya dibiarkan tergerai  dengan bando mutiara berpita hitam. Tahi lalat di atas hidung yang menjadi ciri khasnya kini sudah dihilangkan. Wajahnya bersih dan berseri-seri. “Kaget ya.. inilah penampilan sehari-hariku,”ujarnya memberi senyuman. Continue Reading »

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

singgih kartono susilo

singgih kartono susilo saat wawancara berlangsung

Totalitas, keras kepala, konsisten, dan penuh daya hidup dalam menjalani pilihan adalah sebagian dari rahasia kesuksesannya

Di sebuah desa yang sunyi, jauh dari keramaian kota metropolitan, salah satu produk termewah 2008 versi majalah Time diproduksi. Produk bernama Radio Kayu Magno yang kini menjadi kegemaran baru di pasar Amerika, Jepang, dan Eropa itu justru dibincangkan karena kesederhanaan yang ditawarkan.

Singgih Susilo Kartono adalah nama di balik seluruh kerja besar ini. Ia adalah desainer produk yang memusatkan segala aktivitas bisnisnya dari desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Terbuai dalam alam pedesaan masa kecil, tinggal di atas tanah orang tua yang sejak dulu diimpikan, ia mengajak masyarakat setempat untuk bekerja di workshop sederhana yang berpemandangan alam pedesaan, pesawahan, pepohonan bambu, bermusik desau angin, dan suara anak-anak bermain sepakbola kertas.

Tahun lalu, ia menduduki posisi 6 dari 276 nominator People Design Award, Cooper-Hewitt National Design Museum New York, Amerika Serikat. Prestasi ini berlanjut di Jepang ketika membawa penghargaan Good Design Award – Japan 2008, sementara ia baru saja meraih Grand Award “Design for Asia Award” 2008 by Hong Kong Design Center. Tahun 2009, ia “menaklukkan” Eropa dengan membawa pulang penghargaan Design Plus Award – Ambiente Frankfurt Germany 2009, serta Brit Insurance Design of the Year 2009, Design Museum, London.  Prestasi luar biasa ini ternyata tetap disikapi rendah hati oleh Singgih – seperti yang dirasakan dewi ketika mengunjungi workshopnya beberapa waktu lalu. Continue Reading »

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

singgih susilo kartono

singgih susilo kartono

Totalitas, keras kepala, konsisten, dan penuh daya hidup dalam menjalani pilihan adalah sebagian dari rahasia kesuksesannya

Di sebuah desa yang sunyi, jauh dari gemerlap kota metropolitan, salah satu produk termewah 2008 versi majalah Time diproduksi. Produk bernama Radio Kayu Magno yang kini menjadi kegemaran baru di pasar Amerika, Jepang, dan Eropa itu justru dibincangkan karena kesederhanaan yang ditawarkan. Di balik semua keberhasilan ini, tersebut nama Singgih Susilo Kartono yang memusatkan seluruh aktivitas bisnisnya di desa Kandangan, kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Dari tempat ini pula ia meraih prestasi desain tingkat internasional. Tahun lalu, ia menduduki posisi 6 dari 276 nominator People Design Award, Cooper-Hewitt National Design Museum New York, Amerika Serikat. Di Asia, ia membawa pulang penghargaan Good Design Award – Japan 2008 dan Grand Award “Design for Asia Award” 2008 dari Hong Kong Design Center. Sementara tahun ini, ia “menaklukkan” Eropa melalui Design Plus Award – Ambiente Frankfurt Germany 2009, serta Brit Insurance Design of the Year 2009, Design Museum, London. Prestasi luar biasa ini ternyata tetap disikapi rendah hati oleh Singgih seperti dirasakan dewi ketika mengunjungi workshopnya beberapa waktu lalu. Continue Reading »

Yenny Wahid (2)

Un-edited!

Kali ini, ia bicara tentang perjalanan panjang hidupnya yang tak pernah tersentuh oleh sorot kamera

Ah.. Kau pasti hanya tahu hidupku bergelimang nikmat. Padahal jauh dari itu, hidupku adalah sebuah perjuangan panjang yang teramat berat.

Perempuan berambut sebahu itu lalu tertawa.  Wajahnya tampak senang, meski ia baru saja mengucapkan sesuatu yang terasa getir. Tapi itulah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, sosok perempuan berdaya yang selalu disapa dengan nama Yenny Wahid. Sepanjang wawancara, ia begitu riang, hangat, ramah dan menyenangkan kendati beberapa waktu lalu ia dikeluarkan dari partai yang dibuatnya. Continue Reading »

Older Posts »